Ayu Galuh Anggraini

Sepenggal kisah penumpang ketiga asal Ukraina

In Random Things of Me, sekitarku on August 8, 2014 at 6:58 pm

Seperti biasa, saat mudik adalah saat saya harus menahan diri untuk tidak mengumpat pada kelelahan dan kemacetan. Perjalanan panjang dari Jakarta menuju Jember via darat itu sangatlah jauh kawan. Berpuluh jam saya dan suami harus berjibaku dengan jalanan yang tak ramah dan juga pemotor yang suka ngepot mencari sela diantara mobil yang padat seakan tak peduli nyawa sendiri. Kalau saya sudah tidak mampu lagi menahan diri, saya memilih tidur. Baru bangun kalau lapar atau saat mobil berhenti di pom bensin untuk isi bensin, saya ke toilet sekalian sholat di musholla yang tersedia. Kadang juga kami tidur sejenak untuk melepaskan kantuk barang satu dua jam saja. Ya, mobil adalah rumah tak resmi kedua.

Siang menjelang sore yang tanggung itu, saya baru saja bangun dari tidur yang nyenyak selagi suami harus perpayah mengemudikan mobil di jalanan Pati, Jawa Tengah. Guncangan jalanan yang kurang layak membuat saya sedikit mual. Tiba-tiba di sebuah tikungan jalan, seorang lelaki dengan ransel di punggung merentangkan sebelah tangannya dan melambai ke arah kami. Saya menoleh ke suami:

“eh itu ada hitchhiker”

“iya, mau diangkut?”

“angkut aja mas, tapi tanya dulu aja tujuannya kemana. Kali aja searah”

“aman gak?”

“Bismillah aja deh, niat kita mau nolong. Tapi terserah mas sih”

Langsung aja suami putar balik ke arah kami semua tadi bertemu dengannya tadi. Kalau tidak ketemu lagi ya saya doakan supaya dia bertemu dengan penolong lainnya. Eh, ternyata dia masih disana. Masih melambaikan tangan pada setiap mobil yang lewat. Suami menghentikan mobilnya lalu saya menurunkan kaca. Saya langsung menyapa….

“hi, where are you going?”

“Surabaya. Boleh menumpang?”

Saya langsung terseyum lebar. Pertama, karena jalur kita searah. Kedua, karena dia bisa berbahasa Indonesia. Jadi saya tidak harus putar otak untuk mencari padanan kata dalam bahasa Inggrisnya. Setelah backpack diletakkan di bagasi, dia resmi menjadi penumpang ketiga di mobil kami. Namanya Mykhailo dan seorang vegetarian.

Myke (panggilan ala saya) adalah seorang petani dan dia ke Indonesia juga dengan cara yang sama dengan yang dia lakukan dari Jakarta menuju Surabaya, yaitu dengan menumpang. Hitchhiking istilah kerennya. Hitchhiking artinya cara menuju suatu tempat dengan meminta tumpangan dari orang-orang yang bersedia  mobilnya ditumpangi. Seorang hitchhiker biasanya akan membuat sebuah tanda khusus seperti mengacungkan jempol, melambaikan tangan, atau menulis di kertas dengan tulisan yang mencolok kalau dia butuh tumpangan. Tidak semua tumpangan free tapi sebagian besar sih bebas biaya karena kalau punya banyak uang kan pasti tidak akan menumpang. Hehehe…

Butuh waktu lama untuk mencapai Indonesia dari Ukraina dengan cara hitchhiking. Berawal dari Russia, lalu ke Azerbaijan, Georgia, Turki, Iran, Afganistan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Tiongkok, Hongkong, Makao dan kemudian naik pesawat ke Kuala Lumpur. Myke kemudian menumpang ferry ke Tanjung Balai di Sumatra Utara dan berkeliling sumatera selama 5 bulan untuk mendaki gunung-gunung yang tersohor dari Aceh hingga ke Lampung. Myke melakukan perjalanannya ini mulai dari tahun 2007. Sebuah perjalanan yang panjang dan melelahkan pastinya, tapi penuh dengan tantangan dan cerita yang  berbeda. Pengalaman itulah yang jadi hartanya paling berharga yang membedakan pejalan yang satu dengan yang lainnya.

“Kemanapun saya pergi, selalu kembalinya ke Indonesia”

Myke punya sederet gunung yang ingin didaki. Gunung di Indonesia penuh tantangan dan sangat indah katanya. Mungkin saat saya membuat tulisan ini, Myke sedang ada di Kalimantan atau Sulawesi untuk mendaki. Myke membanding-bandingkan gunung-gunung di Indonesia dengan di negara-negara lainnya dan saya seperti diyakinkan kalau memang Indonesia terbaik. Aneh rasanya mendengar betapa orang asing begitu membanggakan apa yang harusnya kita dan saya banggakan. Aneh rasanya mendengar orang asing yang begitu paham Indonesia. Kenyataan yang cukup bikin saya meringis kecut-kecut asem.

“Saya tidak suka kata serapan”

Sepanjang perjalanan kami mengobrol menggunakan bahasa Indonesia. Myke menggunakan kata-kata yang baku dan sesuai dengan kamus besar bahasa Indonesia. Sedangkan saya menggunakan bahasa campur aduk Indonesia versi Jakarta. Myke menanyakan kenapa orang Indonesia lebih suka menggunakan “upload” dan “download” daripada “mengunggah” atau “mengunduh”. Ia juga menanyakan kenapa “ring road” lebih populer daripada “jalan lingkar”. Juga kenapa orang biar disanggap punya status sosial yang tinggi dan pendidikan yang bagus kalau bicara dalam bahasa Inggris atau campuran keduanya. Myke menganggap itu tidaklah keren. Saya sempat berkilah dengan beralasan kalau mungkin kata tersebut tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Tapi sesungguhnya saya ragu. Benarkah begitu?

 “Senyum orang Indonesia itu tulus dan ikhlas”

Bukan sekali ini saya tersanjung dengan pujian tentang senyuman orang Indonesia. Kami memang suka tersenyum dan saya pun suka tersenyum. Senyum itu adalah hal yang paling mudah dan murah untuk bisa diberikan kepada orang lain. Kita pun suka menawarkan persahabatan walaupun baru sekali bertemu. Coba deh, berapa banyak dari kalian yang minta atau langsung add FB orang yang tidak dikenal, atau baru sekali jalan bareng. Myke bercerita kalau di negara T dia banyak kenal orang, tapi tidak ada yang menawarkan pertemanan. Mungkin saja memang cuek atau terlalu berhati-hati dengan orang asing. Ya, mungkin juga orang Indonesia terlalu mudah percaya. Tapi saya percaya kalau perbuatan baik akan mendatangkan kebaikan, cepat ataupun lambat.

Myke di Segara Anakan Pulau Sempu

Myke di Segara Anakan Pulau Sempu

Terima kasih Myke yang sudah mencintai negeri ini, dan telah menghabiskan sekian waktu menjelajahi setiap jengkalnya dengan caranya sendiri. Saya bangga jadi orang Indonesia, bukan karena pengakuan orang asing. Tapi karena saya lahir di Indonesia, besar di Indonesia dan mungkin saya pun akan berpulang di Indonesia.

  1. Keren ya Myke. Salut sama keteguhan hatinya dengan cara backpack yg dia pilih🙂

  2. Ceritanya bagus mba.🙂 seru sepertinya perjalanannya. Kalau denger orang asing yang sudah jalan kemana-mana memuji indonesia, seneng juga yah?

    • Makasih mbaa ^^
      Seru banget. Banyak cerita seru dan obrolan yang aneh-aneh sepanjang jalan. Ya seneng karena ada rasa bangga akan pujian. Sedih juga kalau dia cerita kalau kita kurang merawat yang dianugrahkan untuk Indonesia. Bener siy. Hahaha..
      Semakin lama ngobrol makin tertohok hahaha. Jleb banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: