Ayu Galuh Anggraini

Saya, Mama dan Idul Adha

In My Life, Random Things of Me on October 15, 2013 at 12:43 am

mother quote

Sepertinya saya pernah menulis tentang ini sebelumnya di blog saya yang sudah almarhum di Multiply (may it rest in peace). Betapa Hari Raya Idul Adha ini seperti siksaan bathin setiap tahun. Setiap kali selesai sholat Ied saya selalu ngumpet di kamar, nyetel musik kenceng-kenceng agar bunyi yang sangat bikin saya terenyuh itu tidak terdengar. Kasihaaannn…

Saya bukan vegetarian karena saya masih suka makan daging terutama bakso, tapi setiap lebaran haji saya selalu skip makan daging hingga berbulan-bulan berikutnya. Daging jatah kurban saya bagi-bagikan saja dan hanya beberapa kilo saja saya titip ke adik ipar untuk digiling dan dibikin bakso. Itu pun bakso yang berpuluh-puluh akan sekian hari saya diamkan di freezer dan hanya disajikan kalau suami minta menu bakso.

Bicara tentang lebaran haji atau hari raya kurban ini adalah hari besar yang ditunggu-tunggu mama. Mama akan menyiapkan bumbu-bumbu yang lengkap mulai dari bumbu rawon, soto dan sate pedas khas yang sayangnya hingga mama meninggal harta karun bernama resep rahasia itu terkubur bersamanya.

Lemari es kami yang kecil seperti mau meledak penuh dengan daging sapi dan kambing. Apalagi bagian favorit mama yaitu kaki dan kepala kambing atau kepala sapi. Saya masih ingat saat SMA saya membeli kepala sapi seharga empat puluh ribu rupiah saja. Saya dan kepala sapi yang mengerikan itu bersama-sama naik becak. Saya trauma. Tetapi mama menyambut bahagia kepala sapi-nya. Sudah terbayang di benaknya otak sapi digoreng, cingurnya dibikin rujak, lidahnya bisa dimasak bistik atau sop. Sisanya entah jadi apa. Sementara saya memilih makan pecel saja. Sehat!

Pernah sekali waktu mama bersedih karena jatah daging tak kunjung mampir kerumah. Bukan kenapa, karena dirumah selalu saja ada yang berhak untuk mendapatkan daging kurban mampir kerumah. Semacam posko rasanya. Tetapi senang tak terkira memang, melihat kilatan bahagia di mata mereka. Kalau sudah sedih begitu mama memilih masuk kamar dan saya menghiburnya. Saya bilang saja, besok kita beli sendiri daging di pasar. Nah, mama akan sedikit lebih tenang dan langsung mengambil buku catatannya untuk mereka-reka mau belanja apa saja.

Saat pintu rumah ada yang mengetuk, mama bergegas membuka. Senyum merekah saat tas plastik berat berisi daging merah sudah di tangan. Mama langsung menuju dapur tercinta-nya. Dimulailah ritual memilih dan memilah sesuai bibit, bebet dan bobotnya. Macam pilih menantu saja. Ditimang-timanglah daging itu, dipisah berdasarkan jenisnya dan juga kualitasnya. Ada bagian untuk ibu A, ibu B dan seterusnya yang biasanya selalu dapat jatah dari mama. Ya, mama memang tak pernah lupa siapa yang harus didahulukan.

Saya tidak pernah ikut campur dalam urusan per-daging-an itu. Saya memilih menikmati makanan non daging yang tersaji di meja. Mama tau saya anti bau daging kurban yang menurut saya berbeda dengan bau daging yang biasanya. Jadi saya hanya ikut membantu setelah diminta dan saat daging itu sudah masuk kuali untuk dimasak atau sudah jadi bakso.

Tapi itu cerita sudah lalu. Saat saya menuliskan ini, saya sudah wanti-wanti dengan tukang masak di rumah. Besok dagingnya dibikin apa saja. Dengan cacatan kalau dapat jatah. Kalau tidak ya sudah. Tetapi dalam sebuah percakapan ringan dengan si bungsu, ia bilang rindu sate buatan mama. Sayang resepnya sudah musnah. Belum sepenuhnya musnah sih, tapi saya belum coba bereksperimen dengan bumbu sambil memainkan memori mengingat komposisi rasa sate pedas yang tiada duanya itu. Saya juga tidak bisa mengantar si bungsu untuk memberitahu tempat mama dan saya biasa antri untuk menggiling daging agar bisa dibuat bakso. Saya harus pulang ke Jakarta.

Seiring takbir yang berkumandang malam ini, saya kirimkan doa untuk Ibunda. Hari raya ini tak akan pernah sama lagi. Tapi saya janji ma, nanti saya bongkar buku resep harta karun peninggalan mama itu. Siapa tahu ada resep sate rahasia yang tercatat disana. We miss you mom.

(Dituliskan jam 12.05 dini hari. Susah tidur)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: