Ayu Galuh Anggraini

Bali episode: Gunung dan Danau Batur

In Bali, Jalan-jalan, Jelajah Negeri on August 9, 2012 at 1:18 pm

Ketika ditanya oleh suami weekend ini mau kemana, saya jawab kalau saya pengen ke Danau Batur. Seingat saya, saya dulu pernah mengunjungi danau ini. Jadilah saya dan suami plus dua orang teman bermodal GPS dan peta biasa berangkat ke menuju lokasi penampakannya. Hehehe…

Lumayan jauh jarak yang ditempuh untuk menuju ke danau Bratan dari Denpasar. Bagi wisatawan yang ingin berkunjung kesana saya sarankan menyewa kendaraan karena saya rasa tidak ada angkutan umum yang lewat disana. Medan yang berkelok-kelok lumayan membuat saya sedikit mual. Tapi semua terbayar saat melihat danau yang indah rupawan. Berdampingan setia dengan Gunung Batur yang berdiri kokoh, danau yang tenang itu bagaikan pasangan setia. Memang sejatinya danau Bratan terjadi sebagai akibat dari letusan maha dahsyat dari Gunung Batur yang terjadi di masa lampau. Untuk memasuki wilayah danau bratan dikenakan tarif sebesar Rp. 10.000 per kepala.

Kami pun menyusuri jalan yang tidak lebar dan berkelok memasuki wilayah danau. Untuk menuju Trunyan, juga melalui jalan itu. Bagi yang belum tau tentang trunyan. Sekilas saja, trunyan adalah tempat dimana jenazah disemayamkan dengan cara diletakkan begitu saja dibawah pohon Trunyan yang anehnya tidak meimbulkan bau sedikitpun. Kalau menginginkan guide penduduk lokal untuk menuju trunyan juga bisa. Mereka dengan mudah ditemui di pinggiran jalan tempat berjejer warung-warung yang menjajakan aneka rupa oleh-oleh khas Bali. Kami sendiri melewatkan ke trunyan karena saya ngga mau pulang-pulang ada yang ngikut. Hehehe…

Ada kejadian yang cukup bikin deg-degan, yaitu saat suami saya diomelin supir truk karena nyaris bertabrakan. Jantung ini mau copot rasanya. Jalannya kecil dan kelokannya tajam. Benar-benar butuh skill lebih deh, karena “musuh” yang harus dihadapi adalah truk-truk yang memuat batu yang ditambang dari kaki gunung Batur. Yap, sepanjang perjalanan untuk mendekati danau, pemandangan yang disuguhkan adalah “hutan batu”, karena bukan hutan yang hijau tapi hamparan padang gersang yang dipenuhi bongkahan batu yang berukuran besar. Tapi melihat gundukan-gundukan batu berwarna hitam itu dimata saya juga memiliki keindahan tersendiri, pasti bagus banget kalau foto pre wedding disana atau bikin video clip.

Selain keindahan danau, bagi yang ingin mandi air panas bisa mengunjungi Toya Bungkah. Tapi lagi-lagi saya melewatkannya, karena sebenarnya saya sedang dalam misi mencari sebuah Pura yang bayangannya terkubur dalam kenangan masa kecil yang nampaknya tidak saya temukan. Sedangkan suami terobsesi ingin melihat anjing kintamani yang unik sekali karena kebiasaannya membangun sarang di dalam tanah. Dua keinginan berbeda yang tidak kesampaian akhirnya membawa saya mampir ke sebuah resto di pinggir jalan. Resto yang cukup sepi, karena sejujurnya memang tak banyak wisatawan yang turun kebawah. Di resto itu, hanya kami berempat-lah yang statusnya wisatawan dalam negeri, lainnya bule. Saya surprise sekali, makanan yang saya pesan penampilannya oke dan rasannya enak, harganya juga masuk akal. Saat akan pulang, pemilik resto menawarkan hotel jika kami akan menginap. Harga yang ditawarkan sekitar 200-250 ribu rupiah.

Kami akhirnya memutuskan untuk naik lagi keatas, dan mengambil gambar dari spot yang sudah disediakan sedemikian rupa bagi wisatawan yang ingin memandangi pemandangan sepuasnya. Ada banyak pedagang asongan yang berjualan aneka kaos, sarung bali. Bermurah hatilah untuk membeli sekedar oleh-oleh kesukaan anda. Karena memang lebih murah daripada saat anda membeli dari pasar seni sukowati. Sebagai patokan, di sukowati untuk kaus yang sama dihargai 25rb rupiah sedangkan disana saya ditawari 50 ribu rupiah untuk 5 potong kaus!

Sebelum pulang saya membeli jagung bakar sambil berbincang dengan si penjual yang ternyata dulunya adalah penjual anjing kintamani. Seekornya yang masih kecil dihargai 500 ribu rupiah. Tetapi karena maraknya wabah rabies, ia terpaksa membunuh semua anjingnya dan beralih profesi jadi penjual jagung bakar. Hiks, kasian yah anjingnya. Untuk kembali ke Denpasar, kami memilih untuk ke singaraja dulu, lewat bedugul demi berburu durian murah dan ternyata lagi-lagi tidak kesampaian karena durian yang dibeli tidak sesuai keinginan. Masih mentah! Hahaha..

Happy traveling!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: