Ayu Galuh Anggraini

Backpackeran ke Tokyo: The beginning…

In Tokyo on September 3, 2012 at 11:42 am
Selama kira-kira setahun terakhir ini, saya mempunyai teman baru yang saya kenal melalui adik saya. Beliau bernama Yuichi watanabe. Adik saya mengenal yuichi sewaktu dia sedang berjalan-jalan ke keraton Jogja. Adik saya dan temannya menyarankan yuichi untuk membuat sebuah social media account dan akhirnya saya berteman dengan beliau dari social media tersebut. Saya sering melontarkan pernyataan kalau suatu saat akan mengunjunginya di Jepang.

Suatu hari, tiba-tiba suami mengatakan kemungkinan pergi ke jepang. Saya sangsi karena jepang terkenal mahal. Bahkan Tokyo adalah kota termahal di dunia. Belum lagi bahasanya. Pasti akan banyak kendala. Saya saja bisa mudah berkomunikasi dengan yuichi karena beliau lancar bahasa inggris-nya. Suami saya berbohong kalau ternyata dia sudah beli tiket. Hahaha… Saya baru tau setelah suami ngobrol dengan teman saya Ailsa, yang mengajak saya hunting foto ogoh-ogoh sebelum nyepi di Bali.

Jadilah saya bilang ke yuichi kalau saya akan ke Tokyo. Satu hal yang buat saya khawatir adalah visa yang ternyata tidak sesusah bayangan saya. Saya punya dua planning selama di jepang yaitu stay di Tokyo atau Tokyo-Osaka-tokyo. Mungkin kesalahannya adalah mestinya tiket berangkat itu ke Tokyo dan pulang via Osaka. Kenapa Osaka? Karena disana ada Universal Studio Osaka yang merupakan Universal studio yang dibangun pertama kali di asia. Selain itu Osaka adalah pusat kuliner di Jepang. Tetapi kendalanya adalah waktu. Saya hanya punya waktu 3hari di jepang, jadi mungkin ngga bisa ke Osaka? Jawabannya mungkin saja dengan naik shinkansen. Tapi biayanya mahal sekali. Pilihan kedua dengan naik bus dengan memakan waktu sekitar 10-12 jam perjalanan dari Tokyo dengan biaya sekitar 4000-8000 yen. Planningnya adalah hari pertama keliling sebentar di Tokyo lalu naik bus ke Osaka jadi bermalam di bus, lalu ke universal studio dan tengah malam hari kedua kembali ke Tokyo. Hari terakhir bisa digunakan untuk eksplor Tokyo. Kemudian muncul kendala no.2 yaitu biaya. Perkiraannya membengkak berkali-kali lipat karena tiket bus PP dan juga tiket masuk Universal Studio. Beberapa teman bilang saya melakukan rencana yang gila dan melelahkan tapi masih bisa dilakukan kalau nekat. Hahahaa…


Yuichi mengatakan kemana saja rencana saya di jepang dia siap menemani. Semua terserah keputusan saya nantinya bagaimana. Termasuk ke Universal Studio Japan di Osaka karena dia memang belum pernah juga kesana. Saya terkejut karena beliau mau bercapek-capek menemani saya dan suami yang bertatap muka saja belum pernah. Jadi terharu yah….

Setelah menimbang-nimbang dengan matang beberapa hari disertai dengan riset mendadak sana sini, berdiskusi dengan yuichi, dan melongok isi dompet, akhirnya saya putuskan untuk berkeliling Tokyo saja selama tiga hari. Apalagi karena setelah saya cek ke website-nya tidak jauh beda dengan Universal Studio di Singapura.

Sekarang yang saya butuhkan adalah tempat untuk menginap. Pilihannya adalah Tokyo Khaosan Kabuki atau Tokyo Khaosan Samurai karena memang paling enak lokasinya dan juga unik interiornya serta ratingnya bagus di hostelworld. Nah, untuk semalam biayanya sekitar 700 ribu rupiah (double bed room) jadi untuk 3 malam biayanya sekitar 2,1juta. Lumayan juga yah. Jadilah untuk berhemat malam pertama setelah landing saya tidur di bandara saja. Tanya sana sini katanya bandara haneda enak dan nyaman buat yang mau tidur di bandara khas backpacker. Hohoho…

Saya pun mengabarkan rencana saya ke yuichi dan beliau malah meminta saya untuk tinggal di rumahnya jika saya mau. Saya tidak langsung meng-iyakan karena saya tidak mau merepotkan dan tidak mau juga mengganggu privasinya. Setelah berkali-kali yuichi menegaskan kalau saya bisa tinggal di rumahnya, akhirnya saya percaya bahwa itu benar dan saya meng-iyakannya. Alhamdulillah… saya tidak jadi tidur di bandara. ^_^

Yuichi menanyakan saya akan pergi kemana saja di Tokyo, saya belum bisa jawab langsung karena masih bingung. Jadi saya tuliskan saja semua tempat di Tokyo yang saya dapat dari googling 3 malam dan beliau terkejut karena saya menuliskan hampir semua tempat di Tokyo yang tidak mungkin dijelajahi hanya dalam waktu 3 hari. Seperti saya tidak bisa mengunjungi Imperial palace karena harus reservasi terlebih dahulu dan ternyata sudah full. Beliau bilang akan berusaha membawa saya ke tempat-tempat tersebut dan berusaha merancang perjalanan se-efektif mungkin.

Saat suami saya bertanya tentang lokasi belanja barang-barang secondhand di Tokyo, beliau bahkan meluangkan waktu untuk melakukan pengecekan dimana saja bisa ditemukan toko seperti itu. Saya jadi terharu lagi loh…. He did it for a stranger like me and my husband.

Saat menjelang hari keberangkatan saya, saya siapkan oleh-oleh untuknya yang khas Indonesia. Beliau sempat berkirim pesan lagi mengingatkan kalau saya harus tukar uang di Indonesia, jangan lupa untuk istirahat di pesawat karena nanti jadwal di Tokyo padat, dia akan berusaha untuk menghindari yang haram dan mencarikan saya makanan yang halal, serta meminta maaf tidak bisa mengantar ke bandara di hari terakhir karena harus bekerja. Huaaa… mau mewek rasanya. Kok segitu baiknya… Alhamdulillah….

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: