Ayu Galuh Anggraini

Sisi lain dari Jember Fashion Carnaval 2013

In Random Things of Me, sekitarku on August 27, 2013 at 12:17 pm

Sudah 12 kali JFC dilaksanakan di kota Jember, Jawa Timur dan menjadi sebuah event tahunan yang ditunggu-tunggu dan dibanggakan oleh warga kota ini. Begitu juga saya, yang sudah sekian tahun menjadi bagian dari warga Jember juga merasa bangga dengan adanya acara ini. Walaupun dari 12 kali event, saya hanya bisa melihat dua kali saja karena Jember bukan satu-satunya tempat persinggahan saya.

Sekian bulan menetap di Jember lagi, akhirnya saya bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat lagi kemeriahan pawai kostum yang spektakuler itu. Saya, keluarga dan teman sudah bersiap dari pagi untuk menghindari kemacetan dan pengalihan arus lalu lintas akibat banyaknya pendatang yang ingin ikut juga melihat JFC.

Sekitar jam 13.30, saya dan yang lainnya mulai turun ke jalan raya, menunggu para peserta karnaval dengan kostumnya yang keren. Masyarakat tumplek blek di jalanan. Kepanasan. Anak-anak kecil disusupkan ke deretan terdepan sedang ibunya berjaga di belakangnya. Saya melihat banyak orang mulai mempersiapkan peralatan “tempur”-nya seperti payung, topi dan juga minuman penghalau haus. Tak lupa juga tentunya para fotografer yang bersiap dengan kamera-nya masing-masing.

Sekitar 30 menit kemudian, barisan pertama karnaval mulai sampai dekat tempat saya berdiri. Saya ada di lapis ketiga. Maju tidak bisa, mundur apalagi. Ibu-ibu depan saya mulai mengomel karena ia merasa tergencet, sementara petugas pengaman menyuruh kami mundur. Penonton yang merasa tidak beruntung di belakang menolak untuk mundur lagi. Sehingga mereka merapatkan barisan untuk menahan supaya posisi mereka stagnan. Kami yang di tengah, sesak nafas.

Lalu peserta karnaval mulai lewat satu demi satu. Jarak antara penonton sisi kanan dan kiri awalnya sekitar 2,5 meter dan mulai merengsek lagi hingga menjadi 1,5 meter. Fotografer-fotografer yang ada di lapis pertama maju ketengah, memotret peserta karnaval satu demi satu tepat di muka. Melihat ketidak adilan, anak-anak lapis pertama didorong oleh ibunya untuk maju ke depan. Fotografer-fotografer pro dan dadakan (pake pocket kamera dan juga pake HP bahkan pake ipad) akhirnya ikutan maju. Biarpun awalnya mereka di  lapis terbelakang. Merengsek terus maju pelan-pelan hingga jarak antara penonton sisi kanan dan kiri jadi kurang dari 1 meter!!!!

mulai maju

Bayangkan yah, kostum peserta karnaval JFC itu yang indah dengan sayap-sayap yang seharusnya terentang dengan gagahnya, jadi nampak seperti burung yang sedang sakit. Sayap-nya terlipat, karena mereka takut kostumnya rusak padahal itu belum ada setengah perjalanan. Saya yang tadinya ingin mengabadikan malah bengong dan merasa kasihan. Saya mundur kebelakang, berkumpul dengan teman-teman. Apa indahnya? Apa kelihatan bagusnya kalau yang saya lihat hanya orang-orang yang berebut foto, berebut melihat. Saya kemudian menjadi bagian lapis terakhir bersama-sama orang yang takut kepanasan dan kehausan sehingga memilih untuk jajan makanan di pinggir jalan.

fotografer ngawur

Saya tidak bisa bayangkan, mereka yang menjadi peserta karnaval. Jauh-jauh hari mempersiapkan kostumnya sedemikian rupa, dengan biaya yang tidaklah murah. Belum lagi fisik dan mental yang harus dipertahankan hingga garis finish. Saya sedih dan kasihan. Kalian tau? Sewaktu peserta karnaval dengan tema “Betawi” lewat, dengan mudahnya anak-anak kecil dengan bantuan orang dewasa mencabuti bagian dari kostum itu. Dengan lebar “runaway” yang merengsek menjadi kurang dari 1 meter, baju yang menjuntai menjadi terinjak penonton, menabrak kepala pentonton dan fotografer. Patah.

Saya masih bertahan untuk melihat pawai dengan tema selanjutnya, penonton dan fotografer makin menggila memblok jalan, dan baru minggir kalau ada petugas penertib. Kali ini para fotografer semakin berani, langsung maju kedepan, memotret saat pawai sedang berjalan seolah pendamping peserta. Melihat peluang, penonton maju satu persatu berfoto dengan peserta karnaval. Ibu-ibu dan anak-anaknya pun ikut serta. Pawai tersendat karena semua ingin punya bukti bisa berfoto dengan peserta JFC yang bisa dipasang di profil BB ataupun di FB. Bisa kalian bayangkan? Banyak peserta karnaval yang stress dan akhirnya menolak untuk berpose dan harus pasrah diteriaki “Sombong!!”. Saya sendiri masih menggunakan cara konvensional, menunggu mereka lewat dan saya panggil agar menoleh dan saya ambil gambarnya. Mirip seperti SPG yang bilang.. “boleh kakaa.. mari sini kakaa”. Biarlah, yang penting saya gak ikut-ikutan seperti orang yang gak tau aturan.

gak bisa lewat

self service

Setelah berlama-lama berjuang dengan ratusan orang yang tidak bisa diatur, saya memilih mundur. Pulang dengan foto seadanya di tangan dan bersumpah, tahun selanjutnya saya mau beli tiket nonton yang duduk saja. Meskipun harus bayar seratus lima puluh ribu rupiah.

Seharusnya dengan pelaksanaan yang sudah 12 kali, ada perubahan bagaimana cara mengatur penonton. Saya terus terang tidak tega melihat kostum peserta yang terinjak, patah, dicabuti oleh penonton. Mereka harus terhuyung melawan angin dan juga oleh penonton yang semakin merengsek maju. Beruntung bagi yang ada pendampingnya, memberikan minum, menghalau orang yang seenaknya, atau membantu mengatur kostumnya yang sekiranya agak berantakan. Malang bagi peserta yang jalan sendirian. Bisa dibayangkan kan?

Saya bermimpi kita bisa lebih bisa menghargai karya orang lain, bisa menghargai sebuah acara lebih dari sekedar tontonan saja. Masih segar di ingatan saya tentang acara peringatan waisak yang berubah esensi-nya jadi ajang foto-foto dan wisata. Saya yang tidak ada di lokasi saja geram apalagi kalau ada disana. Saya menulis ini tidak ada maksut apapun, hanya bentuk keprihatinan saya tentang perilaku kita yang tidak tertib dan kurang menghargai hasil karya orang lain. Ini bukan suatu bentuk generalisir, karena ada banyak juga penonton beradab yang tahu situasi dan kondisi. Bagi yang merasa, yuk ubah sikap kita. Awali dari diri sendiri, baru ingatkan orang lain. Semoga yang baik dari kita bisa menular ke yang lainnya.

Note:

Saya belum bicara tentang sampah yang luar biasa banyak-nya yang berserakan setelah acara usai. Duh…

  1. Fotonya mana kakak? Mana Kakak???

  2. Haduh…kadang-kadang guwe heran orang2 itu self potrait segitu banyaknya buat apa sih. Paling banter buat profil BBM. Nggak mungkin juga di print dan dipajang.

  3. dimana bisa beli tiket nonton duduknya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: