Ayu Galuh Anggraini

Backpackeran ke Tokyo: dari kuil hingga jembatan legendaris

In Tokyo on September 3, 2012 at 1:17 pm

Temple

Masih di seputaran Tsukiji, saya sempat mampir ke sebuah tempat peribadatan budha yaitu Tsukiji Hongwanji Temple. Saya tertarik dengan struktur bangunannya yang berbeda dengan tempat peribadatan budha yang lain. Malahan saya sempat mengira kalau itu adalah sebuah gereja. Bangunannya megah dan beraksitektur agak mirip kuil-kuil di India. Sepertinya kuil ini merupakan pusat agama budha di Tokyo. Tapi itu asumsi saya saja yah…

Kuil ini memiliki sejarah yang panjang. Awalnya di daerah tsukiji tidak ada kuil ini. Kuil ini dibangun setelah kuil sebelumnya (yang dibangun di wilayah Asakusa pada tahun 1617) hancur karena kebakaran besar yang melanda Tokyo pada tahun 1657. Karena tidak mendapatkan ijin untuk membangun kuil kembali di tempat yang sama, maka dibangunlah kuil baru di wilayah Tsukiji. Sayangnya, karena gempa besar pada tahun 1923, kuil ini kembali hancur. Kuil yang bisa kita lihat sekarang adalah kuil baru yang dibangun pada tahun 1931 dengan arsitektur bergaya India hasil desain Itoh Chuta, seorang professor dari fakultas arsitektur di Universitas Tokyo. Bangunan ini berhasil diselesaikan pada tahun 1934.

Bangunannya yang megah

sepertinya ini papan pengumuman

Saat saya memasuki bagian dalam dari kuil ini, saya tidak melihat ada satu pun patung budha seperti layaknya kuil budha. Hanya ada satu meja dan ada lukisan budha tergantung di dinding dengan ukuran yang tidak begitu besar. Ada banyak kursi yang disusun seperti layaknya di dalam gedung pertemuan ataupun gereja. Saya tidak berani mengambil gambar karena tidak tahu apakah diperbolehkan atau tidak. Tidak nampak juga ada petugas yang berjaga-jaga di dalam.

bunga camelia

Camelia yang berjatuhan ke tanah
Mata saya kemudian mengarah kepada sebuah pohon yang berbunga banyak sekali. Yuichi bilang itulah pohon camelia. Saya taunya camelia itu lagunya Ebiet G Ade. Baru kali ini saya lihat bentuk pohon dan bunganya. Saat itu banyak bunganya yang jatuh ke tanah. Yuichi bilang itu seperti lambang seorang samurai yang mati (entah karena dibunuh atau bunuh diri).
Shrine
Shrine kalau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah kuil/tempat suci/tempat pemujaan. Untuk mudahnya lebih baik dalam tulisannya ini saya menggunakan istilah Shrine. Ada dua macam shrine di jepang. Bisa dilihat dari tata cara orang beribadah disana. Bedanya adalah soal menepukkan tangan. Jadi kalau berkunjung ke sebuah shrine, amatilah bagaimana mereka beribadah. Kesamaan yang bisa saya liat adalah setiap shrine selalu ada pohon untuk tempat mengikat kertas permohonan. Kalaupun tidak ada pohon, maka aka nada semacam papan kayu yang nantinya kita tinggal menuliskan di kertas tentang permohonan kita dan tinggal digantung di papan kayu tersebut.
pohon dan kertas permohonan

japanese dolls
Saat keluar dari tsukiji fish market, saya melewati sebuah shrine. Shrine itu tidak begitu besar tetapi banyak yang berkunjung kesana. Begitu masuk di sebelah kiri ada patung kepala naga yang besar dan di sebelah kanan ada lonceng besar. Disekeliling lonceng itu ada banyak boneka-boneka kecil. Setiap tahun boneka-boneka itu diganti dengan sebuah perayaan setiap tanggal 3 maret. Saya hanya berada sebentar disana melihat-lihat dan menuju destinasi selanjutnya
Bridge Kachidoki
Untuk menuju kesini dari Tsukiji Hongwanji Subway station, anda tinggal berjalan menyusuri Harumi street dan anda bisa melihat sebuah jembatan yang istimewa. Awalnya saya tidak bisa mengenali kenapa bisa disebut istimewa sampai yuichi mengajak saya turun ke sebuah bangunan kecil yang terletak di dekat jembatan. Di dalam bangunan itu, ada peninggalan penting yang berkaitan erat dengan jembatan ini. Tidak banyak yang berkunjung kesana karena mungkin bagi banyak turis tidak terlalu istimewa, tetapi tidak bagi warga Tokyo.
bagian pinggi jembatan adalah untuk pejalan kaki
dan juga untuk jalur sepeda
Saya tidak bisa mendapatkan pamflet dalam bahasa Inggris tapi di dalam disediakan dua buah televisi yang menjelaskan tentang sejarah jembatan ini. Keistimewaan jembatan ini adalah bagian tengah jembatan yang bisa membuka dan menutup jika ada kapal yang lewat. Diperlihatkan pula beberapa alternative desain jembatan sebelum bentuk yang sekarang ini bisa kita lihat. Suatu ketika, saat semakin sedikit kapal yang lewat serta lalu lintas yang semakin padat maka akhirnya dengan terpaksa jembatan tersebut tidak dioperasikan lagi. Dalam hal ini proses buka tutup jembatan itu dihentikan. Ada sebuah gambar yang menunjukkan saat-saat terakhir jembatan itu beroperasi. Banyak orang berkumpul di kedua sisi jembatan untuk menjadi saksi peristiwa itu.
Saya coba menyusuri separuh jembatan itu dengan masih diiringi rintik hujan. Jembatan ini begitu bersih dan terawat. Dari tengah-tengah jembatan saya bisa melihat tsukiji market. Beberapa burung camar melayang diatas saya hilir mudik. Saya tidak pernah melihat yang seperti ini. Ini pertama kalinya…

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: