Ayu Galuh Anggraini

Let’s Get Lost in Phuket (Part 2)

In Jalan-jalan, phuket on August 9, 2012 at 12:07 am

Keesokan harinya sekitar jam 8, saya, inne dan chiko sudah berdandan yang keren sekali. Atas nama eksistensi di dunia maya akhirnya saya tergoda juga untuk membeli kartu perdana 12call. Jadilah saya pagi-pagi kabur ke 7eleven dan meminta petunjuk chiko dan inne untuk aktivasinya. Disebelah hostel ada warung makan yang cukup murah. Untuk nasi plus lauk tumisan sayuran dan ikan hanya 30BHT.

Uniknya di Thai walaupun mereka bercakap-cakap dalam bahasa Inggris tetapi saat mengucapkan “terima kasih” mereka tetap menggunakan bahasa Thailand “khop khun kha” dengan logat khas Thai. Sambil menunggu Rully dan Andra, kami ngubek-ngubek 7eleven untuk sekedar cemal-cemil. Sekitar jam 10 pagi kita sudah dijemput oleh pihak tur untuk diantar ke pier. Rully dan andra membawa backpacknya karena malam harinya mereka akan menginap di Patong, sedangkan kami memilih tetap stay di Phuket town.

Tim hura-hura
Cukup jauh juga perjalanan menuju ke pier, dan cuaca cukup panas menyengar tapi belum sampai ke taraf “neraka bocor”. Sepanjang perjalanan kami nyrocos saja. Sepertinya beberapa orang asing yang semobil dengan kami agak merasa terganggu dengan hebohnya pembicaraan kita. Misalnya Rully yang sibuk menerangkan tempat makanan enak yang tersembunyi dan berhasil dia temukan saat menjelajah phuket town. Andra yang sibuk jadi provokator supaya Inne ikut perjalanan mereka lanjut ke bangkok, vietnam dan singapura. Chiko sibuk komentar kenapa twitternya bermasalah. Inne berada dalam situasi bimbang antara ikut lanjut agenda travelingnya atau sesuai rencana semula. Sementara saya memilih untuk mendengarkan lagu-lagu dari Mp3 saja sambil sesekali menimpali.Sebenarnya sih diamnya saya karena menahan mual. Jalan yang berliku-liku cukup menggoyahkan keseimbangan otak kecil saya yang akhirnya memberikan stimulus rasa-rasa tidak mengenakkan di perut. Sepanjang perjalanan saya mengamati bentuk rumah-rumah thailand yang kosntruksinya mirip dengan rumah panggung. Tetapi saya malah sedikit ketakutan gara-gara ingat film hantu thailand yang settingnya di desa-desa terpencil di tengah-tengah hutan begitu. hiiiiiiSetelah sekitar 1,5 jam perjalanan, sampailah kita di pier. Setelah turun dari mobil, pihak tur memberikan stiker yang ditempelkan di baju kita, sesuai kelompoknya. Stiker saya berwarna oranye (dan hilang entah kemana sewaktu sudah naik kapal). Berhubung Rully dan Andra membawa backpacknya maka backpacknya harus dititipkan di tempat penitipan yang sudah disediakan. Sepertinya aman, karena tidak ada komplen ada sesuatu yang hilang dari Rully maupun Andra. Niat hati fokus untuk tur tetapi kenyataan berkata lain. Belum apa-apa saya sudah nafsu melihat topi-topi lucu seharga 100BHT yang memang berfungsi untuk menghalau panas yang sudah sampai taraf “neraka agak bocor”. Tapi semangat foto-foto tidak pernah padam dan pudar. Never!!!!

Narsisnya kami bertiga
terpujilah orang yang berbaik hati menjadi fotografer pribadi kita ^_^
courtesy of Inne Nathalia

Untuk menuju ke kapal, kami diharuskan untuk naik kendaraan yang disediakan secara bergiliran sesuai dengan warna stiker. Ternyata stiker oranye gilirannya paling belakang. Walaupun agak lama nunggunya tetapi segi positifnya bisa jeprat-jepret lebih lama tidak peduli panas menyengat. Ternyata kami pun mendapatkan banyak teman baru sesama orang Indonesia yang juga ternyata juga satu kapal dengan kami.

ini kendaraannya, ada 3 bangku panjang disamping kanan dan kira dan ditengah.
courtesy of Inne Nathalia

Sebenarnya saya tidak begitu menyukai laut, karena menurut saya laut itu misterius dan unpredictable. Walaupun saya bisa berenang tetapi tidak menyurutkan ketakutan saya akan yang namanya laut. Jadi ini kali pertama saya mau diajak berlama-lama di laut, berkeliling antara pulau yang satu dengan yang lainnya. Empat pulau yang dikunjungi adalah Panak Island, Hong Island, James Bond Island dan Lawa Island. Sepanjang perjalanan pemandangannya indah sekali, rugi kalau tidak mengabadikannya melalui lensa kamera anda. Mabuk laut saya teralihkan dengan aktifitas jeprat-jepret yang mengasikkan. Ketika kapal berhenti di pulau pertama, saya sempat menolak untuk naik kano. Pertama, karena saya takut laut. Kedua, karena saya tidak bawa baju ganti. Setelah dibujuk-bujuk akhirnya saya mau juga dan keputusan saya tidak salah karena MENYENANGKAN!!

Saya satu kano dengan chiko dan rully, sedangkan Inne satu kano dengan andra. Pengalaman yang tidak terlupakan adalah ketika kita diharuskan untuk melewati lorong gua yang sempit dan rendah sehingga untuk bisa melaluinya kami harus berada dalam posisi tidur, sedangkan kano-nya didorong perlahan-lahan oleh pemandunya. Penerangan yang ada hanyalah dari senter yang dipinjamkan oleh pemandu kami dan hanya boleh dinyalakan dan dimatikan sesuai instruksi darinya. Saking sempitnya tidak jarang kano yang satu dengan yang lain saling bertabrakan, bahkan ada pula pemandu kano yang kepalanya kejedot dinding gua karena lupa menunduk. Ouch!! That’s hurt!!

Ternyata gua itu adalah akses masuk ke sebuah tempat yang pemandu saya bilang “taman mangrove”. Dia pun menjelaskan kepada saya apa itu mangrove, karena mungkin saya dikira tidak tahu seperti apa tanaman bakau itu. Saya hanya tersenyum, karena saya sangat tahu sekali (ini hiperbola banget) tentang tanaman bakau. Secara kita tinggal di Indonesia dimana tanaman bakau bukan hal yang luar biasa. Walaupun mirisnya sekarang tanaman yang berfungsi sebagai pemecah gelombang, rumah bagi ikan-ikan, tempat bersarang burung-burung laut, tempat favorit bekantan ini makin lama semakin berkurang. Saya jadi ingat tulisan Trinity di bukunya “The Naked Traveler” dimana dia bete karena ikut tur hanya untuk lihat pohon pisang!! Nah, seperti itulah posisi saya saat itu. Tapi ngga papa, pengalaman baru buat saya.

ini pemandu saya yang menawarkan diri untuk motretin.
Dia paham sekali spot-spot mana yang bagus untuk berfoto, plus gaya-gayanya. ha ha

Beruntung sekali saya mendapatkan pemandu yang lumayan lancar bahasa Inggrisnya, orangnya kreatif dan ramah serta bisa menerangkan kepada kami tentang hal-hal yang ada disana. Namanya Wan. Bayangkan saja tiba-tiba wan megambil daun bakau, kemudian dia lubangi tengahnya dengan tangan hingga berbentuk hati. Saya bertanya-tanya dalam hati apa yang dilakukannya. ternyata daun itu ia gunakan untuk “framming foto”.

Saya yang meolak untuk turun ke air lebih memilih diam saja di kano. Doing nothing. Rupanya Wan tahu saya sedang mati gaya, akhirnya saya disuruh canoeing sendirian. Dia bawa saya ke ujung yang lain sambil menunjukkan sebuah batu yang jika dilihat-lihat mirip dengan gajah. Ada batu yang mirip ikan piranha, budha sedang bersila, bahkan ayam (tapi dalam posisi terbalik). wan bahkan mengajarkan kalau ucapan terima kasih di Thai itu berbeda-beda tergantung siapa yang mengucapkannya. Berkebalikan dengan pemandu Inne dan Andra yang hanya tersenyum saja setiap kali ditanya. Jadi inne sudah nyrocos panjang lebar tanya ini itu, si pemandu hanya pasang muka sepolos mungkin. Jadinya kalau saya dapat info dr wan, saya langsung transfer info ke inne. he he…

see what i’m talking about? ini hasil karya wan…
courtesy Ichiko

Puas bermain-main air, makan siang sudah tersedia di kapal. Menunya “all about seafood”. Karena tau saya muslim, salah seorang awak kapal bilang kalau semua yang disediakan itu halal, karena mereka muslim juga. Alhamdulillah. Perempuan dipersilahkan untuk lebih dahulu mengambil makanan, mungkin kalau laki-laki dahulu yang ngambil bisa-bisa perempuannya tidak kebagian. ha..ha.. Saya lihat orang korea semangat sekali makannya, dan niat banget bawa sejenis sake untuk minumnya.

Favorit saya adalah Tom Yam-nya yang rasanya Thailand banget. Piring makan pun penuh dengan semua yang terhidang disana. Heaven. Kemudian di pulau terakhir, peserta tur diperbolehkan untuk berenang atau canoeing tanpa didampingi pemandu kalau sudah mahir. Disini inne bawa oleh-oleh kaki yang sobek karena ternyata karang-karang didasar pantainya lumayan tajam. Sedangkan saya memilih untuk diam saja di kapal sambil menghabiskan baterai kamera, sembari menikmati angin laut dan menjaga barang-barang teman-teman yang lain. he…

Tur selesai kira-kira pukul 5 sore dan kami diantarkan ke Patong. Yup, awalnya seharusnya saya, inne dan chiko diantar ke phuket town, tetapi karena mupeng dengan suasana malam di Patong jadinya saya, inne dan chiko memilih untuk mengikuti Rully dan Andra. Rutenya adalah mampir ke Patong Backpacker Hostel, menyusuri keramaian Bangla Road, dan makan malam.

berpose di bangla road
suasana di bangla road

Patong Backpacker Hostel letaknya sangat strategis, tidak heran kalau jadi rujukan para backpacker mancanegara. Kehebohan terjadi saat andra dan rully masuk ke kamar mereka yang berisi sekitar 12 orang (6 bunk bed). Beruntunglah mereka para penghuni kamarnya heboh-heboh karena seorang teman pernah mendapatkan kamar yang tidak enak dimana penghuninya pada jutek-jutek. Saya, Chiko dan Inne memilih mampir ke kamar Sherly yang terletak disebelah kamar andra dan rully. Kami berkenalan dengan Sherly di kapal, saya kira dia bukan orang Indonesia. Dia traveling sendirian karena ternyata temannya tidak jadi ke Phuket karena sesuatu hal dan dia bercerita kalau dia akan menonto Tiger Show yang katanya populer di Patong ini. Seperti apa show itu di part selanjutnya akan sedikit saya ceritakan.

Nah, berhubung cacing-cacing di perut sudah demo besar-besaran maka waktunya untuk cabut dari hostel. Sambil mencari tempat makan, mata ini tidak henti-hentinya melihat barang-barang unik-unik dan lucu khas Thailand. Sampailah pada suatu toko yang menjual tas yang lucu banget. Tawar menawar sadis dilakukan tapi ngga dapet juga, akhirnya saya dan inne menyerah (tapi tetep kepikiran) untuk merelakan saja tas itu, sedangkan chiko sudah sukses memborong beberapa barang untuk oleh-oleh.

Ketika melewati Bangla Road suasananya beda sekali dengan Phuket Town yang sepi. Mirip seperti Legian kalau di Bali. Sambil jalan saya lihat beberapa perempuan transgender yang berpakaian kabaret menawarkan selebaran show mereka. Cantik-cantik sekali, susah membedakannya dengan perempuan yang asli. Shownya sekitar 250BHT, kalau ingin berfoto dengan mereka anda harus merogoh kocek sebesar 100BHT. Tempat makan banyak sekali bertebaran di seputaran patong, hampir semua menunya sea food. Kami memilih makan di restonya orang malaysia yang sudah pasti halal. Jam 10 malam, kami bertiga pulang ke Phuket Town naik tuk-tuk yang baru saya ketahui keesokan harinya kalau lebih baik tidak menggunakan tuk-tuk dari patong ke phuket town karena berbahaya! He…

Tips:

  1. Jangan lupa memakai sunblock karena sinar mataharinya sungguh-sungguh membakar kulit. Buat bule kulit tanned itu sexy tapi buat kita yang kulitnya sudah cokelat itu disaster, kecuali yang memang niat ngitemin kulit itu beda lagi yah…
  2. Kalau bisa memiliki sendiri tas anti air untuk menyimpan barang-barang elektronik, karena saat naik kano barang-barang itu harus ditinggal di kapal.
  3. Pake baju yang keren tapi bahannya jangan yang tebel, karena ini ke pantai bukan ke kutub utara. jadi kalau basah bisa langsung kering kena panas. he he…

Happy Traveling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: