Ayu Galuh Anggraini

Mencoba Wisata Cave Tubing Ala Gua Pindul

In Yogyakarta on April 21, 2014 at 11:31 am

Berawal dari ide teman kerja suami dan istrinya yang mengajak saya dan suami untuk jalan-jalan ke Yogyakarta dan Solo, dimana salah satu tujuan utamanya adalah ke Gua Pindul. Memang saya pernah mendengar tentang wisata ini tapi hanya sambil lalu saja dan begitu saja lenyap dari memori yang sudah tertimbun aneka pekerjaan. Sehingga begitu saya diberitahu tujuannya, saya langsung bongkar ingatan dan juga bongkar-bongkar dunia maya alias googling. Jujur saja, yang berbau tempat gelap agak saya hindari karena saya “sensitif” sekali dengan lokasi-lokasi sejenis.

Untuk menuju ke sana sih lebih enak jika menggunakan kendaraan pribadi (apalagi kalau rame-rame, bisa sharing cost juga) menurut saya yah karena tidak ada angkutan umum yang langsung kesana (harus pindah beberapa kali). Berdasarkan info yang tertulis disini, jika menggunakan angkutan umum dari Yogyakarta, maka anda harus menempuh rute sebagai berikut:

Dari Jogja Naik Bus –> Terminal Giwangan –> Naik Bus Jogja Wonosari –> Bilang sama kondektur turun perempatan Grogol –> Dari Grogol naek Ojek minta antar ke lokasi wisata Gua Pindul. Pulangnya bisa naik ojek lagi ke bundaran siono untuk cari bus balik ke Yogya. Biaya ojek sekitar 30rb PP.

Saya pikir menjelajahi Gua Pindul ini hanya jalan kaki saja menyusuri goa dan melihat keindahan batuan yang tumbuh di dalamnya, seperti wisata goa yang lainnya. Tapi ternyata saya salah sangka. Awalnya kami dijemput oleh salah seorang petugas salah satu pengelola wisata goa pindul ini. Pengelola wisata disini rupanya tidak cuma satu saja loh. Ada banyak sekali, namun mereka semua rukun dan tidak ada sikut-sikutan. Nah, yang saya gunakan namanya “Panca Wisata”. Setelah kami membayar paket wisata Gua Pindul dan juga raftingnya, kami pun menunggu giliran. Nah biaya yang kita bayarkan itu termasuk perlengkapan seperti ban, sepatu (yang ini saya gak dapet, karena saya gak minta), pemandu, dan juga asuransi. Kalau soal dokumentasi, bisa bawa kamera sendiri. Nah, kami akhirnya menyewa fotografer (kamera juga dari sana, tidak ada batasan jumlah foto) dengan alasan praktis dan tidak ada resiko kamera kena air.

Mejeng dulu ya. Abaikan wajah suami saya yang mrengut kepanasan. hihi

Mejeng dulu ya. Abaikan wajah suami saya yang mrengut kepanasan. hihi

Jika nama sudah dipanggil, kita pakai jaket pelampung dan jalan kaki ke arah goa. Kami juga diberikan ban yang disebut oleh guide kami, “donat gosong”. Hahaha… FYI, baik pemandu dan fotografer kami, sense of humornya tinggi. Jadi biarpun saat itu panasnya sangat menyengat kulit dalam taraf “neraka bocor”, saya masih bisa ketawa tanpa ada omelan sedikitpun yang terucap. Saya tidak menyarankan kalian untuk datang ke Goa Pindul saat musim liburan, karena antriannya amat sangat panjang sekali. Maklum saja, wisata ini sangat populer. Jangan lupa juga pakai topi atau sunblock karena kalian akan mengantri sambil duduk di atas ban tadi terpanggang sinar matahari. Berhubung kami berempat narsisnya gak ketulungan, jadi maunya foto-foto mulu.

sebaiknya konsultasi dulu ke pengelola wisata yang kalian pilih kapan waktu terbaik untuk datang berkunjung. Kalau musim liburan ramainya gak ketulungan

sebaiknya konsultasi dulu ke pengelola wisata yang kalian pilih kapan waktu terbaik untuk datang berkunjung. Kalau musim liburan ramainya gak ketulungan

gosong tapi gaya

gosong tapi gaya

Setelah menunggu cukup lama sampai muka saya seperti brownis kukus, kami pun akhirnya masuk ke dalam gua. Supaya tidak terpisah , kami diharuskan memegang kaitan yang diletakkan di ban satu sama lain. Dengan dipandu oleh mas Kabul, kita mulai perlahan-lahan menyusuri bagian dalam gua. Diterangkan oleh pemandu kami bahwa Gua Pindul ini memiliki panjang sekitar 350 meter, lebar sekitar 5 meter. Jarak antara permukaan air dengan atap gua sekitar 4 meter dan kedaaman air sekitar 5-12 meter. Gua ini dibagi menjadi tiga (3) zona yaitu zona terang (masih bisa melihat dengan jelas), zona remang (cahaya hanya sedikit), dan zona gelap abadi (tidak ada cahaya sama sekali).

Ada jenis stalaktit maupun stalakmit disini, sayang saya gak hafal jenisnya satu persatu. Blame my fish memory. Paling terkenal disini adalah stalakmit yang konon bisa meningkatkan kejantanan yang menyentuhnya. Jadilah pengunjung yang laki-laki pada pegang stalakmit ini. Buat cewe jangan syediih dan cemburu. Ada stalaktit yang masih aktif. Dari ujung-ujungnya masih menetes air. Nah air ini konon bisa membuat awet muda dan tambah cantik.

Kalau kita masuk lagi, ada gabungan stalaktit dan stalagmit yang disebut soko guru. Batu ini termasuk terbesar keempat di dunia loh. Berhubung batu ini besar sekali, jadi hanya tersisa celah yang cukup untuk satu orang saja. Gua ini juga merupakan habitat dari ribuan kelelawar yang membagi gua ini menjadi beberapa area yang dihuni oleh beberapa koloni kelelawar. Atap gua sampai terkikis karena gerakan si kelelawar hingga membentuk cekungan-cekungan. Selain itu ada juga wilayah atap gua yang khusus digunakan sebagai tempat kawin oleh para kelelawar. Unik ya…

memasuki zona remang

memasuki zona remang

stalaktit dan stalakmit 1

Sebelah kanan atas itu batu keperkasaan. Perempuan jangan sentuh ya, ntar jadi macho hehehe

yang tengah bentuknya seperti tulang manusia.

yang tengah bentuknya seperti tulang manusia.

ini dia kelelawar dan sarangnya

ini dia kelelawar dan sarangnya

Namun sayang sekali keasrian gua ini sedikit terusik oleh adanya tangga yang dibuat oleh seorang pengusaha walet di atas gua ini. Ternyata kemudian usaha waletnya gagal, dan tangga ini teronggok begitu saya. Walaupun konon warga sudah meminta kepada pihak terkait untuk membongkar tangga besi tersebut. Rupanya karena di wilayah Gunung Kidul ini termasuk daerah yang panas, jadi tidak cocok untuk usaha walet. Benar-benar merusak pemandangan saja yah. Ckckckck…

Nah ini yang membuat saya sedih, sekaligus geram. Rupanya banyak pengunjung yang kurang kesadarannya dengan membuang aneka botol minuman di dalam gua. Hingga saya meminta kepada guide untuk membantu mengumpulkan sampah yang mengapung di sana sini. Kalau anda bawa minuman, sampahnya dibawa pulang juga. Itu gua bukan tempat sampah. Walaupun wisata ini bukan milik kalian, tapi ayo dijaga bareng-bareng supaya tetap lestari.

tangga dalam gua

tangga dalam gua

Lepas dari zona gelap abadi kita akan menemukan lubang di atap gua yang dari celahnya masuk sinar matahari yang begitu indah jika diabadikan kedalam foto. Nah disana bagi yang menginginkan bisa juga naik ke atas tebingnya dan lompat kebawah. Berhubung licin saya urung naik, dan memilih mengumpulkan botol-botol kosong yang dibuang seenaknya oleh pengunjung yang kurang kesadarannya. Kalau kita amati, akan terlihat ikan-ikan kecil yang katanya seperti doctor fish yang doyan makan kulit mati. Tapi menurut saya sih ikan biasa, bentuknya saja yang mirip.

keren kaan??

keren kaan??

rombongan yang baru keluar dari gua

rombongan yang baru keluar dari gua

Puas foto-foto, kita lalu menuju ke luar gua. Menyerahkan ban dan jalan kaki lagi menuju lokasi awal pemberangkatan. Kalau ingin jajan disini tinggal pesan apa yang kita mau, lalu akan diberikan nota pembelian kita dan nantinya untuk pembayaran digabung dengan biaya wisata kita keseluruhan. Berhubung masih ada satu lagi kegiatan yang diikuti jadi sambil istirahat, makan bakso dulu.

Saya sebelumnya sudah pernah merasakan wisata tube caving sebelumnya. Tapi bukan di Indonesia, melainkan di negara tetangga kita, tepatnya di Phuket, Thailand. Menurut saya sih masih lebih bagus di gua pindul ini. Biaya yang dikeluarkan pun murah meriah. Supaya lebih menikmati, lebih baik datang saat hari-hari sepi. Lebih puas tentunya dan sensasinya akan berbeda. Jadi, jangan ragu lagi untuk mencoba.

horee!! yang sadar kamera cuma saya. hahahaha

horee!! yang sadar kamera cuma saya. hahahaha

Happy traveling!

Note:

Thanks to mas Kabul yang jadi guide dan mas Dedy yang jadi fotografer. Kalian luar biasaa…

  1. Rame ajah mba itu goa nya… Pas barengan rombongan yahh….

  2. Hai mbak, mau tanya waktu itu untuk harga cave tubingnya apakah masih 35.000 atau sudah naik? Lalu ada biaya masuk ke gua tubingnya ngga? Terima kasih sebelumnya ya mba🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: