Ayu Galuh Anggraini

Backpackeran ke Tokyo: Asakusa area (2)

In Tokyo on September 4, 2012 at 1:08 pm

SENSOJI TEMPLE

Berasal dari kata Senso yang berarti Asakusa dan Ji yang artinya kuil. Sensoji temple adalah kuil yang bisa dibilang paling terkenal di seantero Tokyo. Dibangun pada abad ke 7, kuil ini merupakan salah satu kuil yang paling tua di Jepang walaupun beberapa bagian dari kuil sudah bukan merupakan bangunan asli.

me and husband infront Kaminarimon
crowded!!!
courtesy of yuichi

Sebelum masuk kita harus melalui gerbang luar yang dinamakan Kaminarimon. Kaminarimon adalah yang pertama dari dua gerbang pintu masuk Kuil Sensoji 1000 tahun yang lalu dan merupakan simbol dari Asakusa. Kalau anda memperhatikan, ada dua patung raksasa yang diletakkan di sebelah kanan dan kiri lentera raksasa itu. Yuichi menjelaskan kepada saya kalau mereka itu adalah Raijin (dewa petir) dan Fujin (dewa angin). Sayangnya susah untuk bisa memotretnya dengan jelas karena diletakkan dalam ruangan bertirai besi. Mungkin supaya tidak rusak oleh tangan-tangan jahil yah.

gerbang utama dari kejauhan

Setelah itu kita harus melewati gerbang utama yaitu Hōzōmon. Dibalik gerbang itu digantungkan sandal jerami raksasa (waraji). Tidak jauh dari gerbang utama ada bangunan berbentuk pagoda bertingkat 5 yang disebut Gojūnoto. Konon didalamnya tersimpan bagian dari abu Buddha. Bangunan utama dari kuil ini adalah Kannon Hall.
di depan gajunoto

Sebelum masuk bangunan itu, orang yang akan bersembahyang akan membeli dupa dan meletakkan dupa itu ditempat yang telah disediakan. Asap dupa itu dikibas-kibaskan ke dirinya. Kemudian mereka akan ke tempat khusus untuk membersihkan diri. Yuichi bilang untuk menghormati saya juga harus mengikuti aturannya. Nah, ini mirip dengan wudhu loh. Caranya adalah kita harus antri untuk menggunakan semacam gayung dari bambu dan mengambil air yang mengucur. Kucurkan air ke tangan sebelah kiri dulu lalu ke tangan kanan dan kemudian berkumur dan ludahkan. Beberapa orang malah meminum air itu.

antri ambil air

menancapkan dupa

Setelah itu saya naik tangga untuk masuk ke dalam kuil. Satpam yang berjaga di pintu masuk hanya mengangguk saat saya lewat. Yuichi bilang, karena kita tidak beragama budha jadi kita tidak harus membungkuk dan melemparkan koin sebelum masuk kuil. Banyak turis asing (baca: bule-red) yang juga berbarengan dengan saya masuk kedalam kuil untuk melihat-lihat suasana di dalam kuilnya. Ada lukisan naga dan seorang dewi di atap kuil. Lukisan itu kuno sekali. Mungkin itu lukisan dewi kannon yang patung emas-nya ada di dalam kuil itu. Konon, patung emas dewi kannon itu ditemukan oleh dua orang bersaudara. Kemudian patung itu disemayamkan di kuil ini.

lukisan dewi di langit-langit kannon hall
lukisan naga ini berdampingan dengan lukisan sang dewi kannon
gambaran bagian dalam kuil
dua bersaudara yang menemukan patung emas
gambaran cerita tentang kuil ini bisa ditemukan sebelum Hozomon gate
Kami bertiga istirahat sebentar di bangku yang banyak tersedia sambil menikmati satu gelas teh hijau hangat yang dibagikan secara gratis bagi pengunjung kuil. Saya mengamati sekeliling yang riuh ramai. Bau aneka masakan lezat menusuk hidung. Yuichi menyodorkan kepada saya kue yang tadi dibelinya. Nikmatnya….

NAKAMISE SHOPPING STREET

Don’t scream girls. Take a deep breath and shop till you drop. Saya hampir pingsan lihat jejeran toko yang penuh dengan souvenir lucu-lucu. Sebagai gambaran, gantungan kunci harganya sekitar 300 yen keatas, magnet kulkas sedikit lebih mahal. Kipas jepang harganya sekitar 1000 yen keatas, tergantung materialnya. Hiasan bentuk pagoda ukuran kecil harganya sekitar 1500 yen keatas. Pusingnya saya adalah saat harus ambil kalkulator dan mengkonversikannya ke rupiah. Lumayan sih yah.. mahalnya. Hahaha…

Saya paling suka lihat toko yang berjualan kimono dan yukata. Duh bagusnya.. Detil motif di kain kimono membuat saya jatuh cinta. Kipas dan tas khusus untuk busana tradisional jepang itu juga begitu keren. Harganya? Jangan ditanya.Untuk model yang paling biasa menurut saya harganya sekitar 1-2juta rupiah belum plus-plusnya. Orang jepang sendiri tidak semua punya kimono loh.

suasana nakamise sewaktu saya berkunjung

Nakamise ini terletak antara kaminarimon dan hozomon gate. Jadi setelah anda melewati kaminarimon, jejeran toko-toko yang menggoda untuk belanja itu akan menyambut anda. Total ada sekitar 89 toko dengan perincian 54 toko di dan 35 toko disisi Barat. Beberapa toko mendiami bangunan yang sengaja dibangun dengan arsitektur jaman Edo. Jadi anda seolah-olah akan berada di Tokyo jaman dulu. Lebih lengkap tentang Nakamise ini bisa klik disini

mau yang mana yah??
green tea ice cream
rasanya top markotob. beda dengan yang pernah saya coba di jakarta
sate kue beras
ibu yang jual kue
ini kue dari yuichi
bangunan toko yang sengaja dibangun seperti bangunan tokyo jaman edo

Tidak hanya itu, toko-toko yang menjual makanan (baca: jajanan-red) jepang pun banyak bertaburan. Saya dengan sukses membeli green tea ice cream cone seharga 380 yen. Penjual ice cream meminta kami bertiga makan di depan tokonya. Rupanya, selain untuk promosi, dia takut kalau ice cream saya akan tumpah dan mengenai orang lain. Mengingat saat itu banyak sekali orang yang kesana.

Saya kemudian tertarik mencoba kue beras panggang yang bentuknya mirip sate. Rasanya nano-nano. Seperti rasa jahe, lalu ada rasa asamnya. Saya menaburi kue itu dengan bubuk cabe. Suami saya bilang rasanya aneh. Sedangkan yuichi membeli semacam kue beras tetapi yang basah dan dilapisi gula merah. Saya sebenarnya ngiler dengan kentang kukus bertabur keju yang makannya pakai sumpit dan gurita panggang dengan saus jepang yang sepertinya yummy banget.

PATUNG 5 PENCURI DI ASAKUSA

Setelah dari kuil saya memilih melewati bagian belakang jalur utama Nakamise. Alasannya klise. Saya pusing lihat banyak orang yang berjubel (takut ngiler belanja juga sih). Tiba di sebuah persimpangan, saya melihat ada patung di tengah jalan. Saya langsung berjalan kesana untuk berfoto. Yuichi bilang, patung itu adalah salah satu dari 5 patung pencuri yang ada di wilayah asakusa. Mata saya langsung mencari-cari dimana patung yang lainnya. Ternyata dua lagi saya temukan di atas sebuah toko. Satu lagi di ujung jalan. Kemana yah yang satu lagi? Hmmmm….. saya baru menemukan patung ke-5 saat perjalanan ke kappabashi

infront of Nippon Daemon Statue
Dia adalah ketua dari kelompok pencuri

Ceritanya, sekitar tahun 1700-an, ada 5 orang pencuri di Osaka yang bernama Karigane Bunshichi, An no Heibei, Gokuin Sen’emon, Kaminari Shōkurō and Hotei Ichiemon. Seorang penulis drama bernama Kawatake Mokuami (1816-1893) yang kediamannya di Asakusa mengadaptasi kisah nyata itu kedalam sebuah drama kabuki. Ternyata drama tersebut sukses dan menjadi legenda mengalahkan kisah aslinya. Karakter 5 pencuri dalam drama kabuki itu berganti menjadi Nippon Daemon (ketua pencuri yang namanya diambil dari nama Nippon Saemon, seorang criminal yang tertangkap dan dieksekusi pada tahun 1747), Benten Kozo, Kikunosuke, Nangō Rikimaru Tadanobu Rihei dan Akaboshi Jūzaburō.

patung ke-2 yang saya temukan

Yuichi kemudian menunjuk ke arah salah satu patung. Patung itu adalah representasi karakter Benten Kozo. Benten Kozo ini berbeda dari pencuri lainnya. Ia sangat pandai menyamar sebagai seorang perempuan. Karakter ini istimewa karena actor kabuki yang memerankannya harus pandai berubah karakter seketika. Dari pencuri yang gagah lalu menjadi perempuan yang lemah gemulai. Memang dalam kabuki, actor pria juga harus bisa memerankan peran wanita.

Bisa jadi laki-laki, bisa jadi wanita

Nanti anda bisa melihat banyak poster kabuki bertebaran di Asakusa yang juga memperlihatkan kalau karakter perempuan di drama itu diperankan oleh laki-laki. Menarik sekali…

OLD ENTERTAINMENT DISTRICT

Setelah melewati jejeran toko-toko di Nakamise, anda akan bisa menemukan sebuah jalan yang saya sebut “old entertainment district” dimana saya seolah-olah terlempar ke masa lampau. Ada banyak mini opera house yang bertebaran disana. Poster-poster penyanyi opera yang usianya sudah lanjut bertebaran disana-sini. Jalan itu nampak tidak terlalu ramai. Saya penasaran sih.. maybe next time. Insya Alloh…


KAPPABASHI-DORI

Jalan ini terkenal karena toko-toko disini berjualan barang-barang produk rumah tangga. Sebab itu wilayah ini dikenal dengan julukan Kitchen Town. Letaknya antara Ueno dan Asakusa. Stasiun terdekat dari sana adalah Tawaramachi station dari Subwy Ginza Line.

berpose di depan salah satu toko
courtesy of yuichi watanabe

Saat saya sampai disana tidak banyak toko yang buka dan juga tidak banyak juga orang yang berkunjung ke area tersebut. Cuaca mendung kembali menghadang kami. Tak lama hujan rintik-rintik mulai turun. Kami berlindung sambil terus berjalan dibawah atap-atap toko disepanjang jalan. Ada toko yang menjual pecah belah seperti mangkok-mangkok keramik yang cantik, teko-teko teh, sumpit. Ada toko yang khusus menjual aneka pisau. Tapi yang saya cari belum ketemu, sehingga kami terus berjalan mencari. Jujur, suami saya pasti bingung saya mencari apa, karena dia tidak tau dan tidak tertarik hal begini.

Akhirnya kami pun mendapatkan toko yang saya maksud. Toko yang menjual display makanan jepang terbuat dari plastic seperti di restoran-restoran jepang di Jakarta yang menggugah selera. Padahal itu palsu. Saya berpikir, yang membuat benda-benda itu adalah seniman ulung, sehingga tidak bisa dibedakan dengan aslinya. Yuichi mengajak saya untuk masuk ke beberapa toko.

Harganya ternyata fantastis. Untuk sebuah gantungan kunci berbentuk aneka macam sushi dihargai sekitar 650 yen dan magnet kulkas harganya sekitar 500 yen. Semakin sulit bentuknya semakin mahal harganya. Saya tidak membeli apapun di area itu karena tidak ada budget lebih untuk itu. Sudah puas rasanya dengan melihat-lihat saja. Ha ha ha…

PATUNG KAPPA

Sepanjang area kappabashi anda akan mendapati banyak sekali patung kappa yang merupakan symbol wilayah itu. Apa itu kappa? Menurut wikipedia, kappa dalah mahluk mitology, sejenis makhluk air yang dapat ditemukan pada kisah rakyat jepang. Namun, mereka juga dianggap sebagai bagian dari kriptozologi, karena beberapa orang mengaku melihat Kappa. Pada agama Shinto, mereka dianggap sebagai salah satu atau dewa air”. Yuichi menunjukkan kepada saya di seberang jalan sana ada patung Golden Kappa. Saya hanya menengok sebentar, dan malas untuk kesana. Sekarang saya nyesel, kenapa kok tidak mengambil gambarnya.

TANUKI

Selain maneki neko (patung kucing yang biasa diletakkan di toko-toko), ternyata ada satu lagi yang popular di jepang yaitu patung rakun jepang atau yang biasa disebut tanuki statues. Fungsinya sama seperti maneki neko. Kalau anda perhatikan, patung Tanuki ini bisa ditemukan dimana saja, di restoran, kuil, rumah, maupun di jalan-jalan. Patung ini digambarkan dengan rakun gendut bertopi dan memegang botol sake. Ada juga yang membawa kertas seperti bon/nota tagihan.

Tanuki digambarkan memakai topi yang berarti harus siap untuk melindungi terhadap kesulitan atau cuaca buruk untuk memahami lingkungan dan membantu membuat keputusan yang baik. Botol sake yang mewakili kebajikan ekor besar yang memberikan kemantapan dan kekuatan hingga mencapai kesuksesan. Perut besar melambangkan ketegasan, berani dan tenang, dan wajah tanuki yang selalu tersenyum ramah.

Catatan:

  • Siapkan budget khusus kalau ingin membeli barang-barang di nakamise misalnya barang-barang tradisional jepang atau mau mencoba menonton kabuki.
  • Jangan khawatir kelaparan karena banyak sekali restoran dan street food yang bisa dicoba. Kalau khawatir masalah halalnya bisa coba aneka kue dan seafood.
  • Teman saya bilang kalau souvenir yang paling cocok dari kuil adalah membeli jimat yang bisa digantungkan di tas. Harganya sekitar 500 yen. Buat kenang-kenangan saja lah, jangan dijadikan jimat beneran. Hihihi…
  • Kalau ingin mencoba menginap di Ryokan (hotel tradisional jepang), wilayah Asakusa lah tempatnya. Dari yang murah sampai yang mahal bisa ditemukan dengan mudahnya. Ryokan termurah harganya sekitar 3000 yen dan yang paling mahal berkisar 7000 yen hingga 21000 yen.
  • Perlu diingat bahwa menginap di ryokan berbeda dengan menginap di hotel/hostel yang modern. Contohnya pada jam-jam tertentu kamar mandi tidak boleh dipakai karena takut mengganggu kenyamanan tamu lain. Katanya sih dinding ryokan itu tipis jadi ramai sedikit bisa kedengaran kemana-mana. Tertarik mencoba?

Happy traveling!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: