Ayu Galuh Anggraini

Backpackeran ke Tokyo: My last day (part 2)

In Jalan-jalan, Tokyo on October 3, 2012 at 7:56 pm

Sepeninggal yuichi kami berdebat apakah akan menjelajah ginza atau memilih ke airport. Rupanya suami saya sdh tidak kuat lagi berjalan karena kapasitas kaki sdh overload. Jadi jalannya sampe terpincang-pincang. Maklum karena di Indonesia kami jarang sekali berjalanan jauh dan memang berjalan kaki waktu musim dingin itu berat sekali. Tubuh menjadi cepat capek karena harus berjuang melawan dingin juga. Tetapi tetap saja saya suka traveling musim dingin. Gak bakalan kapok deh pokoknya. Kami juga baru sadar bahwa di Indonesia kami sangat dimanjakan dengan kendaraan pribadi. He he..

to hanedaKemudian kami berdua membeli tiket kereta untuk ke bandara haneda. Sempat nyaris nyasar tapi Alhamdulillah selamat sampai tujuan. Sambil menunggu dan istirahat, saya duduk-duduk di kursi-kursi empuk yang tersedia. Suami berjalan-jalan keliling area. Soalnya bandaranya bersih dan bagus. He he..

Sejurus kemudian, seorang bapak-bapak kurus dengan perawakan tinggi dan memakai jas, sambil mendorong koper-koper super besar mendekati saya. Nampaknya ia warga keturunan India,  dan ternyata setelah ngobrol dia berasal dari malaysia. Berikut percakapannya:

“Assalamu’alaikum” sapanya

“Wa’alaikum salam” jawab saya

“Where are you from?” Tanya dia

“Indonesia”

“I’m from malaysia, and I’m moslem. Can you help me?”

“Hmm.. what is it sir?”

“Can you take my luggage with you when you check in? Cause, I don’t know if I just can only bring 20kg and the price is very expensive for extra baggage”

“Sorry sir, but I can’t take it with me”

“Please.. It’s free. You won’t have to pay for it”

“I don’t think so sir. Cause as far as I know, if you have to put your stuff in baggage you have to pay. Nothing is free in budget airlines”

Otot-ototan berjalan sekitar 10menitan. Muka memelasnya sama sekali tidak menggerakkan hati saya. Pertama, karena saya tidak membeli bagasi jadi saya tidak akan bisa membawa barangnya. Kedua, siapa yg akan membayar bagasinya kalau ternyata kena charge? Karena dia mengira tiap penumpang dapat free bagasi. Ketiga, bagaimana kalau isinya barang-barang selundupan? Terlarang? Matilah saya.

Karena kejadian itu saya memutuskan kabur dari area tempat saya duduk. Saya kemudian mendekati computer station yg tersedia disana. Saya kira free internet ternyata tidak. Itu berbayar, sekitar 200 yen. Saya lupa untuk berapa lama. Saya cuma iseng-iseng buka facebook dan googling gak jelas. Kemudian saya dapat notifikasi kalo fb saya di block oleh adminnya karena telah diakses dari luar Indonesia. *tepok jidat* Jadilah saya harus menjalani serangkaian test dari FB untuk meyakinkan bahwa benar saya yang mengaksesnya.

Kemudian, saya menoleh lagi mencari si bapak tadi. Ternyata dia masih berkeliling mencari orang yang mau dititipi. Tapi sayang, tidak ada yg berkenan. Jadi dia memutuskan untuk duduk saja. Saya pun mencari lokasi duduk yang jauh darinya. Tak lama kemudian suami saya datang dan menyuruh saya gantian keliling-keliling. Katanya di lantai dua keren banget dan ternyata memang keren banget dan bersih.

Begitu naik eskalator saya seperti melakukan perjalanan menembus waktu kembali ke jaman edo. Toko-toko souvenir, resto-resto didesain seperti di jaman lampau. Ada pohon sakura berdiri megah tepat di tengah. Gagah. Jika naik lagi ke atas ada deretan toko-toko yang menjual aneka pernak-pernik anime, acessories wanita. Saya tertarik beli payung gaya gothic berenda, tapi mundur teratur begitu lihat harganya yg jika dikonversikan sekitar setengah juta rupiah. Hiks.. Bagus bgt sih emang.

edo tokyo haneda

Jika ingin melihat-lihat landasan pacu dan pesawat yang sedang parkir bisa ke observation deck. Saya mampir sebentar, melihat matahari terbenam di langit tokyo. Anginnya kencang sekali. Jadi saya kembali kedalam dan turun menemui suami dan duduk-duduk saja sambil menunggu check in.

upper level hanedaSaat check in tiba. Saya disapa dengan bahasa jepang. Ketika saya jawab bahasa inggris tetap ditanya pake bahasa jepang. Baru ketika saya keluarkan paspor hijau tercinta saya, si mbak petugas langsung berkata “sumimasen” dan melanjutkan pertanyaan pake bahasa inggris. Ah.. Saya akhirnya harus say good bye dengan negara ini.

i hate to go

Sayonara yuichi, sayonara tokyo, sayonara japan, sayonara sakura.. I hope someday I can come again to Tokyo. Just like yuichi said, maybe someday..

  1. Si Bapak yang mau nitip kocak banget, pakai senjata sama-sama Moslem biar ditolongin ya? Lha tapi kan tetep kalau Air Asia mana bisa😛

  2. Terimakasih dan salam kenal ya… infonya sangat bermanfaat.. semua saya baca, karena berencana ke Tokyo backpackeran juga bulan ini, mudah-mudahan ngurus visanya gampang ya (tiket Air Asianya sdh dapat dari 2012).. btw, menarik banget tulisanmu, kalau jadi berangkat, saya ngga akan melewatkan Ueno Park..

    • Salam kenal juga mba
      Terima kasih sudah mampir ke blog saya. Senang sekali bisa berbagi cerita dan bisa bermanfaat.
      Mudah-mudahan perjalanannya lancar.
      Happy traveling!

  3. wahh ada juga ya yang mau nitip barangnya di bagasi orang lain gitu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: