Ayu Galuh Anggraini

Kompetisi Ala Penumpang Transjakarta

In sekitarku on July 11, 2011 at 10:05 am

 

Percakapan suatu hari, jam pulang kantor.

“Mas, ih liat tuh Transjakarta-nya ruame banget”
“Iyah, kan pada pulang kantor”
“Dijejelin terus yah, kayak aquarium kepenuhan ikan”
“hahaa…. Resiko”
“Aku mah ogah naik kalau jubel-jubelan kayak gitu”

Percakapan terhenti. Saya terus saja memandangi manusia-manusia yang bergelantungan di dalam bis. Penuh. Sesak. Tanpa sadar saya tarik nafas panjang. Saya mendadak jadi melankolis, super galau. Transjakarta berlalu dimata saya dalam gerakan slow motion berserta puluhan manusia yang tersesat di dalamnya.

Beberapa bulan kemudian…..

“Ayu, jadi naik Transjakarta?”
“Iyah… mau gak mau. Mana antriannya panjang banget lagi”
“Naik kopaja ajah?”
“Liat ntar aja deh..”

Benar, saya telah terdampar dalam situasi yang membuat saya harus menggunakan jasa Transjakarta setiap hari. Berangkat siang atau sore dan pulang sekitar jam 7 atau jam 8 malam. Saya telah dipaksa menjilat ludah sendiri, dipaksa untuk menerima keadaan. Naik atau terlantar. Kegencet atau terjebak dalam kemacetan yang mengular naga panjangnya.

Selama ini saya berada dalam comfort zone, dengan rutinitas yang jarang melibatkan trasportasi massal yang pada saat-saat tertentu sangatlah tidak manusiawi meskipun diperuntukkan untuk manusia. Saya dan berjuta warga Jakarta harus bersaing, berkompetisi dan berjuang bukan di kantor atau di sekolah, tetapi di jalanan. Demi mendapatkan tempat yang nyaman, bisa duduk ataupun sekedar posisi yang enak untuk bersandar, saya harus belajar tutup mata dan tutup telinga. Meskipun seringnya saya tidak tega melihat perempuan lain berdiri di depan saya yang (sedang) beruntung bisa duduk.

Tak jarang saya merutuki anak-anak muda, lelaki muda yang dengan santainya duduk sedangkan ada ibu-ibu setengah baya yang berjuang setengah mati menyeimbangkan badan di bus transjakarta yang kadang susah saya bedakan kelasnya dengan mikrolet atau kopaja. Berdiri di bus itu butuh keahlian yang tidak sembarangan. Kaki, tangan dan seluruh tubuh harus berkoordinasi dengan sempurna. Jika tidak, bisa dipastikan pulang menanggung sakit di badan dan malu. Soal satu ini warga Jakarta sudah tidak bisa ditandingi lagi keahliannya.

Saya juga pernah menjadi saksi kompetisi yang tidak sehat antara penumpang transjakarta. Pura-pura hamil salah satunya. Well saya tahu bedanya mana yang hamil beneran mana yang pura-pura dengan memanfaatkan lemak berlebih yang nongol di perut. Bolehlah anda bilang saya sarkastik, tapi begitulah keadaannya.

Ada pula kisah “hamil” yang lain. Seorang laki-laki muda ganteng klimis dan super necis sedang duduk diantara dua perempuan. Masuklah seorang perempuan bertubuh subur. Si mas itu menyapa si mbak tubuh subur:

“Mbak.. lagi hamil yah?”
“Ngga mas”
“oh, ya sudah”

Si mas ganteng itu mengukuhkan kembali tahtanya dalam bis transjakarta hanya karena perempuan itu tidak hamil. Dia kembali menjalankan kelicikan selanjutnya, pura-pura tidur. Dia tidak tahu bahwa saat itu juga kegantengannya bukan apa-apa dimata para wanita. Sadar atau tidak saya dan perempuan lainnya memandang dia dengan tatapan yang menghina dina. Kasihan. Saya sinis sekali ya…

Terjebak di dunia kecil yang baru bernama bus Transjakarta mengajarkan kepada saya banyak hal. Bukan hanya hal-hal klasik semacam kesabaran dan tolong menolong, tetapi juga kelicikan. Hanya untuk mendapatkan kursi di bus saja harus dorong-dorongan, sikut-sikutan, cuek, egois apalagi ditataran atas. Maksud saya disini adalah untuk mendapatkan kursi yang lain alias jabatan. Semuanya akan dirasa halal demi mengenakkan diri sendiri demi sebuah posisi.

Saya pandangi stiker kumal di kaca bus. “Saya malu duduk ketika ada anak-anak, perempuan, lansia dan orang cacat berdiri”. Simple tapi bermakna dalam. Bisa juga diartikan saya malu makan enak sementara tetangga kita kelaparan. Saya malu belanja baju setiap hari sementara diujung gang sana ada anak yang tidak punya seragam untuk sekolah. Saya malu korupsi, karena uang itu bisa berarti sejumlah kepala TKI yang akan dipancung.

Saya beruntung sebentar lagi kursus saya selesai yang artinya saya tidak perlu berjibaku lagi dengan bus itu, dan hati nurani saya. Sementara ini, untuk mengusir resah, biarlah saya asik dengan MP3 player saya yang memutar sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Ingrid Michaelson yang berjudul “Turn to Stone”.

Let’s take a better look
Beyond a story book
And learn our souls are all we own
Before we turn to stone

Let’s go to sleep with clearer heads
And hearts to big to fit our beds
And maybe we won’t feel so alone
Before we turn to stone

And if you wait for someone else’s hand
And you will surely fall down
And if you wait for someone else’s hand
You’ll fall
You’ll fall

I know that I am nothing new
There’s so much more than me and you
But brother how we must atone
Before we turn to stone

  1. bweeehh… ganteng2 licik, hehehe…

  2. bwahahahaha..
    pasturdra a.k.a pasaran turun drastis!!
    ilfeel… ewww

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: