Ayu Galuh Anggraini

Musim dingin di Hongkong (part 1)

In Hong Kong, Jalan-jalan on August 9, 2012 at 12:16 am

Saya sudah pernah bercerita panjang lebar tentang pengalaman traveling ke macau namun hanya sekilas mengulas tentang hongkong karena memang hanya beberapa jam saja berada disana sehingga tidak banyak yang bisa diulas. Ketika kedua kalinya ke hongkong yaitu bulan januari kemaren, saya menginap di hongkong sekitar 3hari sehingga saya memiliki waktu yang lumayan cukup untuk menjelajahi lokasi-lokasi wisata yang belum sempat saya kunjungi sebelumnya.

Hostel tempat menginap

Saya menginap di yiu fai guest house yang terletak di kawasan Tsim Tsa Tsui. Hostel ini bisa dibooking melalui http://www.hostelworld.com. Sebenarnya ada 2 pilihan hostel, yaitu Yess inn di Hongkong Island dan Yui Fai. Alasan saya memilih Yiu Fai adalah lokasinya yang strategis. Yiu Fai dekat sekali dengan beberapa destinasi yang akan dikunjungi seperti Avenue of the stars, clock tower, Hongkong’s museums, Kowloon park.

Yiu fai juga dekat dengan stasiun MRT dan masjid Kowloon (tinggal meyebrang jalan saja). Mencari makanan dan berbelanja pun mudah, tinggal berjalan kaki saja ke KFC, McD, restoran-restoran muslim India/Pakistan. Untuk menuju ke shenzen pun aksesnya mudah, tinggal naik MRT saja (line biru muda).

Untuk mencari hostel ini juga mudah sekali, anda tinggal bertanya dimana masjid Kowloon maka anda akan sampai di depan hostelnya. Cari gedung Golden Crown Court dan naiklah ke lantai 6. Pemilik hostel ini bahasa Inggrisnya lumayan, hanya saja kadang saya tidak mengerti karena bicaranya yang cepat ditambah aksen bahasa kanton yang masih melekat erat. Kamar saya terletak di lantai 10. Sehingga saya harus naik lift menuju kesana. Pemilik hostel menyilakan saya naik lift sedangkan dia menggunakan tangga ke lantai 10. Benar-benar rajin berolah raga atau memang memperlihatkan pada saya “time is money”.

Kamar yang saya dapatkan nyaman, bersih, ber-AC dan disediakan pesawat televisi juga. Tempat pertama yang saya lihat adalah kamar mandi, dan ternyata kamar mandinya oke. Si pemilik memberikan saya peta hongkong dan kartu nama jika butuh bantuan sewaktu-waktu dan dia selalu siap siaga 24 jam (ini terlihat saat saya dipagi buta minta info dia dengan segera keluar dari cubiclenya untuk memberikan penjelasan). Oyah, di hostel ini tersedia fasilitas free wifi juga dengan koneksi yang lancar jaya.

Street fashion, mongkok dan gadis pemusik

Menyenangkan sekali berjalan-jalan di hongkong saat musim dingin tiba. Semua orang terlihat tampil fashionable, terutama tentu kaum mudanya dengan aneka warna coat yang cute, girly maupun yang elegan dan mewah. Ingin sekali rasanya mengabadikan gaya fashion mereka satu per satu, tapi saya belum pede untuk menyapa dan menanyakan “may I take your picture please?”.

Bicara fashion di hongkong tentunya tidak lepas dari wilayah mongkok yang terkenal dengan ladies market-nya. Sebenarnya ada beberapa tempat belanja, namun tidak sepopuler mongkok. Disana saya tergiur aneka syal, kaus tangan lucu, pokoknya tidak terbayangkan betapa mupengnya berada disana. Tapi sebatas mengagumi saja dan survey harga karena buat apa saya membeli barang yang tidak begitu saya butuhkan mengingat Jakarta yang panasnya kadang seperti “neraka bocor”.

Saya, suami dan ika, melangkahkan kaki mengikuti intuisi dan tidak perduli berada dalam situasi tersesat atau tidak. Entah berada di sisi yang mana, disepanjang jalan yang ditutup untuk kendaraan itu terlihat banyak sekali yang mempromosikan barang dagangan di meja-meja kecil yag tersedia. Distro-distro terlihat ramai dengan anak muda. Toko-toko elektronik juga tidak pernah sepi pengunjung. Lokasi ini bisa diakses dari MTR Mongkok Station Exit E2 atau D3.

Ada juga beberapa street performer yang unjuk kebolehan. Tetapi saya sudah jatuh cinta pada suara alat gesek khas cina yang dimainkan oleh seorang gadis berwajah cantik namun bermata sedih. Musik yang dimainkannya tak kalah menyayat hati. Banyak orang yang mengerumuninya. Matanya terus menatap kebawah, menghayati tiap alunan nada. Ada kertas bertuliskan aksara cina di depan tempat gadis itu duduk, tergeletak begitu saja diaspal. Mungkin alasan kenapa dia “ngamen” disitu. Setiap satu lagu selesai dimainkan bergegas beberapa penonton meletakkan lebaran uang di kotak alat musik yang terbuka disampingnya. Sedih…

Selama di hongkong, saya jatuh cinta dengan kue egg tart yang dijual di KFC. Rasanya berbeda dengan egg tart yang dijual di macau. Jadi setiap makan di KFC, menu saya setiap pagi adalah paket sup tomat dengan ayam panggang, teh susu dan egg tart. Gembul banget. Bahkan saya rela tengah malam kelayapan ke KFC untuk membeli beberapa potong egg tart. Saya dan ika sempat berpikir sebelum kembali ke Macau untuk pulang ke Indonesia, kami akan membeli sekotak egg tart untuk oleh-oleh dan dimakan sendiri. Tapi kemudian urung dilakukan karena saya berpikir toh kita bisa beli di macau (koi kei).

Naas bagi kami, sesampainya di macau semua stok egg tart di palasterei koi kei sudah ludes diborong para pelancong. Rasanya hati saya hancur berkeping-keping (lebay mode on), lenyap sudah bayangan di kepala saya yaitu makan egg tart sambil nunggu counter mandala airlines di macau airport buka. Akhirnya saya memborong kue mochi rasa pisang dan kacang hijau serta semacam kue dorayaki ala macau. Sampai sekarang saya nyesel berat. Hiks….

(bersambung)

  1. musim dingin di hongkong kira-kira berapa derajat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: