Ayu Galuh Anggraini

Halal Restaurant Week 2016: Barugongyang Gosang (고상)

In Halal in Korea, kuliner, Seoul - Korea, WOW Korea Supporter Indonesia on November 24, 2016 at 12:08 pm

Ini adalah restoran yang pertama kali kami kunjungi di Seoul dalam event ini. Letaknya masih di jantung kota Seoul, namun terletak di lantai B2 sebuah gedung perkantoran. Jadi menurut guide kami, lantai atas dari bangunan tersebut adalah perkantoram sedangkan lantai bawahnya yaitu area B1 dan B2 adalah area restoran yang kalau saya lihat sekilas, lebih banyak resto yang menyajikan menu tradisional Korea.

“Korean food therapy Gosan” begitulah yang terpampang di depan, dekat pintu masuknya. Mudah mengenalinya karena ada juga terpampang tanda “halal restaurant week”-nya. Sekilas restaurantnya begitu sepi dan menenangkan, sama seperti kalau kita masuk ke kuil. Ya, mungkin karena sebenarnya, konsep dasar dari makanan-makanan yang tersaji disini adalah makanan yang dimakan oleh para biksu atau temple food atau dalam bahasa Koreanya disebut sebagai 사찰음식 (sachal eumsik). Dulu, menu makanan ini hanya tersaji untuk para biksu dan orang-orang yang memang dengan sengaja datang dan menginap di kuil. Tetapi belakangan ini, karena alasan kesehatan, jenis makanan ini begitu populer di kalangan masyarakat Korea secara umum.

20161113_115632

Istimewanya dari temple food ini adalah bahwa makanan-makanan yang tersaji disini tidak hanya berkonsep vegetarian saja, tetapi ada pantangan-pantangan lain juga yaitu tidak menggunakan lima jenis tumbuhan (untuk bumbu) yang mampu menstimulasi rasa (yaitu bawang merah, bawang putih, daun bawang, daun bawang liar dan squill cina). Temple food juga menggunakan aneka sayuran musiman (karena Korea adalah negara empat musim, jadi jenis sayuran yang tumbuh berbeda setiap musimnya) dan mereka percaya bahwa masakan harus menghadirkan rasa aslinya, dimasak dengan hati-hati dan mengikuti aturan alam.

Saya penasaran karena belum pernah mencicipi menu makanan temple food sebelumnya tapi saya juga tidak yakin paham akan menu makanannya jadi akhirnya menu makanan kami hari itu dipilihkan oleh sang pemandu, yaitu (dalam bahasa Inggris):

  • tea
  • salad with cutlet (made from soybean meat)
  • mushroom casserolle 
  • stir fried glass noodles with burdock
  • sodam midu
  • cooked rice, soup, side dishes
  • dessert

Pertama kali, dihidangkanlah teh. Warnanya cokelat tua. Saya mengira teh jagung seperti yang kebanyakan dan hampir selalu dihidangkan di banyak restoran di Korea. Ternyata dugaan saya salah. Teh terenak yang pernah saya minum itu adalah teh yang terbuat dari daun lotus (teratai). Sayangnya, teh ini tidak dijual mentahannya, melainkan memang diracik khusus hanya untuk yang bersantap di Gosang.

20161113_115807

Hidangan kedua yang muncul adalah salad sesuatu yang mirip daging ayam digoreng tepung, lengkap dengan salad saus bit, dan ada juga mie mirip jap jae yang kental bau minyak wijen. Soal rasa, dua menu ini enak sampai tidak terasa kalau yang saya makan itu terbuat dari kedelai dan bukannya daging ayam.

20161113_121504

Kemudian dua buah menu kembali terhidang di hadapan saya dan saya kenal baik dengan salah satunya, yaitu tahu. Ya, tahu persegi yang dikukus kemudian dipanggang sebentar dengan sejumput salad dan kentang goreng dan dua macam saus yang kalau dari rasanya menggunakan bahan aneka biji-bijian. Begitu pula hidangan yang di mangkuk. Sepintas mungkin seperti kolak pisang, tapi itu bubur perilla dengan jamur (kalau dari rasanya itu adalah jamur shitake). Kedua hidangan ini rasanya hambar karena rasanya alami dari biji-bijian itu.

20161113_123353

Saya pun mulai kenyang bercampur terbayang-bayang masakan Indonesia yang rasanya paling juara sejagat raya. Tapi menu utama akan segera tiba. Agak sedikit bahagia ketika saya melihat ada nasi di salah satu mangkuknya. Nasi Korea itu menurut saya istimewa. Pulen dan enak rasanya. Ada kerinduan tersendiri kalau jelang keberangkatan ke Korea, ya pada semangkuk nasinya yang terhidang panas-panas dengan kacang hitam ditengah-tengahnya atau kalau sedang mujur, bisa dapat nasi dengan lima macam biji-bijian yang menyehatkan. Sama seperti di Gosang. Nasi yang terhidang adalah nasi dengan lima macam biji-bijian lengkap dengan aneka kimchi dan juga sup (yang lagi-lagi ada jamurnya). Sesuai dengan pesan orang tua, makanan itu harus dihabiskan tak bersisa untuk menghargai usaha dan peluh orang yang memasaknya.

20161113_125000

Dengan memakan makanan ini, kalian bisa merasakan rasa pedas, pahit, manis, asam, asin dan hambar yang alami. Semua rasa itu mewakili segala aspek dalam hidup. Sekedar informasi. Walaupun resto ini mengusung konsep temple food, tapi restoran ini tidak dimiliki atau dijalankan oleh seorang biksu tetapi oleh seorang wanita yang mulai memasak untuk menyembuhkan anaknya yang menderita sakit atopic dermatitis. Beliau menggabungkan antara temple food dan bahan makanan yang juga berfungsi sebagai obat alamiah. Menarik ya?

Rangkaian menu makan siang kami di Gosang hari itu diakhiri dengan secangkir omija atau dalam bahasa Korea disebut 오미자화채/오미자 차 dan camilan berbahan biji bunga matahari. Beberapa orang dari kami mungkin baru pertama kali merasakan teh berwarna pink tua dan cukup terkejut dengan rasanya. Omija ini terkenal juga sebagai teh lima rasa karena mengandung rasa manis, asam, pahit, pedas, dan asin. Hanya saja semua rasa itu tercampur sempurna dan setiap orang kadang merasakan rasa yang berbeda-beda di setiap tegukannya.

20161113_130744

Untuk merasakan makanan disini, kalian mungkin harus mengeluarkan dana yang ekstra karena konsep temple food di restoran ini adalah fine dining dan menu sudah diatur per paketnya. Kalau yang kami pesan harganya sekitar KRW 29.900 atau sekitar IDR 375.000. Tapi walaupun harganya termasuk mahal, tidak ada salahnya dicoba ya.

Happy traveling!

Alamat:

Barugongyang Gosang (고상)
26, Eulji-ro 5-gil, Jung-gu, Seoul, Mirae Asset Center 1, Basement 2 Floor
서울특별시 중구 을지로5길 26 (수하동) 미래에셋 센터원빌딩 B2F
Jam buka: Senin hingga Sabtu, jam  11.40am – 3pm, 6pm – 9pm. Hari Minggu tutup
Website (dalam bahasa Korea): http://www.baru-gosang.com

gosang

Transportasi:

Euljoro1-ga Station (Seoul Subway Line 2), Exit 5 atau 6, jalan kaki sekitar 7 menit

 

Korea Halal Restaurant Week 2016

In Halal in Korea, Seoul - Korea, WOW Korea Supporter Indonesia on November 14, 2016 at 10:00 am

Sebagai pejalan muslim, apabila sedang melancong biasanya ada beberapa hal yang harus kita pikirkan. Apalagi kalau negara yang kita datangi adalah negara yang penduduknya adalah mayoritas non muslim. Hal itu tentunya akan menjadi tantangan tersendiri. Seperti bagaimana kita beribadah nantinya, dan juga bagaimana soal makanan yang akan kita makan nantinya.

halal-korea

Nah kali ini saya diundang oleh Korea Tourism Organization bersama Mas Barry Kusuma, beberapa media seperti Kompas, Sindo dan Tribun, dan juga beberapa travel agent untuk merasakan dan melihat sendiri beberapa restaurant yang aman dikunjungi oleh muslim dan kita bisa memakan makanan yang terhidang disana tanpa rasa khawatir akan ke-halal-annya. Event ini berlangsung selama 40 hari saja di Korea dimana kalian bisa menggunakan coupon book yang tersedia di kantor KTO di Indonesia atau juga yang di Korea.

Di Korea sendiri, ada beberapa macam klasifikasi restaurant yang bisa kita kunjungi, yaitu:

  • Halal Certified Restaurant, dimana restaurant ini sudah bersertifikat halal dari KMF (Korea Moslem Federation);
  • Self Certified Restaurant, dimana restaurant ini dikelola oleh muslim atau juru masaknya adalah muslim dan menyatakan sendiri kalau restaurantnya menjual makanan yang halal;
  • Muslim Friendly Restaurant, dimana restaurant ini hanya menjual beberapa menu halal atau semuanya halal, dan bisa saja menjual alkohol;
  • Pork Free; dimana restaurant ini menjual menu berbahan daging tetapi tidak menjual sama sekali yang berbahan daging babi. Menu makanannya bisa saja tidak halal tapi mereka tidak menggunakan produk babi dan turunannya.

Jadi beberapa hari kedepan saya akan update mengenai restaurant yang kami datangi, khususnya di Seoul dan sekitarnya.

Happy traveling!

 

New stuff in my backpack: Cetaphil

In My Life, My Tips, Random Things of Me on June 28, 2016 at 5:16 pm

 

1467180499252

Saya termasuk perempuan yang jarang berdandan. Masih ingat diomelin sama emak dulu gara-gara pake bedak aja gak mau. Saat itu teman-teman seumuran saya sudah pake bedak tipis-tipis di muka dan tidak lupa lipgloss. Saya? Polos saja. Kecuali ke kondangan dan itu pun harus dipaksa dan dipake dengan muka cemberut.

Sudah kuliah, saya masih sama. Tidak ada perubahan berarti. Pakai kosmetik kalau ingat. Untungnya teman-teman waktu kuliah cakep-cakep. Jadi kebiasaan mereka menular dikit lah ke saya. Perubahan saya dimulai ketika lulus kuliah dan mulai bekerja. Pake kosmetik wajib ain. Kalau ngga gimana ngadepin client. Apalagi kerja di Jakarta, kita bisa pakai kosmetik sambil jalan, di dalam taksi, sambil nyetir. Luar biasa pokoknya.

Setelah menikah dan berhenti kerja kantoran dan memutuskan untuk menjadi seorang pekerja rumahan dan seorang traveler (malu siy ngomong gini tapi emang saya doyan jalan-jalan), bukan berarti saya balik lagi jadi ngga doyan bermake up ria. Aapalagi kalau berhadapan dengan petugas imigrasi. Huwow.. kalau muka saya kucel nanti dikira buronan (kejadian di Macau) atau dikira mba-mba pekerja migran (ah maaf bukan maksudnya menghina). Jadi sebelum landing minimal harus oret-oret ini muka dengan perlengkapan lenong seadanya.

Problemnya adalah… kulit saya super sensitif. Saya tidak bisa pakai make up terlalu lama. Bisa-bisa kulit saya mruntus-mruntus (kluar bintik-bintik kaya alergi). Jadi saya harus rajin cuci muka. Di dalam pesawat saja saya bisa cuci muka dan pakai krim wajah supaya menjaga kulit muka tetep kinclong paripurna. Maklum yaa muka ini aset saya juga, kan kasian suami saya nanti kaget liat muka saya pulang traveling malah jadi kaya Valak.

Menjadi sebuah dilema kala cuci muka terlalu sering, muka saya jadi kering walaupun dengan sabun wajah dari dokter kulit. Muka mulus tapi kaya diampelas alias kalau kita raba ini muka, kerasa banget kering kerontangnya dan butuh cepat-cepat diolesi krim pelembab. Sedih ya… tapi mau gak mau tetap dilakukan. Satu lagi, saya kadang saking capeknya seharian beraktifitas sampai lupa cuci muka dan langsung terdampar di kasur. Baru sadar pagi hari saat lihat kaca setelah kucek-kucek mata. Akhirnya stress menyadari langsung ada jerawat menyapa dengan manis manja. *pasrah*.

Sampai beberapa minggu lalu saya mencoba Cetaphil. Menurut beberapa teman yang pake kok katanya highly recommended. Akhirnya ku tergoda. Jadi Cetaphil ini merupakan produk perawatan kulit made in Canada yang memiliki slogan “every age every stage every day”. Bisa dipakai segala usia, segala jenis kulit dan bisa dipakai setiap hari. Produk ini juga tidak mengandung sabun dan tidak berbau wangi. Kalau dilihat dari websitenya siy Cetaphil tidak berjanji muluk-muluk tapi bikin penasaran.

1467180517479

Penampakan Cetaphil yang saya punya. Aman untuk semua jenis kulit, terutama yang berkulit sensitif kaya saya. Sedangkan untuk kulit berminyak Cetaphil ada produk khususnya yang kamu bisa kepoin di websitenya ya!

 

Saya memilih Cetaphil Gentle Skin Cleanser. Pertama kali mencoba tentu saja saya amati dulu bagaimana cara pakainya. Jadi ternyata produk ini bisa dipakai dengan atau tanpa air. Kalau pakai air, tinggal pencet dan teteskan secukupnya ke tangan dan langsung diusapkan ke muka walaupun kering dan gosok-gosok lembut sampai merata dan dirasa cukup, lalu bilas dengan air. Sedangkan kalau tanpa air, caranya sama aja. Teteskan ke tangan dan usapkan ke muka lalu usapkan ke muka dengan lembut. Selanjutnya untuk membersihkannya tidak perlu dibilas dengan air tapi cukup dengan handuk bersih saja Beres deh! Oh God! Ini baru pembersih muka yang cocok buat saya karena sama sekali gak ribet. Apalagi buat saya yang suka lupa bersihin muka atau malah malas bersihin muka karena malas ke kamar mandi. Pakai Cetaphil ini kayaknya ritual bebersih muka menjadi lebih menyenangkan. hahaha. Produknya tidak mengeluarkan busa dan setelah dipakai, kulit saya tidak terasa kering, malah jadi lembab. Syukaaa syekali!

1467180509881

Cetaphil berbentuk cairan dan warnanya agak sedikit putih

1467183596445

setelah diteteskan dan hasilnya setelah digosok-gosokkan, nyaris tidak ada busa sama sekali yang artinya tidak mengandung deterjen yang kurang baik untuk wajah kita

Produk ini mudah didapat juga. Kamu bisa beli di Guardian, Century Healthcare, Watsons, Kemchick, Food Hall dan Aeon, atau coba cek di apotik terdekat di kota kamu. Harganya walaupun agak mahal tapi awet karena tidak butuh banyak buat sekali cuci muka (coba deh kalau ngga percaya) dan yang pastinya niy, saya akan pakai terus buat jadi teman perjalanan saya kemanapun karena praktis, bikin kulit sehat dan juga kemasannya yang masih tergolong “travel size” (yang saya pakai cuma 125ml lho). Buat kamu yang penasaran dengan Cetaphil, langsung aja buka website Cetaphil Indonesia untuk tahu lebih banyak mengenai produk ini.

Terima kasih ya Cetaphil ^^. I will surely keep you in my backpack.