Ayu Galuh Anggraini

Peninggalan sejarah yang tersisa di Gangnam itu bernama Kuil Bogeunsa

In Jalan-jalan, Seoul - Korea on October 23, 2013 at 10:44 am

Tak banyak traveler yang memasukkan kuil ini dalam agenda mereka. Termasuk saya pada awalnya. Mungkin kamu juga tidak pada awalnya. Kuil ini bisa jadi kalah populer dengan Kuil lain yang terletak di downtown Seoul yaitu Jogyesa Temple, yang selalu ada di setiap program tour di Seoul. Tetapi perjalanan saya sehari penuh menyusuri wilayah Gangnam membawa saya menuju tempat ini. Berawal dari poster daerah wisata Gangnam yang tertempel di sebuah dinding, saya tertarik mencari dimanakah letak kuil dengan patung Budha yang menjulang tinggi itu.

Bagaimana cara menuju kesana?

Naik Seoul Subway Line 2 dan turun di Samseong Station kemudian keluar melalui Exit 6. Lalu jalan kaki sekitar 600 meter kemudian belok kiri dan jalan kaki lagi sekitar 150 meter kedepan. Kuil ini terletak di seberang jalan.

Namun, bagi kalian yang sedang mengunjungi COEX Mall yang terkenal itu, sempatkanlah mampir kesini, karena kuil ini lokasinya tepat di seberang (sisi utara) pusat perbelanjaan favorit para selebritis korea.

Tempat ini seperti sebuah “sanctuary” ditengah hiruk pikuk wilayah Gangnam. Memasuki gerbang kuil ini, atmosfernya seketika berubah seperti masuk ke dimensi lain. Rasa tenang dan damai terasa begitu kuat. Gerbang masuk kuil terbuat dari kayu kokoh berlukiskan empat raja surga (four heavenly kings) di sisi kanan dan kirinya.

keeper of the gate

guardian of the temple

Berhubung saya buta sama sekali tentang kuil ini, saya pun mendatangi pusat informasi. Seorang ibu yang ramah menyambut saya. Beliau menanyakan saya dari mana dan tahu dari mana tentang kuil ini. Kemudian saya mengisi buku tamu dan diberikan brosur tentang kuil ini. Saya pun dipersilahkan untuk masuk hingga area peribadatan.

Sejarah panjang kuil Bogeunsa

Sebelum dinamakan Bogeunsa, kuil ini dahulu bernama kuil Gyeonseongsa yang dibangun pada tahun ke-10 pemerintahan Raja Silla yaitu Raja Weongseong (tahun 794). Pada jaman kerajaan Joseon, yaitu sekitar tahun 1498, Ratu Munjeong merekonstruksi kuil ini dan memiliki nama baru yaitu Bogeunsa. Kuil ini pun menjadi kuil utama di era itu. Kuil ini nyaris hancur total karena terbakar pada tahun 1939 dan juga karena perang Korea. Namun, beberapa aula utama berhasil selamat.

Saat jaman pendudukan Jepang, kuil ini menjadi satu dari 14 kuil utama dan menjadi pusat dari 80 kuil kecil di seluruh Seoul. Setelah pendudukan Jepang berakhir, kuil ini menjadi subordinat dari Kuil Jogyesa yang menjadi pusat dari kuil Budha di Korea. Proyek rekonstruksi kuil Bogeunsa masih terus berjalan hingga saat ini.

Biarpun saat itu agak becek dan licin karena salju di tempat itu mulai mencair, saya bisa melihat keindahan taman yang ditata dengan model tradisional senada dengan bangunan-bangunan tradisional yang bernilai sejarah tinggi. Area kuil ini begitu luas dan bertingkat-tingkat. Saya pun segera menuju area tempat patung Buddha yang legendaris itu. Untuk menuju kesana kita harus menaiki beberapa anak tangga dan lokasinya terletak di area paling atas dari kuil ini. Sebelumnya kalian akan menemukan tempat persembahyangan yang sangat mencolok karena tergantung ribuan lampion yang berwarna merah. Sebelum mengambil foto, pastikan kegiatan anda tidak mengganggu orang yang sedang ibadah ya.

landscape of Bogeunsa

one of tradisional building in Bogeunsa

prayer hall

Naiklah lagi ke atas, anda akan bertemu bangunan paling besar. Uniknya disini adalah langit-langit pintu masuk yang rendah penuh dengan ornamen khas Korea yang berwarna hijau cerah. Kalau diperhatikan, setiap pilar-pilar disana bertuliskan sesuatu yang sayangnya saya tidak bisa membacanya. Setelah itu baru anda akan bertemu muka dengan patung Buddha raksasa.

the ornaments

Kalau biasanya saya menemukan patung Buddha dengan posisi tidur atau duduk, nah patung Buddha yang satu ini posisi-nya berdiri, tinggi menjulang. Area ini juga luas sekali. Saat saya berkunjung nampak beberapa orang yang sembahyang. Tidak jauh dari patung tepat di sebelah kanan, ada patung Buddha yang ukurannya sangat kecil dengan wajah tersenyum. Sekeliling patung dipenuhi batu-batu pipih kecil yang disusun bertingkat-tingkat. Konon, batu itu melambangkan harapan. Jadi orang yang meletakkan batu itu berharap sang Buddha mengabulkan permintaannya.

big standing Buddha statue

stones of hope

enterance

Kuil ini juga mengadakan “Temple Stay Program” dimana pengunjung bisa melihat dan mengalami langsung bagaimana kehidupan seorang biksu. Anda juga bisa menikmati aneka makanan vegetarian dan membeli cinderamata khas kuil ini di toko yang letaknya tidak jauh dari pintu gerbang.

Sambil berjalanan keluar dari kuil, saya berdoa semoga peninggalan sejarah ini tetap lestari dan menjadi penanda tradisi dan sejarah yang tetap bertahan ditengah gempuran modernisasi.

Happy traveling!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: