Ayu Galuh Anggraini

Sannakji, kuliner istimewa dari Korea

In Jalan-jalan, kuliner, Seoul - Korea on October 22, 2013 at 2:27 pm

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah foto yang tidak sengaja saya temukan sewaktu iseng searching foto kuliner Korea. Setelah googling, saya semakin tertarik dan penasaran. Warning! Kalau sama penasarannya seperti saya sehabis baca tulisan ini jangan teror saya yah.

sannakji

Sannakji ini adalah kuliner yang istimewa, karena tidak biasa di lidah Indonesia. Hanya segelintir orang Indonesia yang sudah mencoba kuliner satu ini. Itu pun yang sudah pernah ke Korea tentunya. Nah, mari kita kupas tuntas jenis kuliner ini. Sannakji adalah makanan yang berbahan dasar bayi gurita (baby octopus). Gurita yang bahasa korea-nya disebut “Nakji” (낙지) ini akan dipotong-potong hidup-hidup dan disajikan di piring bersama taburan wijen. Ya! Ini dimakan mentah-mentah loh.

Sannakji ini bukan termasuk kuliner musiman, karenanya kalian bisa mencobanya kapan saja. Mulai dari Januari hingga Desember, sannakji bisa dinikmati. Dimana sih bisa mencoba makanan ini? Ada 2 tempat yang saya tahu:

  • Noryanjing Fish Market. Untuk menuju kesini sila naik Seoul Subway Line 1 turun di Noryanjing station exit 1. Lalu jalan kaki sekitar 100 meter. Detail-nya bisa simak disini.
  • Resto di sekitar Noryanjing Fish Market atau di kawasan Myeongdong (sebelah Pasific Hotel).

Saya sarankan untuk membeli nakji di pasar ikan yang jelas harganya lebih murah lalu hasil belanjaan anda bisa diserahkan oleh kedai makanan yang ada di sekitar Noryanjing untuk diolah. Mereka bisa mengolah semua jenis hewan laut yang anda beli. Tentunya dengan harga tertentu. Pilih kedai yang ramai pengunjungnya yah. Kalau anda membeli nakji dari Noryanjing anda bisa membayar sekitar 10.000 won untuk dua pasang nakji (biasanya nakji dijualnya per pasang) dibandingkan anda harus membayar sepiring nakji di resto dengan harga 20.000-30.000 won per piringnya. Jauh kan perbedaannya?

Pilih nakji yang masih segar alias masih hidup. Lebih baik lagi kalau nakji-nya diambil langsung dari tangki penyimpanan karena jelas sudah masih hidup. Karena sensasi makan nakji konon lebih terasa kalau nakji itu benar-benar masih sangat segar.

Bagaimana cara makannya?

  • Celupkan potongan nakji yang masih menggeliat (karena masih ada sisa listrik statis-nya) tadi ke dalam saus yang berasal dari campuran minyak wijen dan garam.
  • Kemudian masukkan ke mulut lalu kunyah seluruhnya. Untuk beginner, kalau hanya sebagian yang terkunyah, nakji yang tentakel-nya masih bergerak-gerak itu masih aktif alat penyedotnya. Jadi ia masih bisa menempel di lidah/ dinding mulut/ tenggorokan. Jadi salah-salah bisa tersedak dan fatal akibatnya. Salah satu fungsi dari minyak wijen adalah untuk mencegah tentakel itu menempel di mulut/ tenggorokan kita.
  • Bisa juga sannakji dimakan dengan kimchi setelah dibalut dengan aneka sayuran. Tetapi tentunya rasanya akan berbeda dibandingkan hanya makan sannakji-nya saja.
  • Sannakji yang sudah tidak bergerak-gerak lagi bisa kamu serahkan lagi ke pemilik kedai untuk diolah menjadi masakan yang lain.

Nah, kalau sudah expert dalam memakan sannakji ini, cobalah makan satu nakji yang utuh. Pernah lihat salah satu adegan di film Thailand “Hello Stranger”? Nah, cara makannya mirip dengan adegan di film itu. Jadi nakji yang masih hidup dibalutkan ke stik kayu (sumpit) lalu setelah tentakel nakji membalut erat stik kayu tersebut baru bisa kalian masukkan ke dalam mulut dan dikunyah. Mungkin terlihat mengerikan ya kalau dibayangkan. Tetapi pada kenyataannya berdasarkan hasil ngobrol dengan teman korea saya di Busan, ia bilang kalau nakji memang lebih enak kalau dimakan utuh. Apalagi  ditemani minum soju atau makgeolli. Ingat ya, ini hanya dilakukan oleh orang yang sudah ahli makan sannakji dan bukan untuk pemula.

Semoga tulisan saya ini bisa menambah referensi traveler semua yang ingin berkunjung ke Korea. Happy traveling!

  1. […] ke dalam sup seafood kami dan saya sudah megap-megap kekenyangan. Selanjutnya guide kami memesan sannakji yang ternyata kalau di resto ini sudah dibumbui dengan minyak wijen dan juga ditaburi rumput laut […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: