Ayu Galuh Anggraini

Let’s Get Lost in Phuket (Part 1)

In Jalan-jalan, phuket on August 9, 2012 at 12:03 am

Perjalanan kali merupakan hasil “racun” yang ditebarkan oleh sahabat saya, Inne (seorang reporter sebuah stasiun televisi yang cantik, lucu dan kadang-kadang menakutkan *becanda loh ne*). Saya dan Inne merupakan teman sekelas di kursus mandarin dan menjadi dekat sampai sekarang. Hobi kami sama yaitu traveling. Bedanya adalah, Inne adalah traveler berkoper sedangkan saya memakai backpack. Tetapi prinsip kami sama, bagaimana bisa jalan-jalan dengan budget terbatas (diluar dana belanja tentunya). Berhubung Inne yang terlebih dahulu menjejakkan kakinya di Phuket, jadilah saya putuskan ia menjadi pemandu. Oyah, ditambah seorang lagi yang “keracunan” yaitu ichiko, seorang mahasiswi penghobi jalan-jalan yang kenal via kursus mandarin. Chiko hampir saja batal berangkat karena Ibundanya sedang sakit, tetapi akhirnya she made it..

Tidak seperti perjalanan saya sebelumnya, dimana saya heboh browsing sana-sini, kumpulin info, lihat-lihat peta jauh-jauh hari sebelumnya, kali ini saya tenang. Barulah kehebohan itu dimulai sekitar dua hari sebelum keberangkatan. Pertama adalah menentukan tempat menginap, kedua adalah tujuan kemana saja kita akan “bergerilya”. Akhirnya setelah melalui beratus-ratus pesan yang terhambur melalui YM dan BBM, kita memutuskan menginap di Rucksack Hostel di Phuket Town selama semalam dengan pertimbangan lebih dekat jaraknya dari bandara (karena sampai Phuket malam hari), dan juga lokasinya lebih dekat ke Phi-phi Island (karena kita berencana keesokan harinya akan menyeberang ke Phi-phi Island dan berencana menginap disana).Maskapai penerbangan yang kami gunakan adalah Air Asia Indonesia dengan rute Jakarta – Phuket. Kemudian saya mendapatkan tugas untuk mencari letak Phuket Zoo dan Butterfly and Insect Museum (karena hari terakhir rencananya akan dihabiskan untuk mengunjungi dua tempat tersebut). Keduanya terletak di Phuket Town.

Saya pernah menceritakan kalau saya punya pengalaman buruk ketinggalan pesawat. Nah kali ini secara kebetulan orang yang mengantarkan kami ke bandara tidak tahu jalan dan akhirnya nyasar. Paniklah saya, dan menghubungi Inne berkali-kali sambil mewanti-wanti untuk meninggalkan saya kalau-kalau sudah ditutup waktu check in nya. Keringat dingin mengucur dengan deras. Inne kemudian menyarankan untuk segera menggunakan fasilitas mobile check in. Nah pas buka mobile check in disitu tertulis kalau pukul 13.40 closing check in, sementara jam menunjukkan pukul dua lebih sekian menit. Badan ini serasa hilang keseimbangan, kebayang rencana jalan-jalan gagal total. Saking paniknya saya, saya check in untuk penerbangan dari Phuket-Jakarta. Ternyata saya sampai di Soetta hampir berbarengan dengan Inne dan Chiko. Surprisingly Inne memakai backpack loh sodara-sodara!! Huehehehee….

Berhubung takut telat, backpack saya tinggal di mobil, yang penting check in duluan saja. Alhamdulillah… saya ngga terlambat. Oyah, saya juga dengan santainya belum tukar uang ke money changer. Selesai check in, saya ambil backpack dan tukar uang. Ternyata mata uang Baht Thailand ludes tak tersisa. Hmm… rupanya banyak sekali yang bepergian ke Thailand. Akhirnya saya menukarkan IDR dengan USD dan berencana menukarkan USD dengan BHT setelah sampai di bandara Phuket. Kalaupun ternyata tidak ada (karena biasanya malam hari money changer tutup), saya minta tolong ke Inne untuk pinjam uangnya lebih dulu.

Perjalanan dari Jakarta menuju Phuket memakan waktu sekitar hampir 3 jam. Waktu itu cuaca buruk sehingga pesawat terguncang-guncang dan membuat saya sulit untuk tidur. Pesawat kemudian mendarat 12 menit lebih awal daripada yang dijadwalkan dan tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Phuket.

Keluar dari imigrasi phuket kita langsung mencari kendaraan yang bisa membawa kita ke Phuket Town. Oyah kita juga bisa mengambil peta Phuket gratis dalam berbagai bahasa di dekat tempat pengambilan bagasi, juga ada booth yang menawarkan kartu perdana gratis. Jejeran travel agent akan nampak setelah kita keluar pintu bandara.

Saya pun menukarkan USD ke BHT disalah satu travel agent yang juga berfungsi ganda sebagai money changer. Setelah bertanya sana sini, Inne mengusulkan untuk naik bus saja, tetapi ternyata tidak tersedia. Pilihannya hanya ada Taxi (bukan taxi kayak di Indonesia, tetapi ini seperti mobil pribadi) dan minibus dengan harga yang lumayan mahal untuk per-orangnya. Akhirnya Inne berhasil mendapatkan taxi dengan harga yang telah dinego untuk membawa kita ke Phuket Town. Patokan hostel kami adalah Phuket Backpacker Hostel (PBH) yang terkenal sebagai tempat rujukan para backpacker.

Untuk menemukan hostel yang kami pesan pun butuh perjuangan yang boleh dibilang konyol. Jadi berdasarkan petunjuk yang Inne dapat via email, hostel kami terletak di depan Thai Airways Building, dengan bangunan berwarna purple. Sesaat setelah kami turun dari taxi, saya hanya bisa melihat papan nama “Phuket Backpacker Hostel” dan tidak ada tanda-tanda nama “Rucksack Hostel”. Bukannya mencari hostelnya lebih dulu, malahan kita mampir dulu ke 7 eleven. Inne dan Chiko membeli kartu perdana “12Call” sementara saya masih mikir-mikir mau beli atau tidak. Saya malah bingung dimana letak hostelnya.

Bangunan berwarna purple disitu hanya ada satu tetapi itu bukan hostel melainkan restoran seafood. Saya coba tanya ke pelayan resto itu (cewe) dan dia hanya geleng-geleng kepala. Kemudian saya tanya ke bartender sebuah bar disebelah PBH dan dia menunjukkan sebuah jalan kecil disebelah bar itu. Saya coba masuk kesana tetapi saya ragu karena jalan itu, jalan masuk ke PBH bukannya Rucksack. Stress lah saya.

Setelah Inne dan Chiko selesai berbelanja, Inne dengan santainya tanya ke pelayan resto (kali ini yang cowo) dan dia langsung menunjukkan pintu masuk ke Rucksack Hostel. Damn!!! Selama ini saya muter-muter taunya tempatnya di depan mata. Saya pun melengos dengan sukses kepada pelayan resto yang cewe. Huh!.

Chiko, Inne dan Saya berpose di depan gerbang Phuket Backpacker Hostel

Rupanya PBH dan Rucksack satu manajemen tetapi beda gedung. Sejurus kemudian tiba-tiba kehebohan lain terjadi. Sebuah kebetulan atau sudah ditakdirkan jika bertemu teman di negara yang asing. Begitulah yang terjadi pada Inne, yang sempat bengong sejenak saat ternyata yang membukakan pintu gerbang hostel adalah Rully rekannya sesama jurnalis dan akhirnya menambah satu pasukan lagi yaitu Andra, juga seorang jurnalis penggemar fotografi (ternyata satu pesawat dari Jakarta dan tukar uang ditempat yang sama).

Rully akhirnya merekomendasikan tur 4 in 1 ke James Bond Island dan beberapa pulau lain untuk naik canoe. Akhirnya kita memutuskan untuk ikut tur yang direkomendasikan Rully. Artinya pula bahwa rencana awal berubah, dari Phi-phi Island menjadi ke James Bond Island dan artinya pula kita tidak jadi menginap di Phi-phi.

ini dia penampakan rully dan andra

Soal kamar, terjadi kesalahpaham lagi. Awalnya kita mengira kita booking satu kamar dengan empat tempat tidur. Ternyata kita malah booking dua kamar yang setiap kamarnya bisa dihuni dua orang. Setelah mengintip-intip, ternyata PBH itu enak banget suasananya, homey banget. Ada semacam ruang untuk nonton tv bareng-bareng gitu dengan flat screen, dengan sofa yang empuk dan disampingnya tersedia dua unit computer bagi yang ingin berinternet ria. Fasilitas wifi juga tersedia di hostel ini, tetapi tidak di kamar. Ruscksack hostel tidak menyediakan fasilitas wifi. Jika ingin menggunakannya bisa nongkrong di PBH.

Satu hal yang saya perhatikan adalah di hostel mana saja di Phuket selalu tersedia Ice Cream Magnum. Untuk jaminan kita harus deposit 400 baht untuk dua kamar. Kamar yang saya dapat di Rucksack bukan seperti kamar hostel, melainkan kamar hotel, dengan kamar mandi dalam (bukan sharing) yang bersih dan bagus. Sepertinya Rucksack ini masih baru saja dibangun, bau cat masih bisa tercium. Kamar kami terletak di lantai tiga. Setiap tamu mendapatkan free Orange Juice dengan menukarkan kupon di bar sebelah hostel (dan ternyata hanya berlaku hari itu saja… angus deh.. *ketauan ogah rugi*). Berikut ini penampakan kamar di rucksack.

Leganya sudah sampai Phuket dengan selamat. Saya tengok kamar sebelah, Inne dan Chiko masih berkutat dengan blackberry-nya masing-masing. Ini penting supaya stay connected kapan saja dan dimana saja. Cukup membingungkan untuk aktivasi kartunya dan layanan blackberrynya karena panduannya tertulis dalam bahasa Thailand. Saya sih masih belum tergoda untuk ganti kartu. Saya baru tergoda untuk ganti kartu setelah mereka berhasil aktivasi dan dengan sukses BBM-an dengan keluarga dan teman di Indonesia. Harga kartu perdananya adalah 50 baht, dan isi pulsa 100 baht. Tarif internet unlimited untuk 3hari adalah 90 baht. Sinyalnya kenceng jaya. Tidak butuh waktu lama untuk upload foto ke twitter atau akses ke facebook. Bahkan untuk buka youtube via laptop tidak perlu buffering lama-lama seperti di Indonesia. Berikut ini penampakan kartu yang kami bertiga gunakan di Phuket.

Karena sudah lelah, saya memutuskan untuk tidur saja. Supaya besoknya saat tur tidak masuk angin. Pssstt.. sebenarnya saya takut ke laut karena sesuatu hal selain saya memang menderita mabuk darat, laut dan udara yang akut. he he..

(bersambung)

Note: Foto plang Phuket Backpacker Hostel courtesy Ichiko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: