Ayu Galuh Anggraini

Backpackeran ke Tokyo: Asakusa area (1)

In Tokyo on September 4, 2012 at 12:10 pm

Lampu merah menyala. Kami bertiga diam, sabar menunggu. Saya ingat hari sebelumnya yuichi nampak gusar kepada saya gara-gara saya nyelonong begitu saja menyebrang jalan padahal lampu sedang merah. Jujur saya tidak melihat lampu itu menyala merah. Kondisi fisik yang kecapekan berjalan kaki, ditambah udara dingin yang menyiksa membuat saya hilang konsentrasi. Untung saya tidak sedang bernasib sial. Yuichi di ujung jalan sebelah sana hanya geleng-geleng saja. Malu rasanya…. *keluh*

Burung gagak masih berbunyi nyaring. Suaranya menyeramkan. Yuichi bilang, burung-burung itu berbahaya jika hari pengumpulan sampah tiba. Mereka akan bergerombol menunggu sampah-sampah yang bisa dimakan. Jika ada yang berani mengusik, mereka tidak akan segan-segan menyerang manusia.

SUMIDA RIVER

Kami menyusuri jalanan yang berdampingan dengan sungai Sumida. Sungai ini menurut saya merupakan salah satu sungai terbesar di Jepang yang membelah kota Tokyo. Sungai ini memiliki arti penting di jaman Edo. Bisa dibilang kebudayaan Edo berkembang disepanjang sungai ini.


tokyo cruise

Di era modern ini, sungai ini merupakan salah satu favorit turis yang ingin menjelajahi Tokyo dengan cara berbeda. Seperti tulisan saya sebelumnya yaitu dengan naik water bus. Pada bulan July, di tempat ini diadakan festival musim panas dengan menyalakan sekitar 20.000 kembang api disepanjang sungai ini. Infonya bisa dilihat disini


KAISUU KATSU STATUE

Pandangan saya kemudian terpaku pada sebuah patung yang ada di dekat sungai Sumida. Saya menanyakan kepada yuichi patung siapa itu. Yuichi bilang kalau itu adalah patung Kaisuu katsu. Mengapa seseorang ini begitu spesial hingga didirikan patung khusus untuk mengenang dirinya? Ini hasil wawancara saya dengan yuichi plus googling.

the statue

Kaitsu katsu  (2 Maret 1823 -21 Januari 1899) adalah seorang negarawan Jepang yang memiliki peranan penting dalam akhir masa Shogun Tokugawa dan pada awal masa setelah restorasi Meiji. Pada 1866 Katsu diangkat menjadi negosiator antara pasukan shogun tokugawa dan kelompok anti shogun dari untuk memastikan adanya transisi kekuasaan yang damai pada saat Restorasi Meiji. Meskipun bersimpati kepada tujuan anti-Tokugawa, Katsu tetap setia pada Tokugawa selama Perang Boshin.

Setelah runtuhnya pasukan Tokugawa pada tahun 1867 Katsu menegosiasikan penyerahan kastil Edo untuk Saigo Takamori dan Aliansi Satchō pada tanggal 11 April 1868. Katsu mengikuti Shogun terakhir, Tokugawa Yoshinobu ke pengasingan di Shizuoka.

Katsu kembali kemudian kembali ditugaskan sebagai Wakil Menteri Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada tahun 1872, diikuti oleh Menteri pertama dari Angkatan Laut dari tahun 1873 sampai 1878.Pada tahun 1887 mendapat gelar hakushaku dalam sistem gelar bangsawan Kazoku.

ASAHI BEER BUILDING

Tidak jauh dari patung Kaisuu Katsu saya melihat bangunan berwarna kuning yang berkilat-kilat tertimpa sinar matahari. Awalnya saya tidak menyadari bangunan itu special sampai yuichi bilang kalau bangunan itu milik perusahaan bir terkemuka di Jepang. Bangunan itu seperti gelas bir yang terisi penuh hingga busanya meluap keatas gelas. Baru saya “ngeh” maksudnya setelah saya menyusuri jembatan berwarna merah yang dinamakan Azuma bashi Bridge.

azuma bashi bridge
my husband and yuichi
asahi building and flame as background

Ada yang aneh lagi di komplek bangunan itu. Sebuah benda berwarna kuning ada di sebelah gedung “gelas bir” itu. Yuichi bilang kalau bangunan itu terinspirasi dari awan. Tapi saya melihatnya mirip seperti (maaf) kotoran. Bangunan berbentuk gelas tersebut dirancang oleh desainer Perancis Philippe Starck dan selesai pada tahun 1989. Sedangkan bangunan berwarna kuning aneh itu dibuat oleh seorang pembuat kapal dengan menggunakan teknik pembuatan kapal selam. Bangunan itu dinamakan Flame Asahi. Flame asahi ini sering disebut sebagai kotoran emas atau bangunan kotoran oleh penduduk Tokyo. *ngakak*

NAIK RICKSHAW

Sesaat setelah melintasi azuma bashi bridge, saya melihat orang-orang yang sedang menikmati naik becak tradisional jepang. Satu becak hanya muat untuk dua orang saja. Saya tidak tahu rutenya. Penarik becak itu juga berfungsi sebagai guide. Mereka akan menjelaskan apa saja yang ada di sekitar jalan yang dilewati. Yuichi bertanya apakah saya ingin mencoba naik. Saya langsung bilang tidak. Kasihan kalau saya dan suami naik becak itu, karena yang narik belum tentu kuat. Hahahaa…. Eh, penarik becaknya ada yang perempuan juga loh.

siapa mau naik?

Waktu saya lewat, seorang penarik becak sedang membahas bangunan kuning aneh itu dengan penumpangnya dan dia bilang kalau itu “poo building”. *ngakak lagi* Sebelum sampai ke lokasi utama saya menyeberang jalan dulu. Tiba-tiba saya mendengar suara keras sekali dari pos polisi yang ada di ujung jalan. Rupanya ada kendaraan yang salah arah. Nah, polisi lalu lintas menggunakan speaker untuk memperingatkan si supir kalau dia berbuat kesalahan. Pasti malunya setengah mati itu orang. Coba kalau di Jakarta dibikin begitu, pasti lebih rame lagi suaranya. Tau kan maksud saya?

(bersambung ke Asakusa 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: