Ayu Galuh Anggraini

Backpackeran ke Tokyo: Tsukiji Market

In Tokyo on September 3, 2012 at 1:00 pm
Hari itu saya dan suami bangun telat, karena kecapekan dan udara dingin. Maunya sih tidur saja gak kemana-mana. Tapi masa sih jauh-jauh ke Tokyo hanya buat tidur? Jadinya dengan semangat yang masih setengah-setengah saya mandi dan menyiapkan diri.

Iseng-iseng saya melongok ke luar dari balkon apartemen yuichi, pemandangannya begitu Indah meskipun mendung. Apartemen yuichi terletak di wilayah Kiba, Koto ku. Beliau mengatakan kalau alasan dia memilih apartemen itu karena lokasinya yang strategis, mudah untuk pergi kemana-mana ke seluruh wilayah tokyo.

Saya pribadi suka sekali dengan view dari balkonnya. Diseberang apartemen ada sebuah taman yang cukup besar. Setiap tahunnya (pada bulan Oktober) diadakan festival dimana sekelompok orang memainkan atraksi berjalan diatas gelondongan kayu yang diletakkan di kolam air di taman itu. Namanya Kiba-no-Kakunori. Mereka memakai pakaian tradisional jepang. Menarik yah. Sayang saya tidak punya fotonya. Bagi yang ingin melihat seperti apa, bisa klik disini

Rupanya diluar sedang gerimis. Cuaca di Tokyo saat itu benar-benar di luar perkiraan saya sebelumnya. Walapun saya membawa payung, katanya payung saya tidak cukup untuk melindungi saya dari hujan. Jadilah selama sehari itu saya menggunakan payung milik yuichi. Soal payung ini, warga Tokyo sepertinya menganggap payung itu sama seperti barang-barang fashion lainnya. Jadi bentuknya dan motifnya beraneka rupa. Semakin modis seseorang, semakin modis pula payungnya. Kalaupun terpaksa lupa membawa payung, bisa membeli payung plastic transparan di toko-toko semacam 711. Tapi payung plastic transparan sekali pakai buang itu juga keren. Soalnya di Indonesia gak ada. Adanya ojek payung. Hahahaha…

Patut dicatat bahwa penting bagi warga Tokyo dan traveler lainnya untuk rajin cek ramalan cuaca baik itu melalui website ataupun siaran televisi. Hal itu jarang sekali kita lakukan bukan? Mungkin tidak pernah. Kalau hujan yah sudahlah yah. Bawa payung juga bukan sebuah keharusan. Sungguh-sungguh berbeda dengan di jepang sana. Setiap tempat juga menyediakan tempat penitipan payung baik yang biasa maupun yang dengan kunci khusus. Disediakan juga plastic pembungkus payung jika memasuki sebuah tempat agar airnya tidak menetes. Semua sudah ada aturannya sedemikian rupa.

Begitu keluar apartemen udara dingin mulai menusuk kulit. Saya berjalan pelan-pelan sambil memasang sarung tangan supaya tangan saya lebih hangat. Tidak jauh dari apartemen yuichi ada sebuah sungai kecil. Kalau di jakarta, mungkin sungai itu akan kotor, berbau dan tidak sedap dipandang. Maaf ya kalau saya membanding-bandingkan, tetapi memang berbeda sekali keadaannya. Sungai itu bersih, walaupun airnya tidak jernih. Disepanjang sungai ada bangku-bangku taman dengan kanopi khas jepang. Banyak burung perkutut yang menyambut saya, dan mereka sama sekali tidak merasa takut dengan kehadiran manusia. Nampak di kejauhan saya melihat sebuah pohon yang bunganya berwarna pink. Sayangnya itu bukan sakura. hahaha… tapi tak apalah, yang penting pohon itu tidak ada di negara saya.

my husband having a pose with (looked like) sakura tree

Saat saya menuliskan Tsukiji Market di list tempat yang ingin saya kunjungi, yuichi menanyakan apakah saya suka dengan sushi? Saya bilang iya. Tetapi tidak suami saya. Mungkin beliau menganggap aneh, kenapa sih saya mau blusukan ke pasar ikan? Tetapi tsukiji market memang salah satu tempat yang dikunjungi turis yang pergi ke jepang. Alasannya karena ingin melihat pelelangan ikan terbesar di Jepang. Bisa melihat ikan tuna raksasa maupun hewan laut lainnya yang aneh-aneh yang juga dijual.

Beliau bilang kalau ingin melihat pelelangannya, kita harus datang pagi-pagi sekali jam 5 pagi. Sementara saya baru tidur jam 3 pagi. Hahaha… tidak mungkin rasanya. Jadi saya menyerah saja dan bilang kalau tidak apa-apa saya melewatkan pelelangan tuna itu.

Cara menuju ke Tsukiji Market

Jalan kaki sebentar dari Tsukiji Subway Station jalur Oedo Line Exit A1, atau 10 menit jalan kaki dari Tsukiji Subway Station jalur Hibiya line exit 1, bisa juga dengan jalan kaki kira-kira 10 menit dari Higashi Ginza Subway Station jalur Hibiya Line exit 6.

Aturan di Tsukiji Market

Tsukiji market tutup pada hari Rabu, Minggu, Hari besar nasional dan tahun baru. Disarankan kepada para pengunjung untuk terlebih dahulu membaca papan aturan yang terletak di banyak area di Tsukiji market ataupun selebaran yang dibagikan dengan gratis oleh petugas yang berjaga di dekat area Tsukiji Market.


Saya akan menuliskan beberapa aturan yang penting diketahui oleh traveler yang ingin berkunjung kesana. Patut diingat sebelumnya bahwa tempat ini bukanlah tempat untuk sightseeing dan berfoto-foto ria loh. Malahan boleh dibilang berbahaya, karena banyak sekali mobil, truk, kendaraan pengangkut ikan yang berseliweran, jadi selalu waspada lihat kanan dan kiri jangan lengah sedikitpun. Bisa-bisa anda bertubrukan dengan salah satu kendaraan dan malahan tidak jadi berwisata.
  • Untuk melihat pelelangan tuna harus dengan reservasi terlebih dahulu. Reservasi dilakukan start jam 5 pagi dan hanya terbatas 120 orang saja.
  • Siapa yang datang terlebih dahulu dia yang dilayani. 60 orang pertama yang diterima, bisa berkunjung ke Tuna action observation area dari jam 5.25 hingga jam 5.50 pagi dan 60 orang berikutnya dibolehkan untuk masuk dari jam 5.50 hingga jam 6.15 pagi.



  • Bagi yang melihat-lihat pasar ikannya (dibolehkan hanya setelah jam 9 pagi)
  • Karena anda hanya visitor dan bukan customer jadi lebih baik tidak masuk ke toko/kios manapun untuk mengambil gambar tanpa ijin dari pemilik toko/kios.
  • Jangan juga menyentuh barang-barang yang dijual maupun benda-benda yang ada disana seperti pisau.
  • Jangan juga masuk ke daerah yang bertuliskan “Off-Limits” karena bukan area untuk melihat-lihat, selain berbahaya juga bisa mengganggu aktivitas disana.
  • Jangan berkunjung dengan membawa bayi, anak kecil atau dengan kereta bayi karena bisa sangat berbahaya.
  • Jangan berjalan secara bergerombol karena bisa mengganggu laju kendaraan pengangkut ikan yang ada disana, jadi tur grup dilarang masuk ke wilayah tsukiji market.
  • Kalaupun ingin masuk, grup harus dibagi-bagi menjadi maksimal 5 orang tiap kelompoknya.

Harus diingat bahwa keselamatan anda adalah tanggung jawab anda sendiri karena pihak pengelola tidak bertanggung jawab jika terjadi kecelakaan dalam bentuk apapun. Jadi tetap berhati-hati yah…

Sarapan di Tsukiji.

Saat memasuki wilayah tsukiji, saya diperlihatkan oleh yuichi tentang Tsukiji Outside Market. Letaknya disepanjang jalan menuju tsukiji fish market (Harumi Street). Ada banyak kedai makanan disana dan ada antrian panjang. Bau harum makanan menyeruak hidung saya yang dingin karena cuaca yang hujan. Hmmm… yummy. Tidak hanya kedai makanan, ada juga kios yang menjual sayuran, perlengkapan dapur, dan souvenir. Yuichi dari awal mengatakan kalau dia akan membantu saya untuk menghindari makanan yang haram, dan beliau melakukan riset khusus untuk itu (ini terharu saya no.3). Jadi dia meminta saya untuk tidak makan di sekitar sana.

hati-hati disini, karena banyak kendaraan
Kami kemudian masuk ke dalam tsukiji market. Bersih loh ternyata dan tidak tercium bau amis apapun. Coba bayangkan di Indonesia, belum masuk muara angke, bau amis menyeruak bikin perut mual-mual parah. Tempatnya becek dan banyak sampah. Tetapi di tsukiji market tidak.


Setelah berkeliling sebentar, kami mengarah ke wilayah kedai-kedai makanan di Tsukiji Inside Market. Beberapa kedai antriannya panjang mengular naga. Semakin panjang antriannya, semakin terkenal pula kedai tersebut. Rupanya memang budaya antri orang jepang itu patut diacungi jempol. Selama apapun pasti tetap tertib antri menunggu gilirannya. Ini berlaku dimana saja. Salut.

Yuichi pun memilih satu kedai yang antriannya tidak panjang. Kedainya kecil bisa dibilang dan kalau masuk harus sedikit menunduk. Di dalam ruangan ada satu meja panjang saja dengan mungkin sekitar 10 kursi. Jadinya agak desak-desakan mungkin yah. Sebelah saya dua pasangan turis asal hong kong. Mereka memesan sup dan ikan goreng kecil dibagi dua. Sedangkan yuichi memilihkan banyak makanan untuk kami bertiga, ada sup kerang, nasi dengan aneka sayuran khas daerah nelayan untuk suami saya dengan kuah kaldu yang khusus, semacam semur ikan cod yang rasanya aduhai, serta tuna sashimi.

ikannya itu lembut banget, tapi tidak pecah walaupun diambil pake sumpit

Pertama kali saya kira di dalam nasi itu ada kerang-kerangan, soalnya rasanya kenyal.
Ternyata itu semua sayuran khas jepang loh.
Banyak macamnya, dan cara pengolahannya yang berbeda.

sup kerang. kuahnya enak banget
Kenapa kedai-kedai itu begitu ramai? Rupanya karena mereka ingin merasakan ikan yang paling fresh se-jepang. Tapi benar loh, rasanya berbeda dengan yang selama ini saya rasakan. Walaupun masakan jepang boleh dibilang kurang berani di rasa, tapi kenyalnya ikan, uniknya sayur-sayuran yang saya belum rasakan sebelumnya membuat saya pengen nambah lagi dan lagi. Tetapi tidak mungkin yah, karena perutnya sudah penuh, sementara nasi di mangkok masih tinggal separuh.
muka keenakan makan
courtesy of yuichi watanabe

Dari yang saya amati, orang jepang mempunyai aturan khusus dalam hal makanan yang sangat positif buat saya yaitu mereka tidak pernah menyisakan makanan di piringnya. Semua harus habis. Kalau minum sup harus dari mangkuknya langsung, tidak ada itu acara pake sendok. Hampir semua kedai ada free flow ocha dan ocha-nya berbeda rasanya. Rasa teh-nya itu gurih dan ngga bikin perut mules. Orang jepang juga suka sharing makanan loh. Seneng deh bisa makan rame-rame.

Setelah selesai makan, kami kembali berkeliling ke dalam Seafood Intermediate Wholesalers Area. Area ini sudah nampak sepi karena ikan-ikannya sudah pada laku terjual. Ada beberapa kios masih buka namun ikannya sudah tidak banyak. Lagi-lagi tidak ada bau amis dan becek. Hebaatttttt!!!!

maaf gambarnya burem, karena diem-diem motonya.

kepiting raksasa dan dia masih hidup loh

kepiting juga tapi lebih kecil dari yang sebelumnya
badan kepiting ditaburi seperti pasir pantai

kepala tuna
bagian pipinya sudah laku untuk sashimi
sorry for those who think this is a disturbing picture

Setelah puas berkeliling, yuichi mengajak saya dan suami untuk keluar dari wilayah tsukiji untuk menuju destinasi selanjutnya. Perjalanan masih panjang dan hujan nampaknya masih betah turun di Tokyo pagi itu…

(bersambung)

  1. Ah, kepala ikan tuna itu sayang sekali, di sini udah dijual seharga ikannya, bisa dimasak jadi masakan yang enak (ala Bugis). *drooling*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: