Ayu Galuh Anggraini

Ketika ‘Edensor’ tak seindah itu….

In movie review on December 28, 2013 at 12:05 pm

Ekspektasi saya tinggi begitu saya melihat judul film “Laskar Pelangi 2 Edensor” di deretan film-film yang diputar. Bahkan saya mengalahkan film mas Keanu “47 Ronin” dan memilih nonton Edensor. Saya lalu membayangkan betapa bagusnya film ini nanti karena akan menampilkan banyak adegan di Eropa seperti yang saya baca di buku. Suami saya yang bukan seorang pecinta buku ya manut-manut aja ngikut ketika saya pilih film ini.

  • Sutradara: Benni Setiawan
  • Produser: Putut Wijanarko
  • Pemain: Lukman Sardi, Abimana Aryasatya, Astrid Roos, Mathias Muchus, Arswendy Nasution, Rendy Ahmad, Ferdian, Shalvynne Chang, Zulfani
  • Studio : Mizan Productions dan Falcon Pictures

laskarpelangi

Ringkasan cerita (menurut film):

Ikal dan Arai akhirnya bisa berangkat ke Perancis. Tiba disana ternyata sedang musim dingin dan keduanya ditolak untuk check in di penginapan dan dimaki-maki oleh si mister gara-gara ditelp gak bisa untuk konfirmasi. Ikal disini nyaris mati karena kedinginan.

Mereka berdua lalu ikut kursus bahasa Perancis. Keduanya lalu sibuk dengan kuliahnya masing-masing demi mewujudkan cita-cita. Karena uang pas-pasan dan harus mengirim uang ke Belitong, mereka berdua kerja serabutan. Jadi pelayan di café atau jadi seniman jalanan dadakan.

Ikal yang belum move on dengan cinta pertamanya, Aling, tetap mencari Aling di Perancis. Tapi ia juga menjalin hubungan dengan teman sekelasnya yaitu Katya. Katya ini jadi rebutan karena paling cantik dan menarik, namun hanya Ikal saja yang membuatnya tertarik.

Konflik pun terjadi antara Ikal dan Arai yang Arai anggap terlalu mengabaikan urusan kuliah demi kesenangan pribadi. Tetapi mereka berdua akhirnya menyadari kalau mereka itu saling menjaga dan mendukung. Mereka berdua pun bersama-sama mencari Aling. Ya, Aling menyingkirkan Katya. Aling juaranya.

Kecewa berat

Adegan pertama yang saya lihat sudah bikin kecewa, karena ternyata amat sangat tidak sesuai harapan saya. Make up artisnya lalu akting bule-bule yang turut bermain disana. Semuanya tidak terlalu sesuai harapan saya. Malah mirip FTV saja jadinya. Lukman sardi juga jadi aneh dimata saya. Kadang aktingnya begitu bagus, kadang sangat kentara dibuat-buat. Jadi emosi saya emang turun naik di film ini. Bukan karena bagusnya film. Tapi kepala saya sibuk membandingkan yang dalam bayangan saya dan apa yang saya lihat dan dapatkan di film ini.

Saya menangis. Tapi bukan saking bagusnya film-nya tetapi karena saya tidak tega melihat lelaki mengeluarkan air mata. Ya, dalam satu adegan di film ini, Ikal menahan tangis ketika mendengar kata-kata Arai yang mengharukan. Tapi kenapa ya, saya lebih suka Ariel yang jadi Arai dan bukannya Abimana? Mungkin juga karena Ariel tinggi badannya tidak terlalu beda dengan Lukman Sardi yang kelihatan pendek dan tua banget di film ini. Maaf yaa… ^^v

Adegan lucu juga banyak walaupun kadang maksa. Lalu juga saya agak terganggu dengan adegan dimana paman Ikal yang tergantung di tiang kapal. Figurannya ada yang tertawa. Jadi awalnya saya kira paman Ikal ini kembali makanya mereka senang, tapi saya baru sadar kalau kejadiannya sebaliknya dari ekspresi ikal dan bapaknya yang frustasi.

Keanehan judul

Kenapa saya bilang aneh? Mestinya ini film ketiga dari Laskar Pelangi. Sebelum “Edensor” ada “Sang Pemimpi”. Kemanakah film kedua itu? Di akhir film muncul Andrea Hirata. Kenapa ya kok sepertinya ini adalah film terakhir dari Laskar Pelangi. Padahal saya juga pengen Maryamah Karpov juga difilmkan. Tapi sutradaranya balik yang lama aja.

Beda sutradara

Sebenarnya saya ngga terlalu fanatik dengan besutan sutradara A atau B. Jadi saya jarang sekali mencari tahu sutradara film A siapa dan B siapa. Saya positive thinking aja deh. Tapi memang ya, gak bohong deh, beda sutradara, beda pula taste-nya. Jadi  saya sekarang membayangkan kalau misalnya sutradaranya tetap, seperti apa ya filmnya?

Nilai:

6/10 saja. Kalau mau kejam tentu saja saya kasih nilai 3 saja. Nilai 3 tambahannya adalah dari keindahan alam di Belitong yang tertangkap dengan indahnya di film ini. Saran saya, sebelum ikutan mencela ya ditonton saja filmnya, siapa tahu punya penilaian yang beda dari saya. Saya maklum kok kalau film ini kurang maksimal. Mungkin film ini terkendala pendanaan dan juga pak sutradara tidak memahami isi cerita, atau bahasa andrea hirata itu terlalu berat dan terlalu indah untuk diwujudkan secara nyata. Seperti Edensor.

  1. Sedih bacanya ikud kecewa walaupun blm nonton……langsung ngeblog ini kayaknya karena saking kecewanya ya mba?

    • Iya bener. Sangat kecewa sih. Jauuuh bedanya ama versi bukunya. Aling muncul duluan! Padahal kan dia munculnya di maryamah karpov deh.
      Strategi jualannya pake soundtrack coboy junior. Hellooww! Mau liat filmnya apa coboy juniornya sih??? Hiks.. Pokoknya aku kecewa :((((

  2. Ga baca bukunya, Nonton filmnya ogah. Tapi ketemu Andrea Hirata di Belitung minta foto. Hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: