Ayu Galuh Anggraini

Backpackeran ke Tokyo: Bertemu Yuichi untuk pertama kalinya

In Tokyo on September 3, 2012 at 12:15 pm

Tiga jam sebelum boarding, saya sudah di LCCT. Suami mendapatkan sms dari pihak air asia untuk tiba lebih awal dari biasanya karena di Sepang sedang ada F1 Race. Kemungkinan akan terjadi kemacetan akan lebih besar. Lebih baik menunggu daripada terlambat dan harus ditinggal. Saya kapok ditinggal sekali oleh air asia. Hahaha…

Pesawat yang digunakan adalah Air Asia X yang lebih besar daripada pesawat AA biasa. Komposisi tempat duduknya adalah 333 dan 332. Bagian depan diisi oleh premium seat. Sepertinya enak karena bisa rebahan dan selonjor, dapat snack, bantal dan selimut. Boleh lah ya lain kali nyoba. ^_^

Perjalanan ini memakan waktu sekitar 7-8 jam tergantung oleh cuaca. Karena perjalanan yang panjang maka disarankan untuk banyak-banyak minum supaya tidak terkena dehidrasi akibat kondisi kabin pesawat yang kering. Untuk mencegah kram dan bengkak di kaki karena terlalu lama duduk jadi sebaiknya sering berjalan-jalan sewaktu di pesawat. Kalau saya sih sudah biasa duduk lama. Saya terbiasa duduk di bis malam dari Jakarta ke Jember maupun sebaliknya dengan waktu tempuh sehari semalam. Hahaha…

Penerbangan ke Jepang ini bukan penerbangan yang mulus. Saya mengalami turbulence terhebat selama sejarah saya traveling. Berkali-kali saya harus menahan deg-degan yang hebat saat pesawat terguncang-guncang keras. Sungguh bikin jantungan dan keringat dingin sekujur badan. Tapi saya coba untuk tidur dan memasang mp3 player supaya perhatian saya teralihkan. Lumayan sedikit sukses dan bisa tertidur mestipun sekali-kali harus tiba-tiba terbangun karena guncangan yang cukup keras.


Perkiraan sampai di haneda adalah pukul 11.30 malam. Sedangkan yuichi baru bisa menjemput sekitar jam 12 lewat sedikit. Ketika mendarat, di bandara haneda sedang turun hujan lebat. Sehingga penumpang dinaikkan dulu ke dalam shuttle bus untuk menuju ruang kedatangan internasional. Berbeda dengan di Jakarta yang kalau busnya masih kosong dikit bisa masuk dengan berdesak-desakan. Di Jepang diatur benar-benar tidak bisa asal masuk begitu saja.

Ketika saya harus melakukan pengesahan passport saya lupa mencantumkan nama yuichi di kertas yang harus diserahkan ke petugas imigrasi. Jadi saya harus menuliskannya di depan petugas. Si petugas kaget ternyata teman saya orang jepang. Mungkin aneh yah pikirnya. Kejadian yang bikin kagok adalah ketika pengecekan custom goods. Saya diminta menyerahkan dokumen custom declare yang ternyata ada di suami saya di counter lain, sedangkan mestinya suami istri jadi satu counter. Seorang petugas bolak balik ngomong ke saya pake bahasa jepang, saya jawab bahasa inggris dia tetep bilang bahasa jepang. Akhirnya kita berdua bengong, sampai tas saya dibawa ke counter tempat suami berada. Fyuh… beres deh.

suasana di bandara haneda.
Kursi-kursi itu dijadikan tempat tidur bagi siapa saja yang ingin menginap di bandara.
Ada juga fasilitas free wifi yang bisa diakses oleh pengunjung
Saat itu masih jam setengah dua belas. Jadi saya putuskan untuk menunggu tidak jauh dari pintu keluar. Sambil leyeh-leyeh saya kemudian pergi ke toilet sambil bawa kamera. Hahaha… karena konon toilet di jepang canggih yah. Toilet di bandara haneda bersih dan nyaman. Ada toilet khusus untuk ibu yang membawa anaknya, ada ruang untuk menyusui yang terpisah, toilet untuk yang berkebutuhan khusus, dan ada yang khusus untuk mandi juga. Jadi bener-bener lengkap.
tombol-tombol di toilet. Yang begini ngga ada di Indonesia. hehehe
Bersih kan? Ngga becek lagi lantainya.
Kalau yang untuk ibu-ibu membawa anak, ada tempat untuk duduk si anak loh. Ciamik!
Begitu selesai dari toilet, mata ini menangkap sesosok laki-laki yang mondar mandir dekat suami saya sambil membawa kertas. Langsung saya mengenalinya sebagai yuichi. Padahal saya belum pernah melihat dia dengan jelas sebelumnya. Akhirnya, saya bertemu dengan teman berbeda bangsa yang baik hati itu untuk pertama kalinya. Saya menyapa dengan bahasa Jepang dan beliau malah menyapa dengan bahasa Indonesia. Beliau pernah mengambil kursus bahasa Indonesia loh.
Karena jam sudah lewat tengah malam tidak ada kereta yang beroperasi. Yuichi akhirnya mengajak saya naik taxi. Saya langsung panic. Kenapa? Karena taxi di Jepang itu super mahal banget. Yuichi mungkin tau kalau saya sudah kebat kebit dari ekspresi muka saya yang seperti mau dilempar ke kandang singa. Suami saya pasang tampang paling innocent sedunia. Kenapa? Karena dia tidak tahu situasinya. Yuichi dengan kalem bilang ke saya: “it’s ok. No problem”.
Sambil berjalan pelan-pelan saya bingung harus bilang apa. Setelah meletakkan barang di bagasi, supir taxi pun membuka pintu taxi yang nampaknya otomatic. Taxi pun meluncur pelan diiringi hati saya yang kebat-kebit. Yuichi menjelaskan tentang wilayah-wilayah yang kami lewati, saya pun ikut berkomentar sambil mata tetap mengawasi pergerakan argo taxi.
Kami diajak melewati rainbow bridge yang terkenal itu. Setelah sampai di dekat apartemen, argo taxi menunjukkan sepuluh ribu sekian yen. Kalikan saja dengan kurs yen saat itu yaitu 110 rupiah. Sehingga saya menawarkan ke beliau untuk sharing cost. Beliau dengan kalem kembali menjawab: “it’s ok. No problem. You are my guest”. Saya lega tapi perasaan sedikit canggung. Segitu baiknya terhadap teman yang baru kenal seperti saya ini. Suami saya baru sadar situasinya setelah saya sebut nominalnya. Duh, suamiku ini… *geleng-geleng*.
muka kuyu saya sewaktu baru sampai di apartemen yuichi
courtesy of yuichi watanabe
Sesampainya di apartemen, kami dijamu teh jepang yang enak sekali biarpun tidak pake gula. Beliau menyuguhkan sebuah roti unik yang rasanya enak banget. Kata beliau kue itu dibeli dari tsukiji outside market. Namanya Tamakoyaki Sweet. Perpaduan antara semacam omelette di bagian luarnya dan di bagian dalam ada krim yang rasanya manis dan gurih. So yummy. Beliau sengaja membeli pisau dan talenan baru untuk menjaga dari yang haram, yang pernah menyentuh talenan dan pisaunya sebelumnya. Terharu lagi deh….
waktu masih utuh.

Ini enak banget loh. Dijamin.

Yuichi juga menyiapkan air panas untuk mandi. Kami juga dijelaskan beberapa aturan di rumahnya. Tempat tidur kami disiapkan di ruang tv dengan beralaskan tatami. Setelah menyiapkan kasur gulung dan selimut, beliau menyalakan pemanas ruangan, supaya kami berdua tidak membeku.Tak lupa saya menyerahkan oleh-oleh kepada beliau dan kita bertiga ngobrol hingga jam 3 pagi. Suatu kali beliau menunjukkan kepada saya dan suami kalau beliau bisa membaca Surah Al Fatihah. Wow!! Beliau memberikan kepada saya, suami dan adik saya sebuah boneka kecil yang jika digoyang-goyang kearah manapun bisa kembali tegak. Katanya itu melambangkan beliau sebagai orang utara yang bisa terus bangkit meskipun dijatuhkan berkali-kali. Dalem banget yah…
ini penampakan bonekanya
Yuichi adalah seorang traveler juga. Beliau memulai sebuah project perjalanannya menyusuri jalur eropa dan asia. Butuh waktu bertahun-tahun untuk itu. Di atas sofa tempat kami duduk, ada peta dunia yang menempel di dinding. Jalur yang dia gambar dengan spidol warna merah adalah pencapaiannya selama ini. Beliau menunjukkan juga paspornya yang ada visa on arrival Indonesia. Sesuatu yang tidak mungkin saya dapatkan katanya. Hahahaa… benar juga.
Selama jadi WNI, kamu gak bakalan dapat ini loh. ^_^
Salah satu pembicaraan yang berkesan adalah tentang keadaan Jepang pasca Tsunami. Semua orang berusaha melupakan kejadian itu. Berusaha untuk kembali bangkit. Yuichi memiliki orang tua yang memilih tinggal di dekat wilayah Fukushima. Pasti semua sudah tau kan yang saya maksud? Yap. Kebocoran reactor nuklir. Beliau sangat khawatir tentang keadaan orang tuanya. Beliau kemudian menunjukkan kepada saya selembar koran dengan gambar seperti di bawah ini
Yang ada keterangannya itu adalah hot spot radiasi. Tetapi wilayah Tokyo dan sekitarnya tidak ada keterangan yang menyebutkan tentang radiasi disana. Yuichi mengatakan, banyak orang tidak percaya dengan hal itu. Now they are believe what they are wanted to believe. Sambil bercanda yuichi bilang kalau saya hanya tinggal sebentar, jadi radiasinya mungkin hanya sedikit. Hahaha…
Sungguh saya masih tidak mengira saya bisa ke Tokyo, saya bisa mendapatkan teman yang baru, seorang keluarga yang baru di negeri yang jauh. Alloh sungguh berbaik hati kepada saya memberikan semua apa yang saya inginkan dengan cara-cara yang tidak diduga-duga. Bahkan saat saya sudah lupa akan keinginan tersebut. Alhamdulillah… Alhamdulillah…


(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: