Ayu Galuh Anggraini

Ada Apa dengan Jember?

In Random Things of Me on December 20, 2013 at 4:43 pm

Saya emang generasi yang dulu termehek-mehek dengan film ada apa dengan cinta. Rangga dan Cinta, yang berpisah akhirnya di bandara dan harus menunggu sampe satu purnama. Memplesetkan judul AADC dengan AADJ tentunya bukan tanpa alasan. Ya, ada apa dengan Jember hingga nenek kakek saya yang keduanya sudah tiada memilih menghabiskan hari tuanya di kota ini? Ada apa dengan Jember hingga ayah saya akhirnya memutuskan setelah pensiun tinggal disini?

Saya bukan warga asli Jember. Saya dilahirkan dan dibesarkan di Bondowoso, yang masih tetangga dekat Jember. Kota Jember bukanlah kota yang asing, karena kalau libur atau mengunjungi nenek dan kakek ya ke Jember. Kakek dan nenek memiliki usaha kost di daerah kampus Universitas Jember. Dahulu keduanya menetap di Banyuwangi. Saya masih ingat waktu kecil jadi pesuruh mas-mas kos seberang yang naksir mba-mba kost dirumah kami untuk mengantarkan cokelat atau sekedar salam manis. Upahnya sih gak ada tapi saya jadi terkenal. Ha ha

Kalau 17-an saya diajak anak-anak komplek di Jalan Bangka untuk ke sungai lihat kompetisi timpuk-timpukan bantal. Eits bukan timpuk-timpukan biasa. Pesertanya harus duduk berhadap-hadapan di sebatang kayu yang diletakkan melintang di sungai, yang jatuh duluan yang kalah. Seru loh!!! Saya juga suka ikut aneka perlombaan di Kota Jember. Lomba pertama yang saya ikuti dan menang juara 1 adalah lomba mewarnai perangko dengan hadiah utama uang tunai dua puluh lima ribu rupiah. ^_^

Ketika kakek nenek meninggal, alasan saya ke Jember ya belanja. Kemana lagi kalau bukan ke Matahari Johar Plaza. Setiap minggu ya mainnya kesana. Sebelum pulang, mampir dulu ke toko Wina untuk beli pizza. Satu kue pizza dibagi berlima. Namanya anak kecil, dikasi sepotong sudah senang bukan kepalang. Sampai sekarang ini, pizza Wina selalu jadi pilihan. Entah kenapa, rasa pizza yang terkenal itu kalah deh di lidah saya dibandingkan pizza seharga tujuh belas ribu rupiah karya Wina. Memories beats the taste I guess.

Ketika menginjak usia remaja, saya ke Jember kalau sedang ditugaskan membantu Papa yang saat itu masih bekerja di PLN Jember. Naik bus ke Jember saat itu masih murah, sekitar lima ratus rupiah saja kalau kita berseragam sekolah, lalu naik bus Damri ke dalam kota cuma dua ratus rupiah. Total tujuh ratus rupiah. Ingat ya, naik bus emang pernah semurah itu..

Ketika film AADC diputar di bioskop seluruh Indonesia, saya sudah bermukim di Malang. Saya sudah tidak pernah ke Jember lagi, kecuali numpang lewat jika saya kehabisan bus ke Bondowoso. Tetapi empat tahun kemudian, saya menetap di Jember sebelum merantau ke Jakarta. Ya, papa memutuskan beli rumah disini, di kota ini. Kami semua akhirnya menjadi orang Jember. Walaupun adik-adik masih ada di Bondowoso, mama setia pulang pergi Jember-Bondowoso. Entah naik sepeda motor atau naik bus. Papa memilih bermukim di Jember karena aksesnya mudah. Mudah jika ada keluarga ingin berkunjung, karena papa adalah anak tertua di keluarga besarnya. Walaupun jujur saja, Jember itu panas banget udaranya.

Akhirnya, saya pun menikah di kota ini. Istimewa sekali. Tetapi saya sedih karena harus pergi untuk membina keluarga sendiri. KTP pun beralih dari Jember ke Jakarta. Ujung ke ujung. Dua puluh empat jam jika naik bus dan tidak ada pesawat langsung ke Jember. Sesekali saya berkunjung kembali, untuk menengok orang tua yang sudah tak muda lagi. Jika adik saya (yang sekarang di Malang) pulang, juga adik lelaki (yang tinggal di Bondowoso) datang, kami pun berkeliling Jember bersama. Entah karaoke atau shopping, atau mengunjungi obyek wisata lainnya di Jember seperti pantai papuma dan juga watu ulo.

lokasi wisata Jember yang populer

lokasi wisata Jember yang populer

Kota Jember buat saya istimewa, karena disinilah Mama saya dikebumikan. Mengingat Jember, sama seperti mengingat Mama. Semua tempat di Jember itu istimewa, karena semua menyimpan kenangan dengan Mama. Sepertinya, walaupun saya pergi sejauh-jauhnya. Saya akan kembali ke Jember, menemui Mama. Ibu saya tercinta.

Jember, 20 Desember 2013
13.47PM, selepas hujan dan rindu Ibu.

#JemberIstimewa

  1. Membaca paragraf terakhir itu membuat mataku berkaca-kaca. Rasanya aku merasakan kesedihanmu ditinggal Mama dan juga merasakan ketakutanku kalau ditinggal Mama.

    • Makasih ya, yang nulis ini juga sedih. Kalau jalan-jalan sendirian naik motor suka nangis sendiri. Semua tempat menyimpan kenanganku dengan Mama…
      *peluk Ail*

  2. Tulisannya enak dibaca🙂
    Bagus mbak…
    salam kenal dariku, arek jember.

  3. Finally yeah😀 Makasih ya Yuk😉

  4. Kisah yang renyah untuk dibaca..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: