Ayu Galuh Anggraini

99 cahaya, sekotak tisu dan jomblo gigit jari

In movie review on March 7, 2014 at 2:57 pm

Segala hal tentang traveling saya suka banget. Buku-buku, kumpulan foto, aneka blog traveling, film-film, dokumenter, program tv tentang traveling dan juga pernak pernik yang berhubungan dengan traveling. Banyak membaca, melihat dan mendengar tentang itu semua membawa saya seolah-olah ikut berjalan-jalan kesana. Itu sudah cukup. Eh, tulisan ini tidak mengandung spoiler loh. Jadi aman yaa dibaca.

Suami saya lah yang pertama mengajak saya menonton film ini dan saya pun jatuh cinta. “99 Cahaya di Langit Eropa” judulnya. Film ini dibagi menjadi 2 bagian. Saya penasaran. Kemudian, saya cari dan beli bukunya mba Hanum Salsabila yang merupakan putri dari salah satu tokoh terpandang negeri ini yaitu bapak Amien Rais. Saya lahap buku itu dalam semalam saking penasaran dan bahagianya saya. Memang sih kalau lagi baca buku saya suka gak bisa berhenti.

poster-99-cahaya-di-langit-eropa-e1383578690652

Mba Hanum dan suaminya, penulis buku 99 Cahaya di Langit Eropa Source

Mba Hanum dan suaminya, penulis buku 99 Cahaya di Langit Eropa
Source

Kemarin, saya nonton bagian keduanya. Senangnya kalau sekuel film lanjutannya gak perlu nunggu lama-lama. Seperti saya duga, bioskop penuh dengan anak muda. Walaupun saya pesan tiket paling malam. Nah, sebelah saya diduduki oleh mba-mba berjilbab. Film pun dimulai dengan setting sebuah rumah di Karachi, Pakistan. Kemudian beralih ke Eropa. Nuansa Eropa yang bertebaran dimana-mana membuat saya menelan ludah (karena pengen menjejakkan kaki disana). Jika sebelumnya saya dibuat ngiler melihat Vienna dan Paris, sekarang ada Cordoba dan Turki. Suami saya sudah tidak berkedip. Selain memang camilan di tangannya sudah habis, saya tau dia suka sekali melihat city view.

Satu hal yang tidak saya antisipasi dalam film ini adalah adegan sedihnya. Rupanya, film ini berbeda dengan bukunya in a good way. Lebih detil dan menampilkan bagian-bagian yang tidak ada dalam buku, dan menjawab pertanyaan saya. Saya akui saya memang gembeng, tukang mewek alias gampang banget nangis. Walhasil saya banyak menangis melihat film ini. Mba-mba sebelah saya rupanya sudah punya persiapan yang matang. Dia mengeluarkan satu kotak tisu dari dalam tas ransel kecilnya. Sekotak tisu loh!! Niat bangeettt!! Rupanya, ia dan ketiga temannya sama-sama setipe. Akhirnya dia sibuk bagi-bagi tisu. Saya malu mau minta. Akhirnya saya lap pake jaket saja. Hu hu..

Lalu ada hubungan apa film ini dengan jombloers? Kalian akan tau deh setelah melihat film ini. Saya jujr tidak suka Abimana yang bermain sebagai arai di film laskar pelangi itu, tetapi saya suka banget dengan cara dia berperan sebagai Rangga di film ini. Chemistry yang dia bangun dengan Acha yang berperan sebagai Hanum terlihat sangat bagus. Natural dan saya yakin bikin iri banyak pasangan. Mba-mba sebelah langsung was wes wos heboh sendiri ngeliat pasangan rangga dan hanum bergandengan tangan, pelukan, dll dll. Apalagi waktu liat pasangan ini traveling bareng. Aduh duh duh… *langsung lirik suami*

Adegan ini diambil dari bagian pertama dari film.  Source

Adegan ini diambil dari bagian pertama dari film.
Source

Nilai plus dari film ini adalah, film ini tidak memasang eropa sebagai template belaka begitupula aktor bule-nya. Walaupun beberapa part terlihat kurang klop tapi itu bukan masalah besar. Salut buat team dari film ini. Pasti susah deh perijinannya.

Saya kasih nilai film ini 9/10. Buat saya film ini oke banget.

Mimpi dulu deh buat ke Eropa-nya ya yu… Indonesia aja belum tamat. Hehehe…

  1. wah tinggi banget pointnya! Aku nggak gitu suka film Indonesia.

    • hahaa aku juga heran kasi poin tinggi. sebenernya ragu antara 8 atau 9 tapi berhubung jarang2 film indo kaya gini jadi aku kasi 9

  2. Saya belum nonton filmnya secara keseluruhan hanya dalam bentuk trailer di youtube itu juga karena penasaran🙂, banyak yang inbox nanya gimana tinggal di Eropa. Saya nggak tinggal di Eropa , tinggal di Norwegia🙂, saya kira film ini juga memberi nilai tersendiri tentang Eropa. Seperti Traveling yang Mbak Ayu uraikan dan juga membangun mimpi para kaum muda untuk ke Eropa , klo untuk beasiswa setuju bangat tapi klo niatnya cari buleeeeee😀 hehehe gimana ini nyikapinya

    • Jujur ya mba… saya ini dah takut duluan ke eropa karena banyak cerita macem2 bagaimana penilaian org sana thdp Islam terutama yg berjilbab. Sebenernya mindset saya saja sih yg juga harus dirubah bahwa di mana saja itu pasti akan ada cobaan dan halangan. Gak ada yg selalu aman, nyaman.
      Begitu saya lihat film ini dan baca bukunya saya jadi tertarik dengan sejarah Islam di benua Eropa. Dulu bapak saya senangnya cerita ttg kejayaan Islam dimasa lampau. Mudah2an someday bisa menjejakkan kaki disana juga. hehehe…
      Soal niatan cari bule.. hahaha justru menurut saya dapet bule malah susah krn kita harus bisa mandiri banget. Pengalaman liat teman2 yang bersuamikan WNA. ^^~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: