Ayu Galuh Anggraini

Backpackeran ke Tokyo: Ueno Park

In Tokyo on September 4, 2012 at 2:03 pm

Tempat ini saya pilih karena taman ini sangatlah terkenal, selain yayogi park (yang tidak saya datangi). Taman yang sangat luas ini terletak di sebelah Ueno Station di pusat kota Tokyo. Jadi mudah sekali jika ingin berkunjung kesana. Naiklah subway ke Ueno station dan keluarlah melalui Exit Park.
Sejarah Ueno ParkMenurut sejarahnya, taman ini didirikan pada tahun 1873 di lahan milik kuil Kaneiji. Kuil Kaneiji merupakan kuil milik keluarga Tokugawa selama masa Edo. Kuil ini didirikan pada tahun 1625 di lahan yang disebut “gerbang setan”. Disebut begitu karena terletak di timur laut benteng Edo, yang dianggap membawa sial. Kemudian saat perang Edo/Perang Boshin (1868), sebagian besar bangunan kuil ini hancur.

Pasukan Shogun Tokugawa pun berhasil dikalahkan dan pada bulan Desember tahun tersebut, bukit Ueno resmi menjadi milik kota Tokyo. Yuichi bilang, kalau taman di Tokyo itu ada dua macam. Taman tradisional dan yang modern. Kalau dilihat dari bentuknya, taman ini merupakan taman yang modern. Walaupun beberapa bagian masih bercirikan tradisional. Mungkin sebabnya taman ini didirikan pada awal periode Meiji yang mencoba mengawinkan “west” sebagai ciri modernisasi dan budaya asli jepang.
Dibentak gara-gara kucing…
Ada cerita yang tidak mengenakkan yang saya alami disini. Saat kami pertama tiba, suami saya melihat ada seekor kucing gemuk yang seliweran di dekat tempat parkir sepeda. Ada seorang wanita disana. Kami (yang semua pecinta kucing-red) langsung mendatangi kucing itu, berharap bisa saya belai-belai dan saya ajak main. Kalian tahu? Kucing di Jepang itu gemuk-gemuk dan menggemaskan. Yuichi punya kebiasaan memotret kucing setiap ia bepergian. Baik di dalam maupun luar Jepang. Kucing yang beliau foto selalu bertubuh gemuk dengan bulu yang bagus. Beliau bahkan memberikan kepada saya buku tentang sebuah film yang mengisahkan seorang supir taksi yang selalu mengajak kucingnya di dalam mobil taxi yang ia kemudikan. Lucuuu banget kucingnya.Kembali ke kejadian itu. Ketika jarak kami tinggal selangkah lagi. Tiba-tiba, wanita yang sedang sibuk dengan sepedanya itu membentak kami bertiga. Ia meracau dalam bahasa jepang yang tentu saja tidak saya mengerti dengan mengayunkan tangan tanda mengusir. Bentakan wanita itu sungguh mengagetkan saya dan tidak saya ekspektasi sebelumnya. Mood saya langsung berantakan. Rasanya seperti dipermalukan di depan umum loh. Tapi saya tidak mau hanya karena satu kejadian saja, saya harus menghancurkan hari indah itu.

Saya berusaha keras melupakan kejadian itu. Yuichi mungkin tahu kalau saya sangat kaget dan tidak nyaman. Beliau kemudian mengajak saya dan suami berfoto dibawah pohon sakura yang berkembang sempurna dekat pintu masuk taman. Saya kemudian duduk sebentar di bangku semen yang melingkari sebuah pohon. Saya tarik nafas panjang. Inner peace…inner peace. Kemudian saya melirik lagi ke arah perempuan itu. Yuichi bilang kalau perempuan itu berteriak kucing itu miliknya. Tampak perempuan itu berbicang dengan dua orang turis asing (baca: bule-red). Ia tampak ramah sekali. Hahaha… mungkin muka saya tampak seperti orang jahat ya sampai saya harus diusirnya seperti itu? Sangat menggelikan sekali. 

Saigo Takamori Statue

Yuichi mengajak saya dan suami masuk ke taman. Sebuah patung mencolok menarik perhatian saya. Patung seorang laki-laki berbadan besar yang gagah, dengan memakai pakaian tradisional jepang sambil menuntun anjingnya. Yuichi mengatakan kalau itu adalah patung Saigo Takamori. Masih ingat tentang patung Kaisuu Katsu di tepi sungai Sumida? Nah, Kaisuu Katsu dan Saigo Takamori berunding untuk suksesi kepemimpinan Tokugawa ke Meiji.

The statue in south entrance of the park

Saya mencoba mencari informasi lebih tentang beliau. Dari berbagai sumber, saya mendapatkan fakta bahwa film “The Last Samurai” ini terinspirasi dari kisah Saigo Takamori. Saigo adalah salah seorang yang paling berjasa dalam terjadinya restorasi Meiji. Namun pada perkembangannya kemudian beliau memimpin para samurai untuk melakukan pemberontakan kepada kaisar yang disebut pemberontakan Satsuma. Pemberontakan itu terjadi karena para samurai tidak ingin hal-hal yang sifatnya tradisional dihilangkan atas nama modernisasi. Seperti para samurai dihilangkan hak istimewanya dalam hal kekuasaan dan bahkan dilarang membawa katana (pedang).

Saat perang berlangsung (yang disebut Pertempuran Shiroyama-red), pasukan Saigo Takamori hanya berjumlah sekitar 40.000 orang sedangkan pasukan kekaisaran sekitar 300.000 ribu orang. Pertempuran yang tidak seimbang pun terjadi. Awalnya Saigo Takamori dan pasukannya berperang ala barat, dengan menggunakan seragam dan menggunakan meriam dan senapan. Namun mereka kehabisan amunisi, sehingga kembali menggunakan katana dan panah. Pertempuran itu berlangsung selama enam minggu.

Pada pertempuran terakhir pasukan Saigo Takamori tinggal 300-400 orang saja. Saigo Takamori-pun terluka berat di pinggul. Kemudian beliau melakukan seppuku pada tanggal 24 September 1877. Seppuku merupakan salah satu adat para samurai, terutama jenderal perang pada zaman edo yang merobek perut mereka dan mengeluarkan usus mereka agar dapat memulihkan nama mereka atas kegagalan saat melaksanakan tugas dan/atau kesalahan untuk kepentingan rakyat.

Ada juga yang mengatakan bahwa kepala Saigo Takamori dipenggal dan disembunyikan oleh pelayannya di suatu tempat dan akhirnya temukan oleh tentara kaisar. Ada juga yang menceritakan bahwa entah bagimana kepala beliau diambil oleh pasukan pemerintah dan disatukan lagi dengan tubuhnya dan disemayamkan disebelah jenazah para wakilnya yaitu Kirino dan Murata yang disaksikan oleh Kapten Angkatan Laut Amerika John Capen Hubbart. Legenda lainnya mengatakan bahwa kepala Saigo Takamori tidak pernah ditemukan. Dengan meninggalnya Saigo Takamori maka berakhir pula pemberontakan para Samurai Satsuma dan berkahir pula era Samurai di Jepang. Sepuluh tahun kemudian, kekaisaran Jepang meminta maaf dan memberikan gelar kemuliaan kepada Saigo Takamori sebagai the last samurai.

Having lunch..
Kami pun berjalan menuju bagian dalam taman. Belum apa-apa perut saya sudah keroncongan. Udara dingin cepat sekali membuat perut ini minta diisi. Yuichi menunjuk sebuah restaurant Italia yang ramai pengunjung. Saya harus sabar mengantri kurang lebih 15 menit untuk bisa mendapatkan tempat duduk. Kami memesan dua pizza dan 2 orange juice. Sedangkan yuichi memesan kopi.

oh i really need indonesian chilli sauce
fresh salad with strawberry flavoured sauce

Setelah kenyang, kami pun melanjutkan perjalanan melihat-lihat taman ueno. Suami saya tidak terlalu bersemangat. Saya suka membagi traveler itu jadi dua golongan, city life dan natural heritage traveler. Suami saya tipe pertama. Dia akan senang kalau diajak menjelajah belantara gedung-gedung bertingkat, hal-hal yang berkaitan dengan teknologi canggih, gadget dan sejenisnya. Sedangkan saya lebih nyaman dengan yang berbau alam dan tempat-tempat bersejarah. Suami sudah manyun pengen ketempat lainnya. Tapi saya dan yuichi bersikeras untuk masuk ke dalam. Haha.. akhirnya dia kalah dan harus mengalah.

Ada banyak street performer yang akan kalian temui kalau berkunjung ke Ueno Park. Saat itu saya menonton pertunjukan pantomin-sulap-random dance yang dilakukan oleh seorang perempuan di dekat restaurant yang saya singgahi. Kemudian ada seorang lelaki yang memainkan musik instrumentalia dengan gitarnya. Ciamik!

this woman is so funny and entertaining
and he is so charming ^_^

Ueno park hari itu ramai sekali, walaupun hanya satu dua pohon sakura saja yang berkembang sempurna. Orang-orang menggelar semacam tikar dan membawa aneka makanan serta minuman. Berpesta menyambut datangnya musim semi. Taman ueno pun menyediakan tempat sampah dengan ukuran besar disana-sini, tentu saja tetap dengan pola pemisahan sampah yang tidak ada di Indonesia. Semua berwajah gembira. Saya jadi membayangkan diri saya kalau datang ke Jepang awal bulan april. Wah, saya bisa ikutan pesta dibawah pohon sakura.

bandingkan yah…
beforeafter
courtesy of yuichi

tempat sampah yang dibedakan berdasarkan jenis barangnya

Kalau anda menyukai museum, maka anda akan sangat menyukai taman ini. Sebut saja Tokyo National Museum, National Museum of Western Art, National Museum of Nature and Science, Shitamachi Museum, Tokyo Metropolitan Art Museum, Ueno Royal Museum dan The University Art Museum milik Tokyo University of The Arts. Sayangnya saya tidak punya cukup waktu untuk mengunjunginya satu per satu. Bolehlah nanti kalau ada salah satu pembaca blog saya yang pergi ke museum-museum tersebut bisa berbagi kisahnya dengan saya. Mau yah?

 

Ueno Daibutsu

Kami bertiga pun menuju ke suatu tempat yang ditunjukkan oleh Yuichi. Sebuah patung perunggu yang hanya tersisa wajahnya saja. Dari besarnya wajah patung itu, saya bisa memperkirakan besarnya patung itu seperti apa jika masih utuh.

that piece of paper told us the story about this statue

unfortunately it’s written only in japanese
the remain of ueno daibutsu
Patung itu memiliki kisah yang dramatis. Patung ini dibuat sekitar tahun 1630 oleh seorang bangsawan bernama Naoyari. Patung itu tingginya sekitar 2,8 meter namun patung itu rusak karena gempa pada tahun 1640-an. Kemudian patung ini diperbaiki dan didirikan kembali oleh seorang biksu dengan dana sumbangan dari masyarakat tokyo. Tinggi patung menjadi sekitar 3,6 meter dengan posisi yang sama, yaitu budha yang sedang duduk bersila. Patung ini selamat dari kebakaran besar pada tahun 1841 dan gempa pada tahun 1855.
red gates
Sayangnya, patung ini kemudian rusak berat saat gempa Kanto pada tahun 1923. Kepala patung ini terlepas dari badannya. Kemudian bagian tubuh dan alas patung ini harus direlakan untuk dijadikan bahan baku membuat senjata pada perang dunia kedua. Yuichi bilang kalau ada pihak yang meminta supaya bagian wajahnya tidak ikut dihancurkan. Pada tahun 1967, sebuah monument dibangun diatas bukit tempat wajah sang budha di semayamkan.
Kami akhirnya meninggalkan ueno park dengan melewati beberapa kuil. Untuk menuju ke kuil itu, kami harus melewati gerbang kayu berderet yang dicat merah menyala. Yuichi bilang, kadang orang Jepang datang ke kuil, mereka tidak peduli untuk dewa/dewi apa dan siapa kuil itu didedikasikan. Tapi mereka hanya berdoa dan memohon agar doa mereka dikabulkan. Saat berada di dekat sebuah kuil, saya menemukan bunga sakura berwarna putih disana. Subhanallah… indah sekali.
i like this picture a lot
white sakura
Ueno Zoo
Setelah jepret sana sini, kami memutuskan untuk meninggalkan ueno park. Sambil berjalan, yuichi bilang kalau kita sekarang berada di dekat Ueno Zoo. Kalau anda ingin melihat panda atau penguin, anda bisa datang ke ueno zoo. Ueno zoo buka mulai jam 9.30 pagi dan tutup jam 5 sore. Tiket dijual hanya sampai jam 4 sore saja. Kebun binatang ini tutup pada hari Senin.
Untuk bisa masuk ke ueno zoo anda harus merogoh kocek sekitar 600 yen (dewasa), 200 yen (13-15 tahun), dan free untuk anak-anak berusia hingga 12 tahun. Tetapi saya tidak mengunjungi kebun binatang ini loh. lagi-lagi karena waktunya tidak memungkinkan. hi hi
Shinobazu Pond dan Kuil Bentendo
Di dekat ueno zoo saat itu ada semacam nakamise yang letaknya sebelum pintu masuk sebuah kuil. Kuil itu bernama Kuil Bentendo. Kuil itu didedikasikan untuk Dewi Benten. Saya tidak terlalu memperhatikan kuil itu. Tapi saya tertarik pada sebuah rawa-rawa yang terletak di dekat kuil ueno park. Namanya Shinobazu Pond. Letaknya di pintu keluar sebelah selatan taman ueno.
the pond
can you see some part of bentendo temple over there?
pintu masuk ke arah bentendo temple
Saat kuil Kaneiji masih berdiri, rawa-rawa (saya menyebutnya begini karena dibilang danau terlalu kecil, dibilang kolam juga tidak cocok) ini merupakan representasi dari Danau Biwako (meniru kuil enryakuji di Kyoto yang menghadap danau Biwako).
i never imagine i can found this kind of place in a city like Tokyo
do you know what kind of bird is this?
a duck??
Saya tertarik pada sekawanan burung yang ramai bermain-main air disana. Ada semacam belibis juga. Jujur saya tidak paham tentang dunia per-unggas-an. Suami saya malah bilang mereka semua itu bebek. Hahahaaa…. Area itu ramai sekali, orang piknik, makan, mengajak anjingnya berjalan-jalan, mengajak anak-anaknya bermain di taman bermain umum yang sangat terjaga kebersihannya.
Kemudian saya tertarik dengan kegaduhan di ujung sana. Suara musik dan tabuh-tabuhan riuh terdengar, rancak sekali. Setelah saya dekati taunya itu orang lagi demo. Salah satu peserta demo-nya rupanya dari Brazil. Sehingga sambil demo mereka perform kemampuan bermusiknya. Pengen ikutan goyang deh. Saat asik menonton, orang disebelah saya menyapa…
“Assalamu’alaikum Moslem!”
“Wa’alaikum salam…”
“Are you a tourist?”
“yes, I am. Where are you from?”
“Chechnya… and you?”
“From Indonesia..”
Saya kemudian menghampiri yuichi dan memperkenalkannya ke lelaki itu. Yuichi terkejut sekali mendapati seorang Chechnya telah tinggal selama sekitar 7 tahun di Jepang. Traveling itu membawa kita ke tempat yang baru, bertemu orang-orang baru baik sengaja maupun tidak. Selalu saja ada cerita yang baru, pengetahuan yang baru. Ini yang membuat saya kecanduan jalan-jalan.
demo ala jepang
Rombongan terakhir peserta demo pun berlalu. Kami bertiga pun meninggalkan Ueno menuju ke Harajuku dan Shibuya. Penasaran ceritanya? Baca tulisan saya selanjutnya yah.. Terima kasih.
Happy traveling!
Catatan tambahan:
  • Waktu yang tepat untuk mengunjungi ueno park adalah awal bulan April dimana bunga sakura berkembang semua. Hindari berkunjung saat weekend karena padat pengunjung.
  • Jika ingin berkunjung ke Tokyo National Museum, tiket masuknya adalah 600 yen. Museum ini buka dari jam 9.30 pagi hingga jam 5 sore.
  • National Science Museum buka mulai jam 9 pagi dan tutup jam 5 sore, atau hingga jam 8 malam khusus hari Jumat. Tiket masuknya 600 yen.
  • Untuk Tokyo Metropolitan Art Museum, tiket masuknya tergantung pameran apa yang tengah berlangsung. Ada yang gratis dan ada juga yang berbayar. Jam bukanya adalah dari 9.30 hingga 17.30
  • National Museum of Western Art buka mulai jam 9.30 hingga 17.30, dengan perkecualian pada hari jumat yaitu pukul 8 malam. Tiket masuknya 420 yen (gratis pada sabtu minggu kedua dan keempat setiap bulannya).
  • Sedangkan jika anda memilih mengunjungi Shitamachi Museum, anda harus membayar 300 yen. Jam bukanya adalah 9.30 hingga 16.30.
  • Perlu diperhatikan bahwa semua museum tutup pada hari senin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: