Ayu Galuh Anggraini

Pijit – Pijet – Pijat

In Random Things of Me on June 10, 2011 at 3:31 pm

Seharian kerja apalagi di lapangan membuat tubuh ini bekerja extra keras pula. Memacu produksi asam laktat yang menimbulkan rasa lelah. Badan pegal-pegal disemua bagian, kepala berkunang-kunang, yang paling parah bisa demam juga karena kecapaian. Kalau sudah begitu pertolongan awal pada kondisi ini adalah cari tukang pijat, tukang urut, atau apapun namanya. Berdasarkan pengalamanku baik yang enak maupun ngga enak ada beberapa jenis tukang pijat yang biasa ditemui.

Tukang pijat plus dukun

Ini pengalaman burukku dengan tukang pijat model begini. Suatu hari ada tukang pijat yang katanya biasa datang dan jadi langganan anak kost. Emang badan lagi pegel-pegel kucoba saja dipijat oleh si ibu yang berasal dari jawa tengah dan ke Jakarta hanya untuk seharian memijat, lalu pulang lagi ke Jawa Tengah. Busyeeet, udah kayak pulang pergi rumah ke kantor ajah kali yah???? Karena selalu pulang pergi itulah si ibu ini hanya datang seminggu sekali dan dia mengklaim bahwa satu komplek selalu memakai jasa dia. Pas dipijat awalnya ngga ada yang aneh, eh lama-lama keluarlah suara-suara aneh dari bibirnya. Ya Allah aku dijampe-jampein!!! Komat-kamit tuh ibu ngga karuan entah apa yang dibaca sambil terus ngurut. Urutannya juga ngga enak sama sekali. “wah bisa berabe negh”, aku pikir. Lama-lama aku ngomel juga karena was-wes-wosnya itu kuenceeeng banget. Bukannya enak malah menganggu. Dia bilang, “tenang mbak, di kamar ini feng shui-nya ngga bagus, auranya juga, jadi mbak sering pegel-pegel”. “Bu, jelas saya pegel-pegel, tiap hari kerja dan harus tugas lapangan”. Balasku dengan sedikit sewot. Akhirnya aku memutuskan menghentikan pijat aneh ini. Mana bayarnya mahal banget lagi, belum ada 15 menit uang 50 ribuku melayang dengan sukses. Keesokan harinya badanku bukan enakan malahan tambah pegel-pegel. Sebulan kemudian, pembantu kost nawarin si ibu lagi buat mijit, dengan lantang aku bilang, “NO WAY!!!”.

Tukang Pijat Bersendawa.

Aneh memang, namun aku pernah mendapati tukang pijat yang seperti ini ditahun pertama aku hijrah ke Jakarta. Seorang ibu yang berperawakan besar datang ke kostku. Karena rekomendasi dari pembantu aku sih oke-oke ajah. Aku Cuma pengen dipijat di bagian kaki aja, soalnya kakiku memang pegel banget. Dilihat dari perawakannya aku bisa menduga, “mantep nih”. Memang benar sih, kuat sekali ngurutnya, sekuat SENDAWANYA!!! Heeegggg…gleeeekkk…. berulang-ulang, dengan alasan angin dari kakiku keluar lewat badannya (mulutnya) dengan cara sendawa atau glegek’an itu. Aku sih maklum-maklum aja, tapi lama-lama jijik juga. Mual rasanya mendengarkan suara sendawa yang keras dengan intensitas yang tinggi. Aku buru-buru menyudahi sesi pijat aneh ini. Biayanya 20 ribu padahal belum 10 menit. Capee deh. Buru-buru aku ke kamar mandi lalu nyemprot seisi kamar dengan pewangi ruangan yang sedari tadi udah dihiasi hawa sendawa itu. Eeuuuuggghhhh…..disguisting!!!

Tukang Pijat Plus-plus

Ini pengalaman horror aku, waktu masih kuliah dulu di malang. Waktu itu hujan rintik-rintik dan lagi ngga ada kuliah. Iseng-iseng anak kost manggil tukang pijat dari brosur yang terselip beberapa hari sebelumnya dibawah pintu kamar. Ting…tong.. ngga lama si tukang pijat datang. Aku kaget, “lho..kok cowo??”. Temanku yang lain berbisik, “cakep juga tukang pijatnya…he..he…”. Nah kami putuskan dipijit di ruang tamu saja, karena cowok ngga boleh masuk kamar kecuali saudara dan memang ibu kost sedari tadi mengintip di balik kelambunya yang dekil itu. Sedari awal aku merasa ada yang aneh dengan tukang pijat ini makanya aku memutuskan ngga jadi dipijat. Mbak-mbak kost yang lain udah pada keenakan dipijat, sampai tiba pada giliran mbak kostku yang paling cantik. Si tukang pijat ini entah kenapa kok malah sengaja menyalahgunakan wewenangnya dengan pura-pura ngga sengaja menyenggol bagian yang “forbidden”. Jelas saja mbak kostku dengan garang mendaratkan sebuah salam perkenalan di pipi si kurang ajar itu, “PLAKKK!!”. Mbak kost misuh-misuh sambil tangannya tetep mukulin si cowo yang pasrah digebukin ama yang lain juga. “Untung aku lolos, mbak”, ujarku kepada mbak kostku itu. Endingnya si cowo pulang dengan tangan hampa tanpa bayaran sepeserpun dari kami semua…gara-gara kemesuman dan “mbathi”-nya itu.

Tukang Pijat di Mall

Tukang pijat seperti ini bisa ditemui di tempat pijat reflexi. Biasanya yang mijat cowok, pemijat perempuan juga ada tapi paling-paling hanya seorang atau dua orang tiap shift. Entah kenapa kok lebih sedikit, seharusnya sih harus balance antara pemijat cowok dan pemijat ceweknya. Kadang memang perempuan lebih nyaman jika yang memijat sesama perempuan untuk menghindari indikasi timbulnya tukang pijat tipe ketiga diatas. Ruangan pijat reflexy biasanya dibuat remang-remang dengan alunan musik instrumental yang mendayu-dayu. Aku paling sebel kalo orang di sebelahku keenakan dipijat dan NGOROK dengan riang gembira. Belum lagi ditengah-tengah memijat ada yang terima telpon dengan kuenceeeng… dengan ringtone Kucing Garong. Alamak.. norak bener, kaya ngga ada orang lain ajah, please di-silent mode donk!!!

Tukang Pijat Salon.

Biasanya di salon langgananku pemijatnya memang lelaki “melambai”, yang kalo dikagetin keluarlah semua umpatan-umpatan khas 17 tahun keatas. Aku hanya bisa tersenyum simpul. Tapi pernah aku menjelajahi salon baru di bilangan Tebet atas rekomendasi teman, dan aku mengambil paket creambath plus reflexy. Untuk creambath, sebut saja ditangani oleh mbak A, dan untuk reflexy aku ditangani oleh mbak B. Si mbak A ini kayaknya orangnya angina-anginan, memang sejak awal masuk ke salon ini rame banget yang nyalon cuma pegawainya kok lebih mirip pembantu di kostku daripada seorang kapster. Mereka banyak yang ngerumpi dan duduk-duduk di dekat kursi konsumen. Intinya mengganggu kenyamanan lah. Kembali ke si mbak A, karena angina-anginan itu leherku malah pegel-pegel dipijat. Rambutku juga banyak yang tercabut dengan paksa. Nah, aku mengharapkan mbak B bisa menjalankan tugasnya lebih baik dari mbak A. Ternyata yang ini lebih parah. Mbak B ini rupanya sedang pilek, sedikit-sedikit nyeka hidungnya, parahnya habis nyeka hidung dia mijitin kakiku lagi. Mana ngga ada rasanya dipijat, yang kerasa malahan panasnya param kocok yang dibubuhkan ke kakiku. The worst experience ever!!!

Tukang Pijat Plus Maling!!!

Ini jenis tukang pijat yang memang paling bikin sebel. Untungnya bukan aku yang mengalaminya tetapi mamaku. Mama menceritakan padaku dengan berapi-api bahwa suatu hari badan mama sakit semua (maklum udah tua) dan seorang tetangga menyarankan seorang tukang pijat sebagai pertolongan pertama. Nah, mama percaya saja karena memang sejujurnya mama dan papa baru pindah ke lingkungan yang baru. Pijatannya sih enak banget, telaten, jari jemarinya mantep memijat seluruh titik-titik tubuh yang tersumbat dan bikin sakit. Sewaktu mama ke kamar untuk ganti baju, si ibu tukang pijat ini ternyata terampil juga memainkan jari-jarinya di dompet mama yang waktu itu diletakkan diatas kulkas. Mama baru sadar uangnya hilang setelah merogoh dompet untuk membayar jasa tukang pijat sialan ini. Rp. 600.000 raib seketika…bayaran yang paling mahal untuk seorang tukang pijat. Mama langsung saja menuduh dan dia jelas mengelak (mana ada maling ngaku). Begonya di dompet mama yang terbuat dari kulit itu belepotanlah jejak jari tangan berminyak. Entah bagaimana ceritanya yang mengganti uang mama yang hilang adalah tetangga yang merekomendasikan tukang pijat plus maling itu.

Tukang Pijat Keseleo

Ini tukang pijat UGD, kalo aku keseleo. Jauh sih di Bogor, karena aku ngga percaya 100% tukang pijat Jakarta. Ngga sebanding dengan perjalanannya dan antrinya, di dalam ruangan oleh si ibu aku Cuma dipijat selama kurang lebih 10 menit dengan biaya 50 ribu tapi memang langsung sakitnya hilang. Malahan kalo keseleo sepele pijatnya kurang dari 5 menit. Hebaattt!!!

Diantara semuanya memang aku merindukan tukang pijat tulen langgananku di kampung halaman tercinta. Biarpun kadang si ibu berlagak dokter, karena pijatannya memang enak dan biayanya murah (20 ribu untuk 2 jam) aku selalu ketagihan untuk dipijat berulang-ulang. Seharian si ibu bisa ngetem di rumahku karena memang satu keluarga bergiliran menunggu untuk dipijat. I really miss you bu yayuk… he… he…

Note:

Ini sebenernya tulisan lama di blog saya yang satunya… pada saat ini tarif bu yayuk naik.. hehehehe.. dah laris soalnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: