Ayu Galuh Anggraini

Sehari di Hongkong

In Hong Kong, Jalan-jalan on August 8, 2012 at 11:45 pm

Melanjutkan perjalanan di Macau, hari ketiga saya berencana untuk ke Hong Kong. Sebenarnya di awal perjalanan, saya sama sekali tidak memikirkan untuk ke Hong Kong. Tetapi di tengah-tengah perjalanan, suami “menantang” untuk explore Hong Kong dalam sehari. Namun setelah dihitung-hitung alokasi waktunya, tidaklah cukup sehari untuk “menaklukkan” Hong Kong. Akhirnya kami putuskan untuk ke obyek-obyek wisata yang dekat-dekat saja.

Sekitar jam 10 pagi, saya sudah melangkahkan kaki ke Grand Lisboa Hotel untuk antri shuttle bus ke Macau ferry terminal yang berwarna hijau tua. Nah, dari macau ferry terminal segeralah ke loket penjualan tiket FIRST FERRY. Ferry yang saya pilih akan berlabuh di Kowloon. Harga tiket yang dikenakan dari Macau-Kowloon adalah sebesar 140 HKD. Jam 11 saya sudah berada di dalam ferry yang sedang melaju ke Hong Kong. Suasana di dalam ferry-nya enak sekali. Jauh sekali perbandingannya dengan ferry dari Batam ke Singapura. Kursinya empuk, kebersihan yang terjaga, membuat perjalanan selama sekitar 1 jam menjadi tidak terasa. Kartu imigrasi Hong Kong akan dibagikan di tengah-tengah perjalanan. Segeralah mengisinya, jadi jangan sampai lupa untuk membawa bolpoint ketika anda travelling.

Hal yang sedikit menyita waktu ketika sampai di Hong Kong adalah imigrasinya. Saya harus mengantri panjang dan lama sekali. Hampir mirip dengan antrian imigrasi Singapura yang penuh sesak orang Indonesia yang menyeberang ke Singapura dari Batam. Tempatnya juga sempit sekali. Namun saat menuju pintu keluar suasana imigrasi berubah serasa di rumah sakit. Petugas-petugas bermasker, bilik-bilik bertirai khas rumah sakit. Rupanya flu burung masih menjadi momok menakutkan di Hong Kong.

Lepas dari antrian imigrasi, tibalah saatnya untuk mulai membingungkan diri. Pertama karena saya tidak tahu harus mendapatkan peta Hong Kong dimana, karena saya kira ada seperti free map untuk traveller seperti saya. Kedua karena saya lapar. Sudah tidak bisa menahan bunyi konser musik metal di perut, saat melihat KFC, saya segera memesan porsi jumbo. Menu KFC-nya enak-enak loh, ada nasi siram cream soup chiken and mushroom, ada nasi panggang chiken and mushroom. Biaya makan besar ini sekiar 29 HKD.

Berhubung saya blank, saya hanya mengikuti saran buku panduan travelling. Saya diharuskan menuju Harbour City Mall. Sepanjang jalan, di kanan-kiri semua Mall. Pantes jika dibilang Hong Kong surganya belanja. Ketemu Harbour city Mall, suami segera mencari toko buku. Apalagi yang dicari kalau bukan PETA. Akhirnya bukannya membeli baju tetapi malah membeli peta Macau, peta Hong Kong, peta Shenzen, dan buku kamus mini bahasa Canton. Lumayan banyak duit yang dihabiskan untuk membeli peta-peta ini. huh….

Sudah dapat peta, keluar Mall ternyata dari tempat saya berdiri kalau mau ke spot-spot yang ingin dikunjungi tinggal jalan kaki luruuuuuus ajah mengikuti jalur. Kecuali jika ingin mengunjungi Disneyland, ke Mongkok, Ladies Market yang harus menggunakan MRT Saya juga tidak membeli Octopus Card yang direkomendasikan oleh sejumlah backpacker. Lokasi pertama yang saya tuju adalah Avenue of The Stars. Untuk menuju kesana ternyata saya malah melewati banyak sekali obyek-obyek wisata seperti Hong Kong Museum of Art, Hong Kong Clock Tower, Hong Kong Cultural Centre, Hong Kong Space Museum. Barulah kita sampai di Avenue of The Stars. Cuaca saat itu panas-panas adem. Panas tapi angin yang berhembus dingin sekali.

Avenue of The Stars (ATS) berlokasi di Victoria Harbour Tsim Tsa Tsui. ATS ini menurut saya meniru Hollywood Walk of Fame. Bisa dilihat di sepanjang jalan, ada banyak sekali cetakan tangan dan tanda tangan dari pesohor-pesohor industri film Hong Kong. ATS merupakan tempat favorit bagi yang gila foto, dan saya jelas termasuk di dalam kategori itu. Saya hanya berfoto dengan cetakan tangan Jacky Chan dan Chow Yun Fat. Itupun dengan perjuangan berat, mengantri panjang. Hal yang membikin saya sebal disini adalah kalau kita berfoto kan mestinya yang lain akan menunggu giliran otomatis atau menahan langkah kakinya memberikan waktu bagi orang lain yang akan berfoto. Tapi ternyata banyak orang disini yang cuek sekali, alias jalan terus atau tiba-tiba berdiri di depan saya untuk berfoto padahal saya juga lagi berpose. Arrghhh….

Destinasi selanjutnya adalah ke pusat perbelanjaan terkenal di Hong Kong yaitu Ladies Market Mongkok. Untuk menuju kesana saya harus naik MRT dari stasiun East Tsim Tsa Tsui. Biayanya 4 HKD. Wah… ternyata ramai sekali. Saya pribadi kurang suka belanja, sehingga kalau ditanya belanja apa kalau jalan-jalan, saya selalu menjawab tidak membeli apa-apa kecuali oleh-oleh untuk orang-orang terdekat. Saya hanya penasaran seperti apa “Ladies Market” itu. Ternyata tidak jauh beda dengan pasar Tanah Abang dengan barang-barang ala Mangga Dua. Kalau mau pergi ke China, saya sarankan tidak belanja disini, karena barang-barang yang sama bisa diperoleh dengan harga lebih murah di China. Kecuali anda ingin membeli kaus dengan tulisan “Hong Kong” misalnya. Ini terjadi pada teman saya Alyson. Dia sehari sebelum ke Shenzen membeli Cheongsam seharga 100 HKD,setelah dia ke shenzen untuk baju yang sama bisa diperoleh dengan harga 20 yuan saja. Nyesek ngga tuh? Barang yang saya beli di Ladies Market adalah magnet kulkas, gantungan kunci dan replika landmark Hong Kong yang entahlah apa itu. Awalnya saya cuma tanya harga, ternyata oleh si penjual tangan saya ditarik-tarik harus beli. Akhirnya terjadilah pergulatan harga, karena dia memberikan harga yang tinggi. Akhirnya 160 HKD melayang dr dompet. Kapok.

Menjelang sore hari, saya dan suami memutuskan untuk ke Disneyland. Tidak masuk, hanya berfoto saja, karena waktu dan memang saya kurang berminat. Dari Mongkok ke Disneyland biaya untuk naik MRT adalah sekitar 30 HKD. Di dalam MRT saya berkenalan dengan seorang TKW yang trendi, berambut cepak, jaket sporty, bersendal warna-warni. Awalnya saya bertanya arah, tapi kemudian pecakapan berkembang menjadi lebih seru.
“Mba… asalnya dari mana?”
“saya asalnya dari Semarang, ma…”
“Kerja di sini sudah lama?”
“sudah 4 tahun ma… di macau setahun ma… di Hongkong 3 tahun ma…”
“sekarang ini mau kemana?”
“saya kabur ma…”
“loh kok kabur? kenapa?”
“Majikan saya galak ma… kalau kitanya berani majikan tidak macam-macam ma… tapi kalau kita takut majikan macam-macam ma…”
“wah… semoga dapat majika yang baik yah”
“makasih”
Dari percakapan diatas adakah hal yang aneh? Yup, setiap akhir kalimat, dia membubuhkan kata “ma”. Buat saya terdengar aneh di awal, tetapi saya memahami kalau dia sudah terbiasa dengan pola bercakap-cakap seperti itu setelah bertahun-tahun tinggal di negeri orang. Usianya masih muda, sepantaran adik saya. Tetapi wajahnya menyiratkan perjuangan hidup yang berat. Dia bilang dia menguasai banyak bahasa, Inggris, Mandarin, Hokkian, Canton. Semoga dia baik-baik saja.

MRT yang menuju ke Disneyland unik sekali. Bangku yang berwarna biru tua mirip sofa, ada patung-patung Guffi, Donald, Mickey. Singkat cerita, sampai sana kita hanya berfoto-foto saja pelataran Disneyland dan pulang kembali ke arah Tsim Tsa Tsui karena saya ingin sekali melihat Hong Kong waktu malam dan melihat Simphony of Lights.

Simphony of Lights (SL) adalah pertunjukan cahaya laser yang ditembakkan dari sekitar 40 gedung bertingkat di Hong Kong pada tepat jam 8 malam. Lokasi terbaik untuk melihat menurut saya adalah di Avenue of The Stars. Seitar jam 7 saya sudah on the spot. Duduk-duduk sambil menikmati malam, tapi saya sarankan untuk menggunakan pakaian yang tebal, karena dingin sekali. SL tidak bisa dinikmati ketika cuaca buruk karena Hong Kong sering dilanda taifun. Menurut saya SL tidaklah terlalu istimewa. Tapi saya kagum dengan pariwisata Hong Kong yang memiliki ide tersebut. Jam 8 malam, ATS penuh sesak. Banyak pasangan-pasangan yang beromantis-romantis ria, bahkan di sebelah saya sedang berciuman. Tidak peduli banyak pasang mata mengamati.

Jelang pukul 9, saya panik. Karena uang di dompet tidak cukup untuk membeli tiket ferry pulang ke macau. Selain itu karena lapar juga. he he he. Thank God, ternyata kita bisa membeli tiket pake kartu kredit. Mungkin karena malam, tiket  ferry dari Kowloon menuju ke Macau menjadi lebih mahal yaitu 168 HKD. Ferry terakhir dari Hongkong ke Macau adalah jam 21.30. Setelah membeli makan, saya tidur nyenyak di ferry setelah sempat mimisan karena kedinginan. Sampai di Macau ferry terminal, kembali naik Shuttle bus ke Grand Lisboa, jalan kaki sampai hostel dan berakhirlah petualangan hari itu.

Happy Traveling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: