Ayu Galuh Anggraini

Berpetualang di Bosscha

In Jalan-jalan, Jelajah Negeri on October 12, 2012 at 10:31 pm

Ingat ngga film “ Petualangan Sherina” yang menjadi titik awal kebangkitan film Indonesia? Pasti ingat donk salah satu adegannya bersetting di sebuah bangunan yang terkenal di daerah Lembang Jawa Barat. Yup, bangunan antik itu bernama “Observatorium Bosscha”.

Setelah sekian lama, akhirnya saya berhasil juga mengunjungi observatorium ini beberapa waktu yang lalu. Walaupun cuaca sedang tidak bersahabat alias hujan, tidak menyurutkan hasrat saya melihat dari dekat seperti apa sih aslinya bangunan bersejarah ini, bukan hanya dari gambarnya saja.

bukan tempat piknik

Saat itu pukul 10.00 WIB, saya memasuki areal observatorium. Di depan pintu pagar paling depan ada tulisan “Tutup…….hubungi……”. Saya sempat pesimis, karena kalau ternyata tutup berarti saya gagal lagi menunaikan keinginan saya ini. Tapi biarlah, akhirnya nekat juga naik ke atas. Kali ini dihadang hujan deras yang mengguyur.

Sesampainya di atas, saya disarankan menuju loket pendaftaran pengunjung, dengan hanya membayar Rp. 2000 untuk dua orang saya bisa mengikuti penjelasan singkat dan juga boleh masuk ke dalam observatorium itu. Sayangnya saya harus menunggu dua jam lagi, karena jam 12 observatorium baru akan dibuka.

Sambil menunggu kita bisa melihat-lihat atau membeli souvenir yang disediakan di sebuah etalase sederhana di sebelah meja pendaftaran. Ada gantungan kunci, buku-buku astronomi, stiker, software astronomi, kaus, serta barang-barang yang lainnya.

edukasiDua jam kemudian, kami semua yang telah dengan sabar menunggu dipersilahkan masuk ke dalam sebuah ruangan. Disana telah menunggu seorang perempuan yang nantinya akan memberikan penjelasan singkat. Perempuan tersebut (yang saya lupa namanya) memperkenalkan diri sebagai mahasiswi di ITB jurusan Astronomi. Penjelasan panjang lebar meluncur dari bibir gadis berjilbab tersebut, walaupun kadang-kadang terbata-bata dan agak kurang jelas, semua maklum. Dari belakang juga sering terdengar celetukan-celetukan menggoda yang hanya ditanggapi dengan senyuman. Bosan…..

kubah

Akhirnya setelah selesai penjelasan, kami baru boleh masuk ke dalam bangunan yang sepintas mirip kue muffin (hehe…..). Langsung saja jepret-jepret. Di dalam sudah banyak anak-anak yang dating rombongan dengan berpakaian seragam sekolah yang berebut menanyai seorang lelaki yang kuduga juga mahasiswa yang ditugasi menjaga “gawang”. Bangunan yang lumayan luas tapi sedikit barang, dan suara yang menggema membuat penjelasan yang diberikan tidak terdengar jelas. But it’s ok, karena aku sudah beli bukunya (hi..hi), yang kubutuhkan sekarang adalah sedikit ruang gerak agar leluasa berpose untuk mengabadikan kenarsisanku ini.

teleskop raksasa

antik

Finally, pulang dengan hati gembira….menenteng kamera yang memorinya penuh dan berjanji akan kembali lagi kemari kalau ada waktu untuk melakukan obervasi di waktu malam. Penjelasan selanjutnya aku tuliskan kembali dengan bersumber pada buku “Observatorium Bosscha – ITB. 50 Tahun Pendidikan Astronomi di Indonsia dan World Space Week 2001”

Sejarah Observatorium Bosscha

Tahun 1920 merupakan tahun yang istimewa dimana telah digulirkan ide pendirian “stasion pengamatan bintang” dengan berdirinya Nederlanch Indische Sterrenkundige Vereeniging (Perhimpunan Ilmu Astronomi Hindia Belanda) yang dipelopori oleh Karel Albert Rudolf Bosscha. Tanggal 12 September 1920 diadakan rapat pertama NISV di Hotel Homman, Bandung, yang memutuskan untuk membangun sebuah observatorium untuk memajukan ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Sang pelopor NISV, Mr. Bosscha, berjanji untuk memberikan bantuan gunan pembelian teropong yang sama modernnya dengan penelitian kandidat tempat yang akan dijadikan lokasi pendirian observatorium. Sementara itu, Mr. Bosscha dan Dr. J. Voute (astronom yang nantinya akan menjadi direktur observatorium pertama) mempersiapkan diri keliling eropa guna pembelian teropong. Setelah berkonsultasi dengan berbagai astronom dunia, Mr. Bosscha dan Dr. Voute tahun 1921, berangkat ke Askania Werk di Jerman untuk memesan “Meridian Circle” dan ke Carl Zeiss Jena untuk memesan “Double Refraktor”.

Setelah melakukan penelitian, tempat yang dianggap cocok jatuh pada salah satu anak pegunungan tangkuban perahu, 15 km ke Utara dari pusat kota Bandung. Setelah sekian lama menanti, akhirnya teleskop double refraktor tiba tanggal 10 Januari 1928. Beberapa bulan setelah instalasi teleskop double refraktor Zeiss selesai, Mr. Bosscha meninggal, tepatnya tanggal 26 November 1928. Kenangan jasa beliau tak akan terlupakan oleh banyak orang (khususnya astronom Indonesia), dengan mencantumkan nama sang pionir sebagai nama observatorium, “Observatorium Bosscha”.

Jika ingin berkunjung

Bagi yang berminat berkunjung diwajibkan mendaftarkan diri. Pendaftaran dapat dilakukan dengan datang langsung ke Tata Usaha, atau melalui surat, e-mail, maupun telepon/fax. Alamat yang dapat dihubungi adalah:

Kepala Observatorium Bosscha, FMIPA, ITB

(u.p. Ibu Cucu Suryati)

Telepon/Fax: 022-278-6001

Email: kunjungan@as.itb.ac.id

Situs internet: www.as.itb.ac.id
Jenis Kunjungan

1. Kunjungan Siang (Selasa-Sabtu). Waktu antara pukul 08.00 – 16.00. Penerimaan dibagi menjadi 3 periode, yaitu pukul 09.00; 12.00 dan 15.00 kecuali hari Jumat, jam 09.00, 13.00 dan 15.00. Pengunjung akan diperlihatkan fasilitas teropong serta diberikan penjelasan tentang teleskop dan topic astronomi secara umum. Pengunjung tidak mendapatkan kesempatan meneropong benda langit.

2.  Kunjungan Malam rutin. Waktu antara pukul 17.00 – 20.00. Kunjungan malam hanya diadakan 3 malam tiap bulan, dalam bulan April sampai dengan Oktober. Tanggal kunjungan diatur oleh observatorium. Pengunjung melihat fasilitas teropong, ceramah astronomi popular dan sesi khusus Tanya jawab. Kesempatan meneropong benda-benda langit diberikan dengan teropong Bamberg, Unitron dan teleskop portable, jika cuaca memungkinkan.

3.  Kunjungan Malam dengan permintaan khusus. Sama dengan Kunjungan Malam rutin tetapi tanggal ditentukan sesuai dengan jadwal aktivitas penelitian di observatorium Bosscha. Topik ceramah dapat dikonsultasikan dengan pihak observatorium.

happy traveling!

(ini tulisan saya yang amat sangat lama, dari blog saya yang lama pula)

  1. eeeh gak pernah baca tulisan ini di alm. multiply. Menarik. Aku lewat2 aja gak pernah tergoda mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: