Ayu Galuh Anggraini

Backpackeran ke Tokyo: Kisah belut dan gerombolan kucing lucu

In Jalan-jalan, Tokyo on September 5, 2012 at 11:44 am

Mungkin yuichi terinspirasi dengan perkataan si bule perancis, tentang makanan tradisional jepang. Akhirnya yuichi mengajak kami masuk ke sebuah restaurant yang tidak jauh dari shibuya crossing. Ruangannya tidak besar dan tempat duduknya diberi sekat-sekat seperti ruang warnet. Seorang pelayan cantik memakai yukata tersenyum manis berbicara bahasa jepang kepada yuichi. Kalau di Indonesia mungkin dia sudah jadi artis, unyu-unyu soalnya. *did I just said unyu-unyu?*

Tak lama kemudian ocha panas terhidang di meja. Kami memesan beberapa menu makanan yang berbeda supaya nanti bisa saling mencicipi. Karena selama di Tokyo segala macam kebutuhan kami ditanggung oleh yuichi, jadi sekarang giliran saya yang traktir. Harga makanan di resto itu cukup mahal, menu lengkap bertiga sekitar 7000 yen. Tetapi porsinya jangan ditanya. Amat sangat mengenyangkan dan lengkap. Jadi harga berbanding lurus dengan tingkat kepuasan saya. Highly recommended.

Menu special dari resto tersebut adalah belut (unagi) jadi saya memesan unagi yang dipanggang, sedangkan yuichi memesan unagi yang dimasak kuah. Suami saya yang konvensional dan kadang susah beradaptasi dengan makanan yang asing memesan paket tempura. Yuichi sempat mengira kalau kami berdua tidak suka belut, karena mungkin kami akan jijik dengan penampakan asli belut sebelum dimakan. Akhirnya saya cerita bahwa di Indonesia, saya sudah biasa makan belut. Hanya saja berbeda bumbu dan cara memasaknya. Bahkan waktu kecil saya suka mancing belut dan salah satu teman sekarang malah bisnis belut untuk diekspor ke Jepang!!

menu makan saya, unagi panggang
sup yang bening tapi seger banget rasanya dan ada lotus seed-nya
menu makan suami, tempura
pesanan yuichi

Yuichi pun menyuruh saya mencoba makan rebung jepang. Rebung atau tunas bamboo di jepang dijadikan sayuran pelengkap juga ternyata. Nah rebung jepang kecil sekali, mungkin hanya benar-benar pucuknya saja yang dihidangkan. Kalau di Indonesia, sampai nyaris akar malah. Dibikin sayur lodeh, atau isi lumpia, atau dibuat lalapan dengan sambal terasi. Bikin perut langsung meronta-ronta minta diisi. Saya bercerita kepada beliau kalau orang Indonesia sudah tidak asing lagi makan makanan jepang, karena nyaris di semua mall di Jakarta ada kedai ramen atau sushi. Mungkin kalau beliau diberikan kesempatan ke Indonesia, saya mau ajak beliau keliling untuk melihat betapa tergila-gilanya orang Jakarta dengan masakan Jepang. *sedikit ironis tulisan saya ini*

Saat membayar di kasir, si pelayan cantik (yang juga merangkap kasir), menanyakan kami dari mana. Begitu tahu kami dari Indonesia, dia langsung bercerita tentang Bali. Dulu dia mengunjungi bali tepat saat kejadian bom bali 1. Untungnya tempat dia menginap jauh dari pusat ledakan. Dia bercerita kalau dia sangat ketakutan saat itu, tetapi kemudian dia tetap melanjutkan liburannya dan ingin kembali lagi ke Bali.

Neko Cafe

Saya tahu tempat ini dari televisi, tepat seminggu sebelum berangkat ke Jepang. Salah satu tv swasta menayangkan berita tentang café kucing yang sangat terkenal. Ada banyak sekali neko café di Tokyo, tapi saya mengunjungi yang ada di Shibuya. Tempatnya tidak jauh dari shibuya crossing, mungkin jalan kaki sekitar 3-5 menit saja. Letaknya di salah satu gedung dan masih harus naik lift lagi. Hanya ada poster penanda di dekat pintu masuk gedung kalau disana ada neko café. Yuichi sempat dituduh oleh salah satu orang jepang yang menyapanya kalau dia mempunyai niat buruk kepada kami berdua yang berstatus turis. Ckckckck…..

penanda kita sudah di gedung yang ada neko cafe-nya

Setelah sampai di depan neko café, saya terkejut karena nampak dari luar sama sekali tidak seperti café dan seperti sudah tutup. Ternyata kemudian dari jendela kecil disana seorang wanita bertampang tidak ramah menyapa dan menanyakan kami akan disana berapa lama. Tarif masuk ditentukan dari berapa lama kita akan stay di café itu. Biaya akan ditambah dengan minuman apa yang kita pesan (ini keharusan) dan ditambah lagi biaya service sekitar 30% per orang. Kami bertiga memutuskan untuk berdiam disana selama 30 menit dan minum milk tea. Sehingga per orang kami diharuskan membayar sekitar 1300 yen. Cukup mahal.

daftar harga
cats in a cage?

Ada beberapa aturan yang harus dipatuhi oleh pengunjung, yaitu

  • Sewaktu masuk kita harus melepaskan sepatu dan menggunakan sandal ruangan yang sudah disediakan.
  • Jaket dan coat juga harus dilepas dan digantung ditempat yang disediakan.
  • Barang bawaan kita juga harus disimpan, jadi tas dan segala macamnya dimasukkan kedalam kantung penyimpanan dan disimpan oleh pengelola café-nya.
  • Untuk menjaga kesehatan kita dan juga kucing-kucing disana, kita diharuskan mencuci tangan dengan aturan tertentu.
  • Tidak diperbolehkan juga mengambil foto dengan menggunakan flash light.

Sedangkan untuk interaksi kita dengan para kucing yang lucu itu juga ada aturannya yang membuat saya sedikit bingung harus bagaimana.

  • kucing yang sedang tidur dilarang diganggu.
  • Tidak boleh memindahkan kucing dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.
  • Tidak boleh mengangkat kucing (menggendong) sambil berdiri, tetapi jika kita angkat kucing dan posisi kita sedang duduk dibawah lalu kita taruh di pangkuan kita itu masih diperbolehkan.
  • Jika ingin bermain-main dengan alat-alat, hanya boleh dengan mainan yang disediakan disana.
  • Tidak boleh mengajak main dengan tali hand phone misalnya atau benda-benda lain yang bukan property dari neko café.
  • Oyah, ada beberapa kucing yang ditandai dengan tali leher berwarna-warni. Sewaktu saya kesana, saya dilarang memegang yang bertali leher biru. Sedangkan yang bertali leher warna merah hanya boleh di elus saja.
small library in the corner

wanna sit here?

Saking banyaknya aturan, saya jengah sendiri. Kikuk dan menjadi kaku tiba-tiba. Tapi saya sadar, mengelola sebuah café yang menawarkan konsep interaksi antara manusia dan hewan itu tidak mudah. Dahulu neko café buka 24 jam, tetapi diprotes oleh aktifis penyayang hewan, karena sangat tidak berperi kehewanan katanya. Ditempatkan dalam satu ruangan, berinteraksi dengan banyak orang berganti-ganti, bisa meningkatkan tingkat stress pada hewan. Jadi saya tidak heran kalau kucingnya ada yang mendadak ganas suka mencakar, atau ada yang senang menyendiri, atau ada yang doyan berantem. Pengelola café-nya juga saya liat suka khawatir dan curigaan dengan pengunjungnya kalau-kalau saya melanggar aturan dan bikin kucingnya kenapa-kenapa.

adorable!
Konnichiwa!sleepy cat and yuichi

oh sleepy cat.. i will make you more cute
taaraaaa!!!

Tapi dibalik semua aturan itu, tempat ini merupakan surga deh buat cat lover seperti kami bertiga. Bisa jadi tempat menghilangkan kejenuhan dan kepenatan yang mendera. Saya benar-benar terhibur dengan tingkah polah kucing-kucing yang begitu lucu dan menggemaskan sehingga tak sadar, waktu yang hanya 30 menit berlalu begitu saja. Terima kasih atas hari yang menyenangkan Ya Alloh. Kami bertiga pun pulang dengan senyum tersungging di wajah.

happy traveling all !

  1. Oyah, ada beberapa kucing yang ditandai dengan tali leher berwarna-warni. Sewaktu saya kesana, saya dilarang memegang yang bertali leher biru. Sedangkan yang bertali leher warna merah hanya boleh di elus saja.

    Emang kenapa gak boleh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: