Ayu Galuh Anggraini

Backpackeran ke Tokyo: Harajuku – Omotesando

In Jalan-jalan, Tokyo on September 5, 2012 at 10:34 am

Setelah dari Meiji Jingu, kami menyebrang jembatan “anti licin” tadi kearah jejeran café-café yang ada disana. Semua penuh orang yang mengantri. Akhirnya setelah memilih dan memilah, masuklah saya ke sebuah café yang sekiranya cukup nyaman dipakai untuk beristirahat dan berlindung sejenak dari udara dingin.

 

my menu

Café itu menawarkan paket cake /pastry dan minuman dengan harga 500 yen. Saya tugasnya mengamankan tempat duduk untuk kami bertiga sedangkan suami dan yuichi mengantri. Sedang enak-enaknya menunggu tiba-tiba seorang wanita menghampiri tempat duduk yang sudah saya timpa tas biar tidak diduduki dan ia berniat memindahkan tas itu untuk duduk disana.
Me: “Sumimasen… I am sorry… this seat is taken”
Her: (ngomel bahasa jepang)
Me: (senyum semanis mungkin dan se-innocent mungkin)
Her: (merengut dan pindah) Kemudian saya melihat dia membanting tas-nya dan juga HP-nya, sepertinya sangat marah.

Well, dua kali hari itu saya melihat orang ngamuk-ngamuk gak jelas. Jadi nampaknya saya sudah mulai terbiasa. Toh saya tidak dirugikan, malah dia yang rugi kalau hp-nya rusak gara-gara ia banting sendiri. Sejurus kemudian pesanan saya datang. Tea and strawberry cheese cake. Sambil makan saya charge baterai kamera saya yang sudah nampak hidup segan mati tak mau.

Saya melihat sekeliling saya, sebelah saya ada seorang perempuan muda yang nampaknya masih sekolah sedang membaca buku sambil merengut. Diujung sana, ada perempuan yang duduk sendirian sambil membaca setumpuk buku, lelaki di kursi sebelahnya juga. Kebiasaan membaca warga jepang ini harus saya tiru. Sama seperti di Singapura, dimana saja dan kapan saja mereka selalu membaca buku. Jadi tidak ada waktu luang yang terbuang percuma. Puas snacking, kami bertiga menuju wilayah harajuku. Untuk memuaskan keingin tahuan akan wilayah yang katanya kiblat fashion-nya jepang.

Cara menuju kesana

  • Jalan sebentar dari Omotesando Subway Station dari Chiyoda/Ginza/Hanzomon Line A1-3, B4.
  • Bisa juga melalui Meijijingumae Subway Station dari Chiyoda Line Exit 1/3-5.
the crowd
yuichi and my husband having a pose

Sepanjang jalan itu ramai sekali. Orang-orang berjalan menyemut. Semua orang memakai pakaian yang fashionable. Beberapa perempuan terlihat memakai pakaian ghotic lolita lengkap dengan payung yang lucu berenda itu. Sambil berjalan, saya melihat jejeran outlet-outlet branded fashion item maupun yang indie label. Semuanya keren-keren. Tapi saya tidak masuk ke dalam mall-nya/outletnya loh. Untuk hemat waktu. Tau sendiri kan gimana cewe kalau sudah masuk toko pakaian?

Omotesando hills

Sepanjang jalan itu adalah omotesando hills. Omotesando hills dibangun pada tahun 2005 Mori Building. Masih ingat Roppongi Hills? Nah keduanya dibangun oleh perusahaan yang sama. Bedanya, Omotesando merupakan kakak dari Roppongi. Di kalangan traveler, jika mengunjungi harajuku, mereka akan langsung menunjuk pada omotesando hills. Walaupun mereka juga bilang bahwa di dalamnya tidak terlalu banyak yang bisa dilihat dan tentu saja harganya yang mahal. Well, what do you expect? This area is “high class” area. Tetapi tetap saja, omotesando hills sudah menjadi landmark dari daerah ini sehingga wajib dikunjungi.

Sekedar info, waktu saya kesana harapan saya bisa melihat para anak muda jepang dengan dandanan ajaibnya dan berfoto bersama mereka. Ternyata saya salah loh. Saya tegaskan lagi kalau tempat nongkrong mereka itu di jembatan dekat meiji jingu. Jadi jangan berharap ketemu mereka disini. Mungkin ada sih beberapa yang lalu lalang tapi hanya lewat begitu saja.

Wilayah ini juga kaya akan arsitektur bangunan yang unik bin ajaib. Yuichi berkali-kali menyebut “strange shape building”. Ada bangunan yang dindingnya diliputi akar-akar tumbuhan. Pokoknya tidak bikin bosan. Selain itu juga, ada banyak resto fine dining disini. Saat saya kesana, saya melihat antrian panjang, Rupanya, ada resto bernuansa hawaii baru buka disana. hahaa… dan saya lihat beberapa orang Indonesia di line antrian. Tau darimana? Soalnya paling rame sendiri.

 

sabar mengantri
zigzag
mejeng dulu biarpun muka kusut
a curch
Nah, karena harapan tak kunjung terwujud dan nyaris berantem gara-gara ekspektasi suami tidak terpenuhi jadinya saya tidak memperhatikan kalau yuichi belok ke sebuah toko yang menjual makanan-makanan tradisional jepang. Akhirnya saya mengikutinya dan ikut masuk juga melihat-lihat. Ada nasi kepal, aneka permen, aneka sushi, kue-kue khas jepang, manisan-manisan buah. Tapi saya hanya menelan ludah. Hiks… takut gak halal.

Yuichi membeli 3 buah kue yang bungkusnya daun. Nantinya kue ini kita makan sesampainya di apartemen yuichi. Kue itu namanya Sasamochi. Sepintas mirip lontong/lemet/lemper. Bungkusnya adalah daun bamboo. Kalau kita buka, baunya khas sekali seperti bau teh hijau. Tapi kue itu tidak mengandung campuran teh hijau. Isinya adalah kacang merah yang sudah halus dan manis. Mirip dengan isi onde-onde. Yummy..


Selanjutnya petualangan tiga orang yang sempat nyasar dan dua orang dari Indonesia yang kedinginan ini adalah mengunjungi patung anjing yang setia. Hachiko di Shibuya. ^_^

Happy Traveling!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: