Ayu Galuh Anggraini

Mencintai ibu…

In Random Things of Me on June 25, 2013 at 10:07 am

Kamu tentu tahu ibumu wanita yang luar biasa. Ibu menjadi seorang ibu ketika mengandungmu. Sembilan bulan kau di perut ibumu, dibawanya kemana-mana. Hingga sesak nafas dan kaki kesemutan. Tidur miring kekanan salah, kekiri juga salah. Tendanganmu dalam perutnya pertama kali buatnya bahagia, tapi keseringan jadi capek juga.

Kamu tentu tahu ibumu wanita terkuat. Kamu dilahirkan dengan taruhan nyawa. Biarpun sekarang wanita lebih memilih membedah perut dan mengeluarkan anaknya dari tempat tak semestinya. Setiap detik kontraksi itu hadir, siksa. Setiap mili daging yang ikut tersobek, siksa. Tapi itulah namanya perjuangan. Melahirkanmu tentunya. Hingga tangis pertama terdengar ditelinga. Barulah seorang ibu bisa terbayar sakitnya dan memejamkan mata sambil tersenyum bahagia.

Kamu tentu tahu ibumu wanita yang baik hati. Kau minum air susunya dua tahun lamanya. Kau ditimangnya setiap hari. Meskipun tangismu tak juga berhenti. Dia harus kuat melawan kantuk, sedang kau tertidur. Kau lapar, diberinya makan. Kau haus diberinya minum. Kau ingin berjalan, dia lah pemandumu. Kau ingin bermain, dia jadi temanmu. Dialah perpustakaan pertamamu. Dialah sumber kehidupanmu.

Dari matanya, ia melihatmu tumbuh menjadi dewasa. Menjadi asing dan menjadi seorang pengembara. Khawatir, cemas, sedih, adalah teman sehari-harinya. Sehingga saat kau pulang tak jarang ia mengomel, bukan karena marah, tetapi karena cinta. Cinta yang posesif dari seorang bunda untuk melindungi pertama hatinya.

Mencintai ibu tak pernah sesusah ini dan semenyedihkan ini buatku. Memandangnya lemah tak berdaya di ranjang dengan badan membengkak karena sakit ginjal akibat komplikasi diabetesnya. Jarum yang ditusukkan kebadannya seperti juga menusukku pelan-pelan. Sakit. Duh ibu, ingin kugantikan dirimu di ranjang itu.

Mencintai ibu tidak pernah sesulit ini. Menerima tatapan sedih dan mengiba darinya saat harus menjalani cuci darah. “Sakit Nak…” ucapmu pelan. Aku menangis bu. Menangis diam-diam di belakangmu.

Mencintai ibu tidak pernah sepilu ini. Hingga saat-saat terakhirmu, masih sempat mengucapkan kata tak bisa jauh dariku. Diiringi derai air mataku, anakmu yang tak sekuat dirimu, engkau pergi. Senyum terakhirmu, pelukan terakhirmu, dan tangisan terakhirmu yang kau bagi denganku Ibu, kenangan terakhir yang berikan untukku.

Mencintai Ibu, tak pernah seberat ini. Saat kumandikan dirimu terakhir kali. Kupakaikan pakaian putih suci abadimu dan kuantarkan dirimu menuju peristirahatan terakhir. Air mata ini kutahan agar keluar pelan-pelan. Sesak…

Ibu buatku adalah rumah. Tempatku pulang dan berbagi cerita. Teduh, nyaman, dan tenang. Kini rumah itu sudah tidak ada, hanya bangunan tanpa nyawa. Aku masih di dalamnya, termangu dan mencoba menyadari ini bukan mimpi. Cintailah Ibumu selagi mampu, dengan segenap jiwamu. Karena perpisahan itu pasti dan hanya Tuhan yang tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: