Ayu Galuh Anggraini

Winter in Seoul: Perjalanan panjang ke N Seoul Tower (N서울타워)

In Seoul - Korea on May 26, 2013 at 9:55 pm

Perjalanan ke N Seoul Tower ini merupakan perjalanan yang berawal dari tersesat. Rasanya sih sedih, capek tapi berakhir happy ending. Campur aduk lah. Ceritanya saya dan suami setelah puas berkeliling Namsan Hanok Village, kami melihat beberapa orang turun dari bagian atas wilayah Namsangol Hanok Village ini. Dengan asumsi mungkin ada jalan ke Namsan tower dan juga mungkin kita bisa langsung sampai di lokasi cable car stationnya akhirnya kita ikutilah orang-orang itu.

Sampai di atas, kita melewati pagar batas Namsan hanok village dan kita pun bingung celingak-celinguk. Kita terdiam beberapa lama dan bertanya-tanya…

“dimana tempatnya?”

“Dimana cable car stationnya”

“Where are we going”

“Huaaaaa I’m lost!!”

Pilihannya ada 2, turun lagi, balik ke station chungmuro lalu naik subway ke myeongdong untuk naik shuttle bus ke cable car stationnya. Karena nekat dan berprinsip yang terjadi terjadilah, saya akhirnya mengikuti langkah kaki dua orang perempuan muda melewati jembatan layang. Dari sana jalan kaki melewati terowongan yang gelap. Sampailah di persimpangan, kami ambil jalan ke kanan karena melihat banyak orang disana. Sepertinya jalannya benar *senyum lebar sekali*

never ending road
Kami berdua jalan kaki dengan gaya turis. Sementara yang jalan kaki disana sepertinya niat berolah raga dengan sepatu kets, backpack, botol air minum, topi. Pokoknya kostum olah raga lah. Kita pun sibuk foto-foto. Karena pede, setiap ketemu ahjumma dan eommoni saya selalu menyapa atau tersenyum. Pemandangannya indah banget.

30 menit kemudian, saya mulai capek (kebanyakan gaya sih). Dikit-dikit berhenti dan duduk manis di kursi-kursi yang memang disediakan disepanjang jalan menanjak itu. Tak lama setelah saya duduk datanglah seorang bapak tua yang melihat kami berdua dengan tatapan aneh. Tiba-tiba dia langsung menaikkan kakinya ke dahan pohon yang ada di sebelah suami. Setelah itu dia melakukan berbagai macam pose. Saya terheran-heran, mengapa dari sekian ribu pohon, dia harus beraksi di sebelah kami. Tak pelak lagi, banyak yang mengernyitkan dahi melihat aksi si bapak dan muka bengong cakep ala turis kami berdua. Saya langsung berbisik ke suami:

“Let’s go.. Let’s get out of here”
“Ok”

Akhirnya saya dan suami langsung semangat berjalan menjauhi si bapak overacting tadi. *lap keringet*

a traditional resto
30 menit kemudian? Saya tentu saja masih jalan kaki dengan sepatu boots saya yang nampaknya tidak didesain untuk jalan kaki dengan medan seperti ini. Kaki saya mulai lecet-lecet. Tapi apapun yang terjadi kami harus berjuang. Apa kata dunia? Masa kalah dengan ibu-ibu yang banyak jalan-jalan disana yang saya taksir umurnya lebih dari 50 tahun? Harga diri!! Harga diri yuk!!

stairway
30menit kemudian saya pun sampai. Sampai di Namsan Tower? NOT EVEN CLOSE!! Saya baru sampai di persimpangan antara jalan besar menuju cable car station dan ke atas bukit namsan. Saya dihadang bapak-bapak yang berbicara dengan bahasa Inggris patah-patah sambil menunjuk-nunjuk ke atas. Intinya sih (kayaknya) mau di-guide gak kesana? Kami berdua geleng-geleng. Kecuali dia nawarin saya jasa gendong sampai atas, mungkin saya pikir-pikir lagi.

Eng ing eng… Di hadapan saya kini terbentang ribuan anak tangga yang membayangkannya saja saat menulis tulisan ini saya langsung keringetan capek. Tangganya gede-gede pula, nanjaknya gak kira-kira. Malah ada yang almost 90 derajat, yah mungkin sekitar 75 derajat deh. Hebatnya, ada mbak-mbak yang naik dan dia pake heels. Setelah melewati tangga yang 75 derajat itu, saya duduk manis di kursi panjang disana sambil ngeliatin si mbak-mbak yang berjuang keras naik dengan heels dan rok pendeknya itu. Sampe atas, dia senyum-senyum malu sama saya, lalu cekikikan. Kayaknya sadar dia saltum.

Kirain dah deket ya? Huahahahahahaahaa… Masih jauh sodara-sodara. Sekitar 40 anak tangga diatas ada tempat yang keren banget. Semacam observation deck gtu, namanya “Jamdoobong Photo Island”. Mungkin dinamakan begitu karena kita bisa melihat seluruh seoul dari tempat ini. Ada seorang petugas disana yang ramah, tapi karena saya non korean, jadi mungkin dia ngga bisa jelasin ke saya pake bahasa korea, jadi saya hanya disenyum saja.

photo island

view from the top
Untuk sampe ke N Seoul Tower saya harus melewati mungkin ratusan anak tangga lagi. Untungnya cuaca dingin, jadinya saya gak keringetan parah seperti waktu hampir pingsan gara-gara ratusan tangga ke pantai Karma Kandhara Bali. Well, akhirnya saya sampe juga. Senangnya ampun-ampun, karena perjuangannya tidak mudah. Sebuah pengalaman yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya (dan sejujurnya pengen nyoba lagi dengan alasan pengen jalan yang santai sambil menikmati suasananya yang tenang banget).

historical site

corat coret bandung

namsan tower

Namsan Love Lock

Sampai disana saya foto-foto dong, dengan haechi Seoul. Lalu naik ke area gembok cinta. Pasang gembok duooong. Karena hari itu tepat 14 February bisa kebayang dong ramenya yang pada pasang gembok atau mencari gembok yang dulu dipasang disana. Yang ga bawa pasangan pasti akan gigit jari dan sakit hati. Saya memutuskan untuk tidak naik ke observatory karena sudah bosen liat pemandangan, dan tidak ke teddy bear museum karena ada tontonan yang lebih menarik lagi.

haechi seoul

love seoul

jejakku

Kerennya tentara Joseon

Saya tidak pernah tau ternyata ada pertunjukkan sekeren ini. Saya bisa bengong melihat aksi mereka dan ingin berlama-lama walaupun dinginnya udara saat itu sudah diambang batas badan saya. hehehe… tapi kan jarang-jarang yah bisa lihat yang begini di negara asalnya. Beberapa teman saya tanya, mereka juga banyak yang tidak kebagian liat pertunjukkan ini. How lucky i am. *grin*

attack

martial arts training

Jadi untuk awalnya, kami disuguhi pertunjukan musik samulnori yang rancak sekali. Setelah itu baru para ahli bela diri ini mempertunjukkan cara-cara latihan tentara kerajaan di era Joseon. Bagaimana cara mereka berlatih dengan pedang, dengan tombak, dan juga saat tanding satu lawan satu. The best-nya adalah sekali tebas, batang bambu pun bergelimpangan. Ada juga tarian pedang yang ditarikan oleh seorang perempuan. Keren sekali. Setelah selesai, kita bisa berfoto dengan mereka ini.

duel

swordman

tarian pedang
joseon

having a pose with performers
Berhubung sudah menjelang malam, saya dan suami memutuskan untuk turun saja. Jalan kaki? Nope! No way! Naik cable car saja ah. Ha ha.. Sebelum beli tiket cable car, kita mampir ke cafe disana membeli Tornado Potato, seharga 2000KRW. Enaknya!! Kemudian kami naik cable car dan ketika sampai di stasiun cable car yang di bawah, saya menghangatkan diri dulu sebentar sebelum ke destinasi selanjutnya.

Kalau kalian ingin memiliki pengalaman berbeda saat traveling ke Seoul, bisa dicoba jalur saya ke Namsan tower ini. Saya bisa jamin kalian akan capek, tapi saya bisa jamin juga kalian gak akan nyesel dengan pemandangan dan suasananya. Ngga bakal rugi.

Happy traveling!

  1. Kurang gede foto2 nya mbakkkk…. Ga keliatan, cilik menn jee

  2. Yang pertunjukan Army itu ada setiap akapan aja ya mba ? Ada jam tertentu ?

    • Ada jam-jam tertentunya dan hari-hari tertentu. Kadangkala sesuai dengan jadwal dan kadangkala tidak terutama kalau suhu terlalu dingin atau hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: